My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Mengawasi



Marlon yang awalnya ragu kemudian menjadi begitu antusias ketika melihat wajah Clara secara langsung.


"Ini memang spek bidadari" Marlon bergumam.


Saat ini Marlon sedang berada di lobby kantor Clara.


Clara yang baru saja datang dengan Ethan tentu saja sudah mampu mencuri perhatian Marlon.


"Kata Agnes Clara belum ada pasangan? Lalu siapa pria itu?" Marlon berucap dalam hati.


"Tapi dari gesture tubuh sepertinya memang mereka bukan pasangan kekasih. Kalau memang pasangan setidaknya mereka bergandengan tangan" Marlon kembali bergumam.


Kedatangan Marlon kesini bukan hanya untuk mencari tau lebih tentang Clara. Tapi dia juga melamar di salah satu perusahaan di gedung ini sebagai OB. Salah satu pekerjaan yang menerima mantan napi seperti dirinya. Sebenarnya kalau bukan karena saudaranya yang menjadi salah satu staff disana mungkin dia tidak akan diterima juga diperusahaan tersebut.


Tapi walau mempunyai orang dalam, Marlon tetap harus mengikuti serangkaian tes masuk.


Letak lantai kantor Clara dengan kantor Marlon pun berdekatan hingga Marlon semakin mudah untuk mengetahui lebih lanjut tentang Clara.


Ini sudah hari kedua Marlon mengamati Clara. Dan selama itu pula dia melihat Clara selalu ditemani oleh seorang pria.


"Agnes, kamu bilang Clara belum ada kekasih kan?" tanya Marlon melalui panggilan telepon.


"Iya, setauku dia tidak dekat dengan siapapun. Di Sosial media maupun di grup alumni juga tidak ada yang membahas tentang Clara yang memiliki kekasih" jawab Agnes berdasarkan apa yang dia tau.


"Tapi siapa pria yang sering bersamanya?" Marlon bertanya-tanya.


"Nanti sore baru bisa aku kirim. Aku harus menunggu mereka keluar gedung" ucap Marlon menjelaskan.


Agnes jadi penasaran siapa kira-kira pria yang sering bersama Clara.


"Siapa ya?" Agnes sedang menebak-nebak. Hingga akhirnya sekitar jam 5.30 sore Marlon mengirimkan foto Clara dengan seorang pria. Pria yang tentu saja Agnes tau itu siapa.


"Ethan? Sejak kapan mereka sedekat itu? Bukannya dulu Ethan sangat anti dengan Clara?".


"Tapi aku yakin mereka tidak ada hubungan apa-apa. Mungkin pekerjaan yang mengharuskan mereka sering pergi bersama".


Agnes kembali memandangi foto Ethan.


"Lama tidak bertemu, kamu semakin tampan saja. Andai saja aku tidak terlibat kasus ini, mungkin saat ini aku sudah menjadi istrimu Ethan. Aku masih mencintaimu" Tiba-tiba saja Agnes berlinang air mata. Dulu saat masih berstatus mahasiswa, Agnes sangat mengagumi Ethan. Tapi Ethan yang ketus dan jutek membuat Agnes tidak berani mendekatinya. Tapi sebelum sempat mendekati Ethan, insiden memalukan itu lebih dulu terjadi.


"Harusnya Arlan tidak menggagalkan rencanaku waktu itu. Sekarang semuanya sudah hancur. Aku sudah memiliki label mantan narapidana. Tidak ada kesempatan lagi buatku untuk mendapatkan hati Ethan".


Agnes yang saat ini sedang berada di tepi danau mengambil beberapa buah batu dan melemparkannya ke dalam danau.


"Hidupku sudah hancur dan aku tidak mau hancur sendirian. Kamu juga harus hancur Arlan. Kamu harus hancur.... Aku akan menghancurkan wanita yang paling kamu cintai. Aku akan membuatmu patah hati dan kehilangan semangat hidup. Aku berjanji akan menghacurkanmu Arlan... Tunggu pembalasanku" teriak Agnes kencang. Dia tidak peduli kalau di danau tersebut masih ada beberapa pengunjuny yang juga sedang menikmati keindahan danau.


Agnes tersenyum miring. Dia sangat yakin kalau rencanya kali ini pasti berhasil.


Bersambung...0