
Ethan sampai di apartemen tepat di pukul 1 dini hari. Banyak yang dia bicarakan dengan Arlan dan itu membuat Ethan merasa bersalah pada Clara.
Saat masuk ke dalam kamar, Ethan terkejut karena tidak mendapati Clara disana. Ethan langsung panik karena mengira Clara marah padanya. Dia menyesal meninggalkan Clara di restoran tadi, Ethan berpikir kalau Clara marah karena itu.
Tapi begitu melihat balkon kamarnya yang terbuka, Ethan sedikit lega. Ethan keluar ke balkon dan semakin lega karena melihat Clara tertidur disana.
Rambutnya yang di gerai dan tertiup angin membuat Clara semakin terlihat cantik.
"Kenapa tidur disini sih?" gumam Ethan pelan. Ethan lalu mengangkat tubuh langsing Clara menuju ranjang mereka.
"Kamu harus makan lebih banyak, tubuhmu terlalu ringan" ucap Ethan pula.
Ethan merebahkan tubuh Clara di ranjang mereka. Dia rapikan rambut-rambut yang menghalangi wajahnya.
"Maafkan aku" ucap Ethan sambil mengelus pelan wajah Clara. Ethan menghadiahi ciuman di kening Clara sebelum membersihkan diri di kamar mandi.
....
Pagi menyapa, sama seperti hari hari kemarin, Clara merasa perutnya tertimpa sesuatu yang berat.
Pelan-pelan dia membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah suaminya yang kini sedang tersenyum kearahnya.
"Selamat pagi" sapa Ethan dengan tersenyum.
Clara terdiam. Tidak membalas sama sekali. Clara malah berpikir kalau dia mungkin sedang bermimpi. Clara pandangi wajah Ethan tanpa berkedip dan itu tentu membuat Ethan terheran.
"Kenapa?" tanya Ethan sambil merapikan rambut-rambut yang menghalangi wajah cantik Clara.
Tanpa sengaja tangan Ethan menyentuh kening Clara. Tangan Ethan seperti tersengat listrik.
"Kamu demam?" tanya Ethan Khawatir. Dia kembali menyentuh kening Clara dan memang terasa panas.
"Kamu punya termometer tidak?"tanya Ethan semakin khawatir karena saat ini Clara sedang sakit.
Clara masih saja terus merasa kalau ini adalah mimpi. Pasalnya dia ingat kemarin masih tidur di balkon dan sekarang tiba-tiba sudah di dalam kamar. Apalagi seingatnya hingga larut Ethan belum juga menampakkan hidungnya.
Melihat Clara yang diam saja membuat Ethan semakin khawatir.
"Sebentar ya" ucap Ethan dan segera turun dari tempat tidurnya. Ethan mencuci muka dan gosok gigi lalu pergi ke dapur untuk mengambil air hangat.
Tak berapa lama dia sudah kembali dengan segelas air hangat serta sebuah baskom.
Ethan membantu Clara minum air lalu ke kamar mandi untuk mengambil towel serta air untuk mengopres tubuh Clara.
Clara masih kebingungan. Dirinya merasa sedang sadar tidak sadar.
"Kenapa kamu diam saja? Kepalamu pusing?" tanya Ethan sambil mengompres kening Clara.
Clara terus memandangi wajah Ethan yang terlihat khawatir itu.
"Lain kali tidak boleh diam di balkon semalaman apalagi sampai tertidur seperti kemarin. Begini kan jadinya?" tegur Ethan pula.
Clara seolah tidak percaya kalau ini semua adalah nyata.
Bagaimana mungkin Ethan perhatian seperti ini padaku? Apa kepalanya kejedot pintu?" gumam Clara dalam hati.
"Kamu kenapa Clara? Jangan buat aku khawatir" ucap Ethan sambil mengelus elus pipi Clara.
Clara angkat tangannya dan dia sentuh pipi Ethan.
"Nyata?" tanya clara dalam hati.
Deg.
Ethan berdebar karena Clara malah mengelus pipinya.
"Ada yang sakit?" tanya Ethan lagi untuk mengusir debaran jantungnya yang begitu menggila.
Clara yang kesadarannya sudah pulih kemudian menggelengkan kepalanya.
Bersambung...