
Ethan langsung berlari keluar dari ruangan itu.
Sedangkan Arlan langsung menanyakan kronologi kejadian pada staffnya tersebut.
"Saya tadi dapat kabar dari polisi kalau ada bus mundur di tanjakan dan mobil tidak sempat menghindar sehingga mereka terdorong ke jurang" jelas staff tersebut.
"Security juga mengatakan kalau memang Bu Clara ikut di rombongan" lanjutnya.
Gavin merasa tiba-tiba dadanya sesak. Lagi dia harus kehilangan wanita yang dia sayangi.
Dia pegang dadanya yang terasa nyeri itu.
"Pa...papa kenapa?" tanya Arlan panik.
Gavin tidak bisa menjawab karena dia begitu sesak nafas. Dadanya berdebar tidak karuan.
Dengan dibantu staff tadi Arlan memapah mertuanya menuju rumah sakit terdekat.
"Ar... Susul Ethan... Papa takut Ethan tidak bisa mengontrol emosinya" pinta Gavin saat mereka sudah berada di institut gawat darurat di salah satu rumah sakit yang letaknya paling dekat dengan perusahaan.
"Tapi papa bagaimana?" tanya Arlan khawatir.
"Papa bisa telpon Chila atau asisten Papa nanti. Sekarang kamu susul Ethan dulu" pinta Gavin pula.
"Iya pa" Arlan mengangguk patuh dan segera menyusul Ethan.
Ethan sendiri jangan ditanya bagaimana kalutnya dia saat ini.
Ethan yang sudah lupa kapan terakhir kali dia menangis sekarang sudah menangis sejadi-jadinya. Dia berteriak-teriak karena semua ini terjadi karena kesalahan dirinya.
Harusnya tadi dia tidak bercanda dengan mertuanya. Ethan sama sekali tidak menyangka kalau Clara akan mendengar sepotong pembicaraannya. Padahal Ethan tidak lama menjeda ucapannya.
"Sayang...kamu salah paham".
"Aku mencintaimu sayang".
"Aku minta maaf".
"Aku tidak mau kehilanganmu sayang".
"Clara sayang...Maaf kalau selama ini aku sering seenaknya padamu".
"Maaf aku belum menyatakan perasaanku padamu".
"Tapi percayalah kalau aku begitu mencintaimu".
Ethan sudah meraung-raung.
Dadanya bergemuruh dan seperti ditusuk-tusuk.
Dia belum bisa menerima kenyataan kalau mobil yang ditumpangi istrinya terperosot ke dalam jurang.
"Ini semua salahku. Maafkan aku sayang".
Ethan terus meraung-raung dan memaki dirinya.
Saat tiba di lokasi. Polisi dan wartawan sudah ramai disana. Tim SAR dan relawan juga sudah dikerahkan untuk mencari para korban. Ada 2 mobil yang terperosot ke dalam jurang dan salah satunya adalah mobil yang di kendarai oleh Clara.
Ethan berlari dan ingin menerobos pita kuning yang sudah di bentangkan oleh polisi. Tapi dengan sigap polisi menahan pergerakannya. Bukan hanya satu melainkan 3 polisi sekaligus yang menahan Ethan agar tidak terjun.
Hal itu tentu saja menarik wartawan untuk merekam aksi nekat Ethan.
Ethan terus meronta-ronta agar diberikan untuk ikut membantu. Ethan berteriak-teriak memanggil nama Clara seperti orang gila.
"Sabar pak, Tim SAR sudah berupaya menemukan para korban. Bapak harus sabar" Ucap salah seorang polisi.
Ethan terus saja berteriak memanggil nama istrinya dan berucap kata maaf tiada habisnya.
"Tenang pak...tenangkan diri anda. Berdoa semoga istri anda segera ditemukan" ucap polisi tersebut menenangkan.
Tak berapa lama Arlan datang dan memeluk Ethan. Polisi pun melepas cengkraman mereka dari tubuh Ethan.
Dengan terduduk di aspal Ethan masih menangis dalam pelukan Arlan.
"Tenangkan dirimu, Clara pasti baik-baik saja" Arlan terus menenangkan Ethan walau dia tidak yakin kalau Clara masih bisa ditemukan dalam keadaan selamat mengingat mobil tersebut terperosot ke dalam jurang yang dalam.
Bersambung...