My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Dipercepat



Ingin rasanya Clara mencakar-cakar wajah Ethan saat ini juga. Walau Clara merasa sedih dengan ucapan Ethan tapi dia tidak boleh lemah. Clara tidak mau harga dirinya diinjak-injak.


Clara memilih bungkam dan melanjutkan kegiatan memasaknya.


Ethan pun demikian, dia juga malas berdebat lagi dengan Clara.


Tiga puluh menit kemudian makan malam mereka sudah siap.


Clara menghidangkan dua menu yang dia buat di atas meja.


Sapi lada hitam dan tumis brokoli.


Ethan makan masakan Clara dengan begitu lahapnya.


"Pelan-pelan makannya , gak balakan ada yang merebut makanmu" tegur Clara karena Ethan makan dengan begitu cepat.


Ethan tidak peduli, masakan Clara terlalu enak dan dia juga begitu rindu memakan masakan Clara.


Sepulang dari apartemen Clara, Ethan menaiki tangga rumahnya sambil bersiul.


Mamanya yang ada di ruang TV langsung memanggil putranya itu.


"Ethan..." panggil sang Mama.


Ethan menghentikan langkahnya.


"Iya kenapa ma?" sahut Ethan dan mendekat ke arah Vania.


"Duduk dulu" ucap Vania memerintahkan putranya untuk duduk di sebelahnya.


"Darimana baru pulang? Kemarin sudah pulang larut, sekarang pulang terlambat lagi" lanjutnya.


"Dari apartemen Clara ma, kemana lagi aku selain kesana" jawab Ethan lalu merebahkan kepalanya di paha sang Ibu.


"Benar kamu dari sana? Kemarin Clara bilang kamu tidak disana " tanya Vania tidak percaya.


"Kemarin tidak, sekarang iya" balas Ethan sambil meminta mamanya untuk mengelus kepalanya.


"Tadi Papa Gavin kesini, beliau minta pernikahannya dipercepat. Di catatan sipil saja dulu. Nanti kalau kalian mau ada pesta bisa menyusul" ucap Vania menjelaskan.


"Kenapa mendadak sekali? Aku baru saja saling membuka diri" ucap Ethan terkejut.


"Ada alasan yang tidak bisa kami sampaikan. Tapi mau nanti atau kapanpun akan tetap saja. Kamu akan tetap menikah dengan Clara" jelas sang Mama.


"Kenapa sih ma harus dijodohkan seperti ini? Aku bisa mencari jodohku sendiri tanpa bantuan kalian" protes Ethan.


Vania menghela nafas berat.


"Sudah ada 3 lamaran dari pria mapan yang diterima Papa Gavin, artinya kalau kita tidak segera Clara bisa saja dijodohkan dengan salah satu diantara mereka. Kamu mau Clara menikah dengan pria lain?".


"Kalau Clara mau kenapa tidak?".


"Tapi mama yang tidak mau, dimana mama dapat menantu seperti Clara lagi?".


Ethan memutar bola matanya malas.


Tapi dia pun sebenarnya masih sangat bimbang akan perasaannya.


Ethan tidak yakin akan rela melihat Clara menikah dengan pria lain tapi disisi lain bagian hatinya belum bisa sepenuhnya melupakan Chila yang selama ini memenuhi hati dan jiwanya.


"Ma..kenapa mama tidak menjodohkanku dengan Chila saja?".


"Memangnya Chila kurang baik menurut mama?" tanya Ethan pula.


Vania menepuk-nepuk pundak Ethan.


"Chila baik tapi mama yakin kalau Clara yang lebih cocok dan akan mengerti kamu. Walau Clara terlihat keras tapi dia adalah wanita yang penurut, berbeda dengan Chila yang lebih kekanakan dan susah diatur. Sekarang tugasmu untuk menarik hati Clara agar dia bisa jatuh cinta sama kamu" ucap Vania tegas.


Ethan tidak mengerti kenapa Mamanya selalu saja bilang kalau Chila susah diatur padahal Chila adalah gadis yang ramah dan lemah lembut.


"Berkas pernikahanmu sudah di urus. Besok kamu dan Clara akan langsung menikah di catatan sipil" ucap Vania memberitahu.


"Hah??? Secepat itu?" Ethan begitu terkejut karena pernikahannya dipercepat diluar prediksi.


"Pasti Arlan sudah tau tentang ini makanya tadi dia menanyakan tentang pernikahan. Kenapa si cunguk itu selalu tau lebih dulu" gumam Ethan dalam hati.


Bersambung...