My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Ada yang panas



Clara merasakan perutnya tertimpa sesuatu yang begitu berat hingga dia tidak bisa bergerak. Pelan-pelan dia membuka matanya dan melihat Ethan sedang memeluknya dengan begitu erat. Clara melepas belitan tangan Ethan di tubuhnya. Clara yakin kalau Ethan tidak sadar telah memeluk dirinya. Clara tidak ingin mendengar kata-kata yang menyakitkan hatinya kelak bila dia terbangun. Apalagi mendengar nanti kalau Clara lah yang sengaja membawa tangan Ethan untuk memeluk dirinya. No way... Clara tidak akan membiarkan itu terjadi.


Dengkuran halus masih terdengar yang artinya Ethan masih terbuai di alam mimpi. Clara turun dari tempat tidurnya dan segera membersihkan diri.


Dia langsung membawa pakaiannya ke dalam kamar mandi. Dia belum siap bila harus memakai jubah mandi saja saat menuju walk in closet miliknya.


Saat Clara selesai mandi, Ethan baru saja bangun tidur. Clara sama sekali tidak berniat menyapa suaminya. Clara memilih langsung merias diri. Clara sengaja akan membuat suaminya panas, Dia akan berdandan cantik karena akan bertemu dengan Benny.


Rambut Clara masih berbalut handuk sedangkan pakaiannya sudah diganti.


"Nanti kalau bajumu basah lagi bagaimana? Harusnya keringkan dulu rambutmu baru pakai baju" tegur Ethan saat kesadarannya sudah pulih.


"Iya" jawab Clara singkat.


Dulu sebelum menikah sudah pasti begitu, tidak mungkin dia sudah berpakaian di kamar mandi.


Ethan mendengus sebal. Pagi-pagi dia sudah harus berdebat dengan Clara, bukan berdebat tepatnya kesal sendiri karena Clara sama sekali tidak membalas kata-katanya.


Selesai mandi Ethan melihat Clara masih berdandan, dia terlihat berbeda dari biasanya. Clara juga sudah mengganti kembali pakaiannya. Dia yang awalnya memakai pakaian kerja seperti biasanya kini telah berganti dengan dress bermerk yang harganya tentu saja selangit. Ethan ingat pernah menemani mamanya berbelanja pakaian dengan merk yang sama seperti yang Clara kenakan saat ini.


Ethan tidak berkomentar lagi karena tidak mau pagi indahnya sudah diisi dengan perdebatan.


"Kamu mau sarapan apa?" tanya Clara tanpa melihat pada suaminya. Dia sedang memoleskan lipstick berwarna nude pada bibirnya yang sudah berwarna merah alami.


"Apa saja" jawab Ethan lalu menuju walk in closet untuk mengambil covernya. Tapi ternyata covernya sudah tidak ada.


"Clara...koperku dimana?" teriak Ethan dari dalam.


Ethan membuka lemari dan melihat pakaiannya sudah tertata rapi.


Ethan mengambil pakaiannya dan langsung mengenakannya. Penampilan Ethan pun tak kalah mempesona dari Clara.


Saat sudah selesai bersiap, Clara ternyata sudah tidak berada di dalam kamar. Ethan mengambil semua keperluan kantornya agar nanti tidak ke kamar lagi.


Di atas meja sudah tersaji krim sup, toast dan susu low fat. Sepertinya Clara tetap menjalanlan kewajibannya sebagai seorang istri walau dia kesal pada sang suami.


Ethan dan Clara makan dalam diam. Semuanya larut dalam pikiran masing-masing.


....


Saat keluar dari unit apartemen mereka , bertepatan dengan Benny yang juga keluar dari unit apartemen miliknya.


"Wow....bidadari dari mana ini?" puji Benny karena Clara memang sangat cantik pagi ini.


Mendengar kata pujian dari Benny untuk istrinya tentu saja membuat Ethan sedikit kesal.


"Terima kasih Pak Benny pujiannya, itu terlalu berlebihan" ucap Clara membalas kata-kata Benny. Clara bahkan tersenyum sangat manis saat mengatakan itu.


Ethan semakin merasakan ada yang panas dalam dirinya.


"Sepertinya aku harus membujuk Clara untuk tinggal di rumah Mama" gumam Ethan dalam hati.


Bersambung...