
Saat dalam perjalanan ke kantornya tadi, Ethan tidak sengaja melihat Chila sedang berjalan seorang diri di trotoar di taman kota. Chila terlihat tidak baik-baik saja, wajahnya sembab dan tampak menangis. Ethan sengaja tidak memberitahu Clara karena saat ini Clara pun pikirannya masih kacau setelah mendengar perkataan Gavin tentang anak.
Saat Ethan kembali ke taman kota dia tidak melihat keberadaan Chila lagi.
“Kemana perginya?” gumam Ethan.
“Sebenarnya ada apa ya? Kenapa terasa sangat aneh? Pertama mereka berdua tidak lagi tinggal di rumah papanya yang lebih aneh lagi mereka tinggal di apartemen berbeda. Apa aku tanya Arlan saja? Dia pasti tau kan?” gumam Ethan lalu hendak kembali ke kantor. Tapi saat melihat Chila di seberang jalan. Ethan pun mengurungkan niatnya.
Ethan memilih menemui Chila.
“Chila…” panggil Ethan sambil melambaikan tangannya.
Mendengar namanya dipanggil Chila pun membalik tubuhnya.
“Kak Ethan?” ucap Chila yang tidak menyangka melihat Ethan berada disini.
Ethan menghampiri Chila yang terlihat terkejut itu.
“Kamu kenapa disini?” tanya Ethan saat dia sudah berada di dekat Chila.
“Aku hanya jalan-jalan kak” jawab Chila tersenyum manis.
“Jalan-jalan di siang bolong seperti ini?” tanya Ethan tak habis pikir.
Chila hanya tersenyum kecil.
“Kakak sendiri kenapa disini?” tanya Chila mengalihkan pembicaraan.
“Aku melihatmu tadi makanya aku kesini.” jawab Ethan apa adanya.
“Apa kakak sudah bilang kalau menemuiku pada kak Clara? Aku tidak mau kak Clara salah paham” ucap Chila.
Ethan pun menggelengkan kepalanya.
“Mencintai orang yang mencintai orang lain itu sangat menyakitkan kak rasanya. Aku sekarang dalam keadaan seperti itu. Aku tidak ingin kakakku juga merasakan hal yang sama” ucap Chila. Walau Ethan tidak pernah menyatakan perasaannya secara langsung tapi Chila tau kalau Ethan menaruh hati padanya. Apalagi Gavin sudah mengatakan padanya kalau Ethan lebih memilih dijodohkan dengan dirinya daripada kakaknya.
Betapa baiknya dia tapi kenapa Clara sering memarahinya ya? ucap Ethan dalam hati.
Chila berpikir sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengambil foto mereka dan dikirimkan pada Clara.
Clara yang saat ini sedang berdiskusi dengan Arlan begitu terkejut melihat foto yang baru dia terima. Pengirimnya pun nomor yang tidak dia kenali.
Melihat expresi terkejut dari Clara membuat Arlan bertanya-tanya.
“Kenapa?” tanya Arlan khawatir.
Clara menggeleng.
“Tidak ada apa-apa” jawab Clara dengan tersenyum.
Saat itu juga pesan ada pesan dari Ethan masuk pada ponselnya.
Nanti Kamu pulanglah dulu, aku masih ada urusan. Tulis Ethan pada pesannya.
Clara tersenyum miris.
Hahaha… belum sehari kami menjadi suami istri dia sudah berbuat seperti ini padaku. Ternyata urusannya adalah bertemu dengan Chila.
Clara menangis dan tertawa disaat bersamaan di dalam hati. Miris sekali nasib pernikahannya.
Arlan pandangi wajah Clara yang terlihat tidak baik-baik saja itu.
Kamu kenapa Clara? Kamu sudah menjadi istri orang dan aku harus tau diri agar menjauh darimu, tapi bagaimana caranya? Aku terlalu mencintaimu Clara. Sampai saat ini namamu masih terus ada di dalam hatiku walau aku sudah berusaha menyelipkan nama wanita lain dihatiku.
Arlan terus menguatkan dirinya agar bisa merelakan Clara. Cinta pertama memang sulit dilupakan dan jarang bisa berakhir menjadi cinta terakhir. Semakin sulit bagi Arlan melupakan Clara karena Clara belum menemukan kebahagiaannya.
Andai saja Ethan bisa membahagiakanmu, aku pasti bisa merelakanmu untuknya.
Bersambung...