My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Hadiah Dari Mama



Mungkin efek tidur seharian membuat hingga saat ini Clara belum bisa memejamkan matanya.  Clara tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamar milik Ethan.


Ethan sebenarnya sudah begitu mengantuk, tapi melihat Clara yang masih terjaga dia pun terpaksa menahan keinginannya untuk tidur.


“Kenapa belum tidur?” tanya Ethan dengan suara yang sudah terdengar serak.


“Belum mengantuk. Kamu tidur saja duluan” jawab Clara sambil tersenyum.


Ethan malah mendekatkan tubuhnya dan memeluk istrinya.


“Ayo tidur” ucapnya sambil mengelus-elus rambut Clara yang berada dalam pelukannya.


Kenapa dia sekarang menjadi perhatian seperti ini? Apa dia menjadikanku sebagai pelariannya? Ucap Clara dalam hati.


Clara tidak percaya kalau Ethan benar-benar akan membuka hatinya secepat ini. Baru saja kemarin dia mengetahui fakta kalau wanita yang dia cintai telah menikah, tidak mungkin dalam hitungan hari dirinya sudah bisa merelakan itu semua.


Niatnya ingin membuat Clara tertidur malah dirinya sendiri yang terbuai ke alam mimpi. Nafas Ethan terdengar teratur yang menandakan kalau dirinya memang sudah berada di alam lain.


Clara dongakkan wajahnya memandangi wajah Ethan yang terlihat damai dan tidak menyebalkan seperti biasanya.


"Kalau kamu memang menyukai Chila, kenapa tidak dari dulu kamu menyatakan perasaanmu?" gumam Clara dalam hati.


"Salahmu sendiri yang tidak sat set sat set hingga Chila akhirnya menjadi milik orang lain" lanjutnya.


"Hah..." Clara menghela nafas panjang. Dia lagi-lagi ingin menertawakan dirinya bila mengingat betapa mirisnya kehidupan yang dia jalani.


Mempunyai Papa yang seperti tidak menyayangi dirinya dan sekarang suaminya pun juga sama. Clara seperti orang yang tidak layak untuk dicintai.


Pelukan Ethan yang semakin erat membuat Clara semakin tidak bisa bergerak.


Andai saja apa yang kamu katakan bukan hanya wacana semata, aku pasti akan sangat bahagia.


Sayangnya sudah berulang kali kamu memintaku untuk menerima pernikahan ini tapi kamu sendiri yang belum bisa move on.


Apakah Chila adalah cinta pertamamu?.


Aku sendiri tidak tau siapa cinta pertamaku.


Aku tidak pernah berani untuk jatuh cinta karena kehidupanku harus mengikuti keinginan Papa.


Sekolah, karir bahkan suami semua Papa yang menentukan. Aku hanya bisa menurut tanpa bisa membantah sedikitpun.


...****************...


Clara tidak ingat jam berapa kemarin dia baru bisa tertidur. Mungkin selain karena dia tertidur seharian, tidur pertama kali di rumah Vania juga menjadi penyebab Clara susah tertidur.


Harusnya di hari pertama tinggal di rumah mertua, Clara bangun pagi-pagi, tapi hingga Ethan terbangun lebih dulu dia juga belum terbangun.


Clara bergumam pelan. Dia terusik walau belum terbangun.


"Ayo bangun kita sarapan" ucap Ethan sambil kembali mengelus pipi istrinya.


Mendengar kata sarapan membuat Clara langsung terjaga.


"Aku kesiangan ya?" ucap Clara panik.


"Nggak kok baru jam 7" jawab Ethan sambil tersenyum.


"What??? Aku kesingan" ucap Clara panik. Bisa-bisanya dihari pertama menginap dia bangun sesiang ini.


Clara bangkit dari duduknya dan hendak ke kamar mandi.


"Gak apa-apa Clara, Mama pasti maklum. Kamu kan baru sembuh" ucap Ethan menenangkan. Dia pun ikut beranjak dari tempat tidur.


Clara yang ingin mandi mengurungkan niatnya.


"Ethan.. Kopernya dimana? Kemarin kita kan sudah bawa 1 koper" ucap Clara yang baru mengingat tentang pakaiannya.


"Masih di mobil, biar aku ambil. Kamu mandi saja dulu" ucap Ethan dan keluar dari kamar.


Clara tidak langsung mandi. Dia melihat apakah ada jubah mandi atau tidak. Bila ada baru dia mau mandi. Untungnya di lemari ada beberapa jubah mandi.


Clara pun bisa tenang mandinya. Saat selesai mandi, Ethan sudah kembali tanpa membawa koper milik mereka.


"Mana kopernya?" tanya Clara karena Ethan malah membawa paper bag.


"Mobilnya dibawa Papa. Aneh sekali malah mobil aku yang dipakai" jawal Ethan keheranan.


"Terus nasib aku gimana ini?" Clara mulai panik.


Ethan kemudian menyerahkan sebuah paper bag pada Clara.


"Ini hadiah dari Mama. Pakaian baru sudah di laundry."


Clara menerima pakaian tersebut dengan mata berbinar. Beruntungnya dia karena Vania memberikan hadiah di waktu yang tepat.


Ethan tersenyum melihat Clara yang terburu-buru masuk ke dalam walk in closet.


"Lucu ternyata kalau panik begitu" gumam Ethan pelan.


Bersambung...