My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Cemburu



“Kak” tegur Chila. Bukan dia tidak mau Arlan mengakuinya sebagai istri sekarang tapi dia juga harus memikirkan tentang karir sang mertua.


Tapi Arlan sepertinya tidak peduli. Dia sudah diselimuti rasa cemburu saat ini.


“Kenapa? tidak boleh?” Arlan sepertinya tidak terima Chila menegurnya seperti itu.


Denis yang tidak mengerti dengan situasi yang terjadi pun semakin bingung.


“Ya sudah aku duluan ya Chila. Mari Kak saya duluan” daripada ikut campur Denis memilih pergi dari sana.


“Iya hati-hati Kak Denis” balas Chila dengan tersenyum ramah. Chila memang seperti itu pada siapapun dan sekarang Arlan seperti lupa akan hal itu.


“Hati-hati kak denis” Arlan mengulang-ulang ucapan Chila dengan nada yang jengkel.


“Kakak kenapa sih?” Chila begitu heran dengan sikap suaminya yang tidak seperti biasa. Arlan yang sekarang malah mirip dengan Ethan. Sama seperti sikap Ethan pada Clara biasanya.


Arlan berjalan lebih dulu disusul oleh Chila.


“Sebegitu senangnya bertemu mantan?” Arlan kembali menunjukkan rasa tidak sukanya.


“Kak Denis itu asisten dosen disini kak. Sikap kakak seperti orang cemburu. Untung aku tau kalau kakak menyukai kakakku. Kalau tidak mungkin aku sudah terbawa perasaan”. Chila mendahului Arlan dan berjalan dengan cepat.


Arlan meraih lengan istrinya.


Chila tentu saja menghentikan langkahnya saat lengannya berhasil diraih oleh Arlan.


“Aku memang cemburu. Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan dia. Mengerti kan?” Arlan berucap dengan penuh penekanan.


Chila malah tertawa mendengar pengakuan suaminya.


“Ayo pulang” tidak ingin baper Chila pun mengajak suaminya pulang.


“Aku serius Chila” seperti biasa Arlan bisa membaca apa yang Chila pikirkan.


Arlan mendekatkan wajahnya pada Chila saat mereka sudah berada di dalam mobil. Arlan menatap lekat wajah istrinya dan menghadiahi ciuman di bibir istrinya itu.


“Aku serius. Aku cemburu. Kamu mau kan memulai semuanya dari awal bersamaku?” pinta Arlan.


Berada dalam jarak dekat seperti ini dengan Arlan membuat darah Chila berdesir dan jantungnya berdetak dengan begitu kencangnya. Ciuman tak terduga dari suaminya merupakan hal yang tidak pernah Chila berani bayangkan sebelumnya.


“Kamu mau kan memulai semuanya dari awal?” Arlan mengulang pertanyaannya.


Bagai terhipnotis Chila pun menganggukkan kepalanya.


Arlan tersenyum. Kembali dia menghadiahi ciuman di bibir mungil istrinya.


“Terima kasih. Aku berjanji mulai sekarang hanya akan ada kamu dan Friska dihatiku” ucap Arlan sambil membelai wajah istrinya dengan sayang.


Chila terharu. Akhirnya setelah dua tahun Arlan mau membuka hati untuk dirinya.


“Bagaimana kalau kita kencan? Setelah menikah kita tidak pernah pergi berkencan bukan?” ajak Arlan.


Chila kembali menganggukkan kepalanya. Berkencan dengan Arlan sungguh diluar dugaannya. Bermimpi pun dia tidak berani.


“Maaf kalau selama ini aku belum bisa menjadi suami yang baik. Dan terima kasih kamu masih sabar berada disisiku” lanjutnya.


Chila begitu terharu. Dia langsung memeluk tubuh kekar suaminya. Masih seperti mimpi rasanya Arlan cemburu padanya. Bahkan sekarang mengajak berkencan. Semoga Arlan benar-benar bisa melupakan Clara dan berpaling pada Chila.


“Aku ingin ke danau kak. Aku tidak suka kencan pertama kita ke tempat ramai seperti mall.” pinta Chila.


Chila sudah terlalu sering pergi ke Mall walaupun itu seorang diri dan di kencan pertamanya tentu dia tidak ingin pergi ke tempat biasa.


Bersambung…