My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Rencana



Ethan rasanya tidak rela melepas istrinya pergi seorang diri untuk menemui Benny.


"Kamu jangan mau kalau dia minta jadi model iklannya lagi" ucap Ethan sambil merangkul pinggang istrinya. Saat ini mereka hanya berdua saja di ruangan kerja. Arlan belum terlihat batang hidungnya.


"Iya kamu tenang saja. Konsep iklan yang sekarang berbau action jadi sudah dipastikan kalau bintangnya adalah seorang pria" Ini sudah ketiga kalinya Clara menjelaskan pada suaminya, tapi Ethan terus saja terlihat tidak tenang.


"Ya sudah hati-hati, kabari kalau ada apa-apa" Ethan melepas kepergian istrinya dengan memberikan ciuman di puncak kepalanya.


Ethan tidak mengerti dia merasa tidak tenang melepas istrinya pergi seorang diri kesana.


Clara keluar dari gedung perusahaannya seorang diri sambil menunggu taxi pesanannya datang.


Marlon yang melihat itu merasa memiliki kesempatan untuk mendekati Clara. Dia dengan terpaksa harus membolos bekerja hari ini demi bisa mengikuti Clara. Marlon menghubungi rekan kerjanya yang libur dan memberikan bayaran lebih agar mau menggantikan dirinya.


Marlon bernapas lega karena ada salah satu temannya yang mau menggantikan walau dia harus membayar 2 kali lipat.


Marlon sudah siap di atas motor miliknya untuk mengikuti Clara. Dia juga sudah menghubungi Agnes untuk membantu menjalankan rencananya kali ini.


Kurang lebih 45 menit, Clara sudah sampai di kantor Benny. Marlon pun juga sudah sampai. Dia memarkir motornya di tempat yang paling dekat dengan pintu masuk agar mudah mengawasi Clara.


"Semakin hari semakin cantik saja" Marlon terus memandangi Clara yang saat ini sudah memasuki gedung.


Clara berjalan dengan percaya diri memasuki gedung mewah milik Manila Food tersebut. Dibandingkan perusahaannya yang masih menyewa gedung, tentu saja Manila Food ini sangat jauh diatas mereka.


Tapi jika dibandingkan dengan perusahaan milik Papa Clara, Manila Food masih berada beberapa tingkat dibawah Alexander Group yang sudah mendunia.


Benny menyambut kedatangan Clara yang sudah dia tunggu sejak tadi.


Clara yang pagi ini mengenakan pakaian serba putih terlihat semakin manis dan cantik di mata Benny.


Benny memang tidak bisa datang ke kantor Clara hari ini karena bertepatan dengan serangkain meeting yang juga akan di hadiri setelah pertemuannya dengan Clara.


"Pak Samuel tidak ikut bu?" tanya Benny pula.


"Tidak pak, Suami saya masih ada kerjaan lain" jawab Clara sambil tersenyum.


"Suami? Kalian sudah menikah?" Benny begitu terkejut mendengar kata suami yang keluar dari bibir Clara.


Clara mengangguk sambil tersenyum.


"Sudah pak, belum ada sebulan ini".


Benny seketika syok. Dia kira masih ada kesempatan untuk mendekati Clara tetapi ternyata sudah menjadi istri dari Samuel Ethan Brin.


"Selamat ya Bu" Benny mengulurkan tangannya guna memberi selamat.


"Terima kasih pak".


Benny mengubur ketertarikannya pada Clara dan memilih fokus pada pekerjaannya saja. Dia yang awalnya ingin mengubah konsep dengan menjadikan Clara kembali sebagai bintang iklannya pun mengurungkan niatnya.


Dia tidak mau merusak rumah tangga orang. Benny adalah pria yang berkomitmen. Bila sudah menjadi milik orang sangat pantang untuk merebutnya. Tapi bila belum berstatus suami istri masih bisa dia perjuangkan. Tapi sayangnya dia kalah cepat dengan Ethan.


Benny lagi-lagi tidak percaya kalau keluarga kaya raya seperti mereka malah menikah secara tertutup dan tanpa mengundang media.


"Masih tidak dipercaya" gumam Benny dalam hati.


Bersambung...