
Brin menggelengkan kepalanya.
"Kematian Larissa sudah takdir. Bukan karena siapa-siapa. Belajarlah menerima semuanya Vin" ucap Brin sambil menepuk lengan sahabatnya itu.
Gavin akui hingga kini dia belum bisa menerima dengan ikhlas kematian istrinya. Gavin masih belum menyangka kalau Larissa akan pergi secepat itu.
"Lekaslah sembuh dan tebus kesalahanmu pada Clara. Perlakukan dia layaknya seorang putri yang kamu sayangi." ucap Brin pula.
Gavin tanpa sadar meneteskan air matanya. Dia sangat menyesal karena selama ini begitu keras pada Clara.
"Maafkan Papa ya nak" gumam Gavin dalam hati.
...----------------...
Clara saat ini sedang menikmati teh di taman mawar milik Vania. Vania begitu menyukai bunga mawar hingga Brin membuatkan taman ini khusus untuk istrinya.
Tadi Clara ditemani Vania ditaman itu, tapi Vania ada urusan hingga terpaksa meninggalkan Clara seorang diri di rumah.
Clara terus melihat jam di pergelangan tanyannya. Baru beberapa jam ditinggal bekerja oleh suaminya dia sudah merasa begitu rindu.
"Sayang... Cepat pulang" gumam Clara sendu. Entah sejak kapan Clara berubah menjadi begitu manja seperti ini. Dia tidak bisa jauh-jauh dari suaminya.
Mungkin karena biasanya merek pergi bekerja bersama tapi karena kehamilan ini membuat Clara tidak diperbolehkan untuk bekerja kembali sampai batas waktu yang belum Ethan pastikan kapan.
Hingga di jam lima lebih 20 menit akhirnya Ethan sampai di rumah. Mendengar suara mobil memasuki rumah membuat Clara langsung sumbringah. Dia bahkan berlari kecil menuju pintu utama.
Benar saja, suaminya baru saja memasuki rumah.
Melihat istrinya setengah berlari membuat Ethan gemas sendiri. Tapi dia juga khawatir karena Clara baru saja pendarahan.
"Aku kangen" ucap Clara sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Ethan.
"Aku juga rindu sekali dengan istriku yang cantik ini" balas Ethan sambil mencium puncak kepala istrinya.
"Kalau rindu kenapa tidak ada menghubungi sama sekali?" tanya Clara dengan wajah sendunya.
Ethan tertawa kecil. Dia suka sekali melihat expresi wajah Clara yang menggemaskan ini. Dan dia semakin senang karena Clara hanya menunjukkan ini padanya. Orang-orang tidak akan menyangka kalau Clara mempunyai sifat lucu, manja dan menggemaskan seperti ini.
"Tadi ada meeting dengan Pak Benny, banyak sekali yang dia revisi. Maaf ya" jawab Ethan lalu kembali menghadiahi kecupan di kening istrinya.
"Kamu bosan ya sendiri di rumah?" tanya Ethan yang sepertinya paham dengan keadaan istrinya.
Clara pun menganggukkan kepala.
"Sabar dulu sampai kandunganmu cukup kuat ya? Nanti kamu boleh ikut bekerja. Tapi tidak boleh kemana-mana. Hanya di kantor saja".
"Yeeyyy..." Clara sampai bertepuk tangan saking bahagianya mendengar itu dari Ethan.
Ethan kembali tersenyum. Semakin hari dia semakin mencintai istrinya. Wanita yang dulu dia tolak kehadirannya dalam kehidupannya tapi sekarang wanita ini adalah wanita yang begitu berharga dan begitu dia cintai.
Ethan merangkul istrinya untuk masuk ke dalam kamar.
"Aku mau makan pizza, tapi makannya di luar" rengek Clara manja.
Ethan geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Ternyata hamil bisa membuatmu berubah 180 derajat" gumam Ethan dalam hati.
Bersambung...