My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Boneka Papa



Selesai makan pagi sekaligus makan siang, Ethan baru menghubungi Arlan. Dia sampai menjauhkan ponsel dari telinganya karena Arlan memekik dengan begitu kerasnya.


“Niat kerja apa nggak sih? Bisa-bisanya hilang berdua tanpa mengabari. Enak banget ya kerja seenak hati” Arlan mengungkapkan kekesalannya.


“Clara sakit tidak bisa kerja” jawab Ethan sengaja agar Arlan tidak banyak berkata-kata. Dan memang itu terbukti pasti berhasil.


“Clara sakit apa?” tanya Arlan terdengar khawatir.


“CK. Masih saja dia mengkhawatirkan istri orang” ucap Ethan dalam hati.


“Hanya kecapean saja. Biasalah pengantin baru. Hoaammm… aku juga rasanya masih ngantuk” jawab Ethan dengan sengaja.


Deg.


Arlan mendadak merasakan panas di sekujur tubuhnya mendengar jawaban Ethan.


Tak ingin terlalu jauh mendengar cerita Ethan , Arlan pun mengakhiri panggilannya.


“Ya sudah sampai jumpa besok” jawab Arlan sebelum menutup panggilannya.


Ethan tersenyum menyeringai setelah selesai memberi kabar pada Arlan. Ethan ingin agar Arlan segera move on. Apalagi sudah ada anak diantara hubungan Arlan dengan Chila. Bisa-bisanya hingga kini mereka masih saja menyembunyikan status pernikahan.


“Eh.. Aku sendiri belum mengumumkan pernikahan” gumam Ethan pelan.


“Minggu depan sudah ketemu Benno Benny lagi, pesta pernikahan harus secepatnya aku selenggarakan” ucapnya pula.


Ethan meletakkan kembali ponselnya di saku celananya lalu menyusul istrinya yang saat ini sedang membuat kue bersama sang Mama.


“Cookies yang dulu kamu pernah titipkan ke Ethan itu enak banget rasanya. Tapi Mama cuma kebagian sedikit. Mama dan Papa baru coba setengahnya. Setengahnya lagi dihabiskan Ethan padahal dia sedang makan nasi goreng” ucap Vania mengenang masa lalu.


“Semoga cookies yang sekarang tidak dia habiskan juga” lanjut Vania sengaja menggoda putranya yang baru saja bergabung.


Clara hanya tersenyum kemudian kembali melanjutkan acara membuat kuenya. Ethan bisa melihat kalau Clara begitu menyukai yang namanya baking membaking serta masak memasak.


“Kenapa dia tidak mengambil jurusan yang sesuai dengan hobi nya saja ya?” tanya Ethan dalam hati.


Clara terlihat sangat cantik ketika sedang memasak dan Ethan yakin kalau sebenarnya Clara lebih menyukai bidang ini daripada pekerjaannya yang sekarang.


Vania begitu senang melihat putranya memandang Clara dengan tatapan berbeda. Vania kini yakin kalau sebenarnya Ethan sudah menyukai Clara hanya belum mau mengakuinya saja.


Melihat Ethan yang ikut membantu Clara membuat Vania meninggalkan keduanya. Vania tidak ingin menjadi pengganggu disana.


“Kenapa tidak mengambil jurusan baking and pastry saja dulu?” tanya Ethan penasaran.


Clara menoleh ke arah Ethan kemudian tersenyum.


“Aku tidak diperbolehkan mengambil jurusan lain selain yang aku ambil sekarang. Papa sudah menentukan aku harus kuliah dimana” jawab Clara sejujurnya. Ethan bisa melihat kalau Clara kecewa dengan keputusan yang Gavin ambil.


“Kalau Chila?” jujur Ethan menanyakan ini bukan karena kepikiran Chila. Dia hanya ingin tau apakah perlakuan Gavin pada Clara dan Chila itu sama tapi Clara menganggapnya berbeda. Clara mengira kalau Ethan peduli dan ingin tau lebih banyak tentang Chila.


Clara tersenyum kecut.


“Kalau Chila bisa menentukan sendiri dia mau apa. Papa tidak pernah melarang Chila melakukan apapun” jawab Clara tanpa melihat ke arah Ethan. Dia kembali melanjutkan aktivitas membuat kuenya daripada harus membahas tentang semua yang sudah terlanjur terjadi pada dirinya.


Deg.


“Kasihan sekali istriku. Dia benar-benar menjadi boneka Papa Gavin yang harus menuruti semua keinginannya. Tenang sayang… aku janji tidak akan pernah memaksamu lagi. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan mulai sekarang” ucap Ethan dalam hati.


Bersambung...