
Kondisi Ethan sudah pulih seratus persen. Kehadiran Clara menjadi obat yang paling mujarab untuk kesembuhannya. Clara sendiri juga kondisinya sudah berangsur membaik, tapi untuk berjaga-jaga dokter menyarankan dia untuk bedrest kurang lebih sebulan tidak boleh terlalu lelah. Sebenarnya Clara sudah bisa pulang sama seperti suaminya, tapi Ethan takut terjadi sesuatu lagi pada istri dan calon anaknya hingga dia memutuskan untuk melakukan rawat inap sampai wajah pucat Clara sedikit berkurang.
Clara sedang tertidur ketika Arlan memasuki ruangannya. Ethan sendiri duduk di sofa sambil melanjutkan pekerjaannya. Akibat kecelakaan maut itu semua produksi iklan diambil alih oleh Papanya.
"Kamu sudah makan?" tanya Arlan yang saat itu duduk disebelah Ethan. Dia membawa banyak makanan di tangannya.
Ethan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih " ucap Ethan saat Arlan menyodorkan makanan tersebut. Walau sudah makan dia tetap menerima pemberian Arlan.
"hm..aku ingin minta ijin padamu" ucap Arlan to the point.
Ethan menghentikan sejenak pekerjaannya sambil mengernyitkan keningnya.
"Ijin apa?" tanya Ethan penasaran.
"Aku ingin mengungkapkan perasaanku pada Clara agar aku lega" jawab Arlan sejujurnya.
"What?????" Ethan sangat terkejut mendengar permintaan Arlan.
"Aku tidak berniat sama sekali merebut dia darimu. Aku hanya ingin menyatakan perasaanku agar aku lega dan bisa segera menghapus nama nya dari hatiku".
"Walau ada niatan pun tidak akan bisa. Sampai kapanpun tidak akan aku biarkan itu terjadi" Ethan tidak bisa menutupi kekesalannya.
Bukannya marah Arlan malah tertawa.
"Iya kamu benar, aku cukup tau diri. Aku hanya ingin tidak ada penyesalan. Aku hanya ingin dia tau kalau aku pernah mencintainya".
Ethan benar-benar tidak habis pikir dengan Arlan. Biasanya orang-orang akan sengaja memendam dan menghapus secara perlahan-lahan. Ini malah ingin mengungkapkan agar lega.
Tapi Ethan tidak ingin egois. Dia dengan terpaksa setuju dan memberikan kesempatan kepada Arlan untuk jujur tentang perasaannya pada Clara.
"Ijinkan aku berbicara berdua dengannya" Arlan kembali memohon.
Ethan berdecak sebal tapi dia tetap menuruti permohonan Arlan. Ethan membangunkan istrinya dan meminta ijin untuk ke kantin sebentar.
Clara pun menganggukkan kepala.
Ethan mencium kening istrinya sebelum keluar dari ruangan tersebut. Tapi sebelumnya dia sudah meninggalkan ponselnya untuk merekam perbincangan diantara keduanya.
"Clara... Bagaimana keadaanmu?" tanya Arlan dan duduk di kursi yang ada disebelah ranjang Clara.
"Aku sudah lebih baik. Sebenarnya bisa rawat jalan tapi Ethan ingin agar kondisiku lebih stabil baru pulang setelahnya" jawab Clara.
"Iya memang lebih baik kamu dirawat dulu beberapa hari. Wajahmu saja masih pucat" Arlan menyetujui keinginan Ethan.
"Clara..." lanjutnya terjeda.
"Ya?" sahut Clara karena Arlan tidak kunjung melanjutkan ucapannya.
"Ada yang ingin aku sampaikan padamu" ucap Arlan setelah mengumpulkan keberanian.
Clara diam dan hanya mendengarkan.
Arlan kembali menarik dan mengeluarkan nafasnya dengan perlahan.
"Sebenarnya dari dulu aku mencintaimu. Tapi karena insiden itu aku tidak pernah berani untuk mengungkapkannya". Ucap Arlan memberanikan diri.
Clara nampak tersenyum.
"Kamu percaya dengan yang namanya takdir?" tanya Clara seraya tersenyum.
Arlan pun menganggukkan kepalanya.
"Inilah takdir yang sudah digariskan untuk kita."
"Dan kamu harus percaya kalau rencana Tuhan adalah yang terbaik".
"Kamu memiliki Friska. Puteri kecil yang begitu menggemaskan".
"Kamu juga memiliki istri yang cantik, lemah lembut, ceria dan penyayang seperti Chila".
"Belajarlah untuk menerima itu semua."
"Dan anggaplah kalau antara aku dan kamu itu hanya sebatas aku adalah wanita yang pernah kamu cintai".
Clara berucap panjang lebar.
"Kamu benar Clara."
"Aku akan mengenang mu sebagai wanita yang pernah aku cintai dan Aku adalah pria yang pernah mencintaimu" balas Arlan.
"Aku titip adikku padamu. Aku sangat yakin kamu adalah pria yang tepat untuknya. Yang bisa mengerti sifat kekanakannya. Terima kasih selama ini sudah begitu sabar padanya" ucap Clara pula.
"Ya kamu tenang saja. Aku akan menjaga nya sepenuh jiwa dan ragaku" sahut Arlan yang sekarang sudah sangat lega setelah bisa mengungkapkan isi hati yang selama bertahun-tahun dia pendam.
Bersambung...