My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Maafkan Aku



Usapan lembut di puncak kepala Clara secara terus menerus dilakukan oleh Ethan. Dia masih setia menunggu pengakuan cinta dari istrinya. Tapi Clara sepertinya sengaja mengulur-ulur waktu. Dia memilih memperhatikan wajah suaminya lekat-lekat sambil tersenyum begitu manis.


Ethan dekatkan kembali wajahnya pada sang istri.


Lalu tatapannya turun pada perut sang istri yang masih rata.


"Dari masih belum lahir anak kita sudah melindungi mu, entah bagaimana jadinya kalau kamu jadi ikut dengan rombongan?" tatapan Ethan menerawang bila mengingat kejadian mengerikan itu.


"Terima kasih ya anak Papa. Kamu memang pahlawan. Sehat-sehat terus di dalam perut Mama ya" ucap Ethan terharu.


Clara tersenyum.


"Iya, anak kita memang penyelamat" ucap Clara menimpali.


Mereka kembali berpandangan dan saling melempar senyum.


"Aku ingin mandi, apa kamu bisa membantu memegang infusku?" Ethan baru tersadar kalau dia sangat bau saat ini.


Clara menganggukkan kepala. Arlan sudah menyiapkan semua keperluan mereka. Temannya itu memang sangat bisa diandalkan.


Di dalam kamar mandi Clara membantu memandikan suaminya tanpa canggung sama sekali.


"Andai boleh aku ingin memakanmu saat ini juga, sayangnya aku harus berpuasa selama sebulan" keluh Ethan yang mengingat pesan dokter tadi saat memeriksa keadaan istrinya.


Clara terkekeh dan memilih melanjutkan kegiatannya yaitu memandikan bayi besarnya.


...


"Apa kamu tidak risih aku peluk-peluk kamu tadi padahal tubuhku begitu kotor?" tanya Ethan yang saat ini sudah kembali memeluk istrinya di ranjang mereka.


Clara menggeleng.


"Aku suka bau keringatmu. Apalagi itu bau keringat karena mencari keberadaanku" balas Clara dengan tersenyum.


Cup.


Ethan membumkam bibir istrinya. Seolah sudah lama dia tidak mencium bibir semerah cerry itu.


Mereka berciuman dengan saling membalas seolah mencurahkan isi hati diantara keduanya.


"Ayo katakan juga kalau kamu mencintaiku juga" mohon Ethan.


Clara tersenyum kemudian mencium bibir suaminya lebih dulu. Untuk pertama kalinya dia melakukan ini kecuali saat Vania dengan sengaja memberikan obat perangsang pada mereka berdua.


Ethan senang sekali. Walau istrinya tidak mau mengucapkan kata cinta tapi dia mendapatkan bonus ciuman spesial karena dicium lebih dulu. Itu sudah cukup membuktikan kalau Clara juga mencintainya.


Chila yang hampir masuk mengurungkan niatnya ketika melihat Kakak dan Kakak iparnya sedang saling bercumbu mesra.


"Kapan kak Arlan juga memperlakukan ku seperti itu?" Chila bergumam dalam hati.


Sampai saat ini Chila masih mengharapkan cinta sepenuhnya dari Arlan.


Mereka memang tidur bersama tapi untuk berhubungan layaknya suami dan istri hingga kini semua itu tidak pernah lagi.


Chila hanya wanita dewasa yang juga ingin mendapatkan belaian kasih sayang dari suaminya.


Bagaimana mungkin bisa seperti itu? Dicium saja masih bisa dihitung dengan jari.


Chila menghela nafas berat. Dengan langkah gontai diapun kembali ke ruang rawat inap Papanya.


"Kenapa?" tanya Arlan saat melihat istrinya kembali dengan wajah lesu.


Chila memilih berbohong. Dia tidak mau Arlan kembali sakit hati mendengar cerita kalau Clara dan Ethan sedang bermesraan.


"Tidak apa-apa kak" ucapnya bohong.


Tapi Arlan adalah orang yang cerdas. Dia juga orang yang peka.


"Duduk disini" titah Arlan sambil menepuk sisi sofa disebelahnya.


Chila menurut lalu duduk disana.


Tanpa di duga Arlan malah memeluknya.


"Maafkan aku ya karena selama ini belum bisa memberika hatiku sepenuhnya untukmu".


Bersambung....