
Sekitar jam 11 siang, Clara sudah selesai meeting dengan Benny. Rencananya dia akan hunting beberapa barang untuk keperluan shooting selanjutnya.
Marlon sudah siap siaga di atas motornya. Dia akan mengikuti Clara lagi. Agnes sudah membayar orang untuk menghadang Clara di jalan dan Marlon ceritanya yang akan menolong Clara dari orang-orang tersebut.
Rencana awal untuk rencana-rencana hebat lainnya. Agnes akan melakukan inseminasi buatan sehingga Clara hamil anak Marlon. Dia tinggal membuat Clara pingsan dan membawanya ke rumah sakit milik teman dekatnya. Agnes sudah membayangkan kalau rencana besar ini akan berhasil.
Di depan Manila Group, Clara baru saja mendapatkan taxi nya. Setelah Clara sudah pergi dengan Taxinya, Marlon buru-buru mengikuti. Dia juga sudah mengirim lokasi terkini pada Agnes.
Clara tidak curiga sama sekali kalau dirinya diikuti seseorang. Yang dia pikirkan sekarang hanyalah pekerjaan saja.
Sambil menikmati pemandangan diluar, Clara terus memikirkan ide-ide baru yang bisa dia gunakan untuk konsep iklan berikutnya.
Perusahaan yang mereka kelola sudah semakin banyak peminatnya, Clara mulai berpikir untuk menambah staff yang bisa membantunya sebagai copy writter. Tidak mungkin lagi dia seorang sendiri dalam membuat skenario dan konsep iklan yang diinginkan.
"Sudah sampai bu" ucap driver taxi yang mengantar Clara.
Clara membayar tagihannya dan mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari taxi tersebut.
Pikiran Clara hanya fokus pada tempat tujuannya hingga dia tidak sadar kalau Marlon dengan setia membuntutinya.
"Cantik... Aku sudah tidak sabar menjadikanmu istriku" gumam Marlon sambil terus mengikuti Clara.
"Sebenarnya tidak tega juga harus berbuat seperti ini padamu, tapi bila tidak menggunakan cara licik seperti ini aku yakin tidak akan bisa mendapatkan bidadari seperti dirimu" Marlon terus bergumam.
Marlon benar-benar mengikuti kemanapun Clara pergi. Bahkan dia ikut memesan makanan di tempat Clara makan.
"Berapa uang ku habis gara-gara mengikuti dia. Dompetku menangis setelah makan disini" Marlon menangis dalam hati. Pasalnya restoran yang dimasuki Clara adalah restoran mewah yang harganya sudah dipastikan fantastis.
Selesai semua urusan, Clara pun akan kembali ke perusahaan.
"Sekaranglah saatnya" Marlon sudah tidak sabar menjalankan rencana pertamanya.
Orang-orang suruhan Agnes sudah bersiap menghadang mereka.
"Menepi!!" pekik preman suruhan Agnes tersebut.
Sopir taxi yang ditumpangi Clara tentu saja ketakutan dan memilih menepikan mobilnya.
Clara pun sebagai wanita ada rasa takut juga dalam dirinya, tapi dia tetap menampilkan wajah tegas agar tidak terlihat kalau saat ini dia juga sedikit takut.
Orang suruhan itu mengetuk pintu taxi dan meminta Clara untuk keluar.
"Keluar atau saya ledakkan mobil ini!" pekik Preman tersebut.
Driver taxi ketakutan. Tubuh dan wajah preman itu memang sangat menakutkan. Kulit hitam , rambut panjang, kumis dan jambang lebat. Otot-otot besar dan kekar dan penuh tato. Sekali lihat kita bisa menyimpulkan kalau orang itu sangat menyeramkan. Apalagi jumlahnya tidak hanya satu tapi tiga sekaligus.
Glek.
Clara menelan ludahnya kasar. Preman-preman itu semakin keras menggedor pintu taxi.
Clara menghela nafas dan dengan memberanikan diri keluar dari taxi tersebut.
Si sopir taxi malah menjalankan mobilnya dengan cepat setelah Clara keluar dari mobil.
Sial!
Clara berdecak sebal karena sopir tersebut tidak mempunyai rasa kemanusiaan sedikitpun. Dia malah membiarkan Clara menghadapi preman itu seorang diri.
Bersambung...