My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Resmi



Ethan dan Clara baru saja menandatangi surat pernikahan mereka. Kini giliran mereka untuk saling menyematkan cincin pernikahan. Sebagai simbolis telah resminya pernikahan mereka, Clara mencium punggung tangan Ethan serta Ethan mencium kening Clara. Pernikahan yang hanya dihadiri oleh Kedua mempelai dan orang tua masing-masing itu berjalan dengan lancar.


"Mulai saat ini belajarlah saling menerima satu sama lain, kalian bukan anak-anak lagi" ucap Gavin menasehati anak dan menantunya.


"Iya pa" jawab Clara dan Ethan kompak.


Waktu masih menunjukkan pukul 1 siang, selesai acara pernikahan yang sangat sederhana itu mereka semua makan siang bersama di salah satu restoran ternama di kota Kalika.


Vania mengajari Clara bagaimana menjadi seorang istri. Clara diminta untuk menyiapkan makanan untuk suaminya. Clara yang memang penurut pun mematuhi itu semua.


Clara melayani suaminya dengan baik. Menyiapkan makanan serta minumannya. Untuk sekian detik Ethan terharu. Tapi di detik berikutnya dia tersadar dan mulai kembali ke setelan awal.


"Ethan, sebagai suami kamu harus mengerti keadaan istrimu, sayangi dia, lindungi dia. Kamu mengerti?" ucap Vania memperingatkan.


"Iya ma" jawab Ethan santai.


"Dan ingat jangan pernah menunda kehadiran anak" ucap Gavin menimpali.


Clara tidak menjawab, dia sudah tau keinginan dari ayahnya hanya seorang cucu. Gavin bahkan tega membiarkan Ethan mendekati Chila setelah Clara memiliki anak.


"Iya pa" jawab Ethan lalu melirik ke arah Clara yang nampak termenung.


...


"Kamu kenapa?" tanya Ethan pada istrinya yang sejak makan siang tadi hanya terdiam.


"Tidak kenapa-napa" jawab Clara yang saat ini memandang jalanan yang mereka lewati. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke perusahaan.


"Apa kamu kepikiran dengan kata-kata papa tentang anak?" tebak Ethan.


Clara diam sejenak.


"Seperti yang kamu tau sendiri. Aku dan Papa tidak terlalu dekat. Kami hanya berbicara seperlunya. Berbeda dengan Papa terhadap Chila. Aku tidak mengerti kenapa Papa selalu marah-marah bila berbicara denganku. Itu alasan kenapa aku lebih memilih diam dan menjauh".


"Dan sekarang Papa memaksaku menikah denganmu dan meminta untuk tidak menunda kehamilan. Bolehkah aku berpikir kalau Papa tidak menyayangiku?".


Clara tersenyum kecut. Bukannya mendapatkan kalimat penghiburan dirinya malah dibandingkan dengan adiknya sendiri. Clara menghela nafas berkali-kali dan memilih tidak menjawab ucapan Ethan.


Melihat Clara yang membisu membuat Ethan berpikiran kalau Clara tidak mau mendengarkan sarannya.


Clara penurut? Penurut apanya? Gumam Ethan dalam hati.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di perusahaan.


"Kalau kamu belum siap untuk memiliki anak, aku tidak masalah kalau kita menundanya dulu" ucap Ethan sebelum turun dari mobil.


Clara menatap tak percaya pada Ethan.


Mungkin memang dia sangat mencintai Chila hingga tidak sudi untuk menyentuhku.


Clara pun menganggukkan kepala.


"Sementara waktu kita akan tinggal di apartemen mu dulu. Karena pernikahan di percepat rumah yang sudah aku persiapkan masih belum selesai. Atau kamu mau tinggal di rumah Mama?" ucap Ethan pula.


"Kita tinggal di apartemen saja" putus Clara.


Ethan pun menganggukkan kepala.


"Kamu masuklah dulu. Aku ada urusan sebentar" ucap Ethan pula.


Clara menganggukkan kepala. Dia mencium punggung tangan Ethan sebelum turun dari mobil. Inginnya Ethan juga mencium kening Clara seperti tadi tapi dia mengurungkan niatnya.


"Aku pergi dulu" pamit Ethan.


Clara menganggukkan kepala dan keluar dari mobil.


*Dia bahkan tidak bertanya aku ada urusan apa. Ucap Ethan dalam hati.


Bersambung*...