
Seharian ini Ethan merawat Clara seperti istri yang memang sangat dia cintai. Padahal dia sendiri tidak mengetahui bagaimana sesungguhnya perasaan dirinya yang sebenarnya.
Seperti saat ini, Ethan sedang duduk di sofa di dalam kamar mereka sambil memainkan ponselnya. Saat melihat Clara yang hendak bangun dari duduknya membuat Ethan dengan sigap mendekat.
“Mau kemana?” tanya Ethan sebelum Clara berhasil berdiri sepenuhnya.
“Mau ke toilet” jawab Clara. Tanpa berkata apa-apa, Ethan langsung mengangkat tubuh Clara menuju kamar mandi.
“Aku bisa sendiri Ethan!” protes Clara.
“Iya aku tau” jawab Ethan cuek. Saat sudah sampai di depan kamar mandi, Ethan pun menurunkan Clara.
“Jangan di kunci” titah Ethan pula.
Clara hanya memutar bola matanya malas dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Tak berapa lama dia pun keluar dari kamar mandi. Melihat Clara sudah selesai, Ethan kembali menggendong istrinya dan dibawa ke ranjang.
“Ethan, tidak perlu berlebihan. Aku tidak apa-apa” Clara kembali melayangkan protesnya.
“Aku tidak berlebihan. Papa sering seperti ini saat Mama sakit. Aku hanya menirukan dia bagaimana memperlakukan istrinya” jawab Ethan. Entah kenapa Clara malah berdebar mendengar itu. Walau Clara yakin semua itu hanya sebatas tanggung jawab semata.
“Tapi Papa dan Mama saling mencintai. Berbeda dengan kita” ucap Clara menimpali.
Ethan menatap lekat mata istrinya.
“Apa kamu tidak berkeinginan untuk belajar mencintaiku?” tanya Ethan terdengar jengkel.
Clara balas menatap mata Ethan lekat-lekat.
“Aku adalah bunglon Ethan, Aku bagaimana kamu memperlakukanku. Kalau kamu baik aku bisa baik, kalau kamu menyakiti ku aku pun demikian. Dan bila kamu juga belajar mencintaiku aku pun bisa melakukannya. Tapi masalahnya kamu yang belum bisa membuka hati kamu untuk aku” jawab Clara panjang lebar.
Ethan malah tertawa mendengar jawaban Clara yang panjang kali lebar itu.
“Tidurlah. Nanti malam kita akan pindah ke rumah Mama. Untuk barang-barang nanti mama yang akan urus” ucap Ethan sambil mencium kening istrinya dan beranjak dari sana.
Jangan ditanya bagaimana debaran jantung Clara. Dia tidak menyangka kalau Ethan akan bersikap semanis ini.
…
Clara dan Ethan baru saja sampai dirumah Vania. Viana dengan suka cita menyambut keduanya.
“Gimana keadaanmu sayang? Apa masih demam?” tanya Vania terdengar khawatir.
“Tidak ma. Aku baik-baik saja” jawab Clara yang memang dia sudah tidak apa-apa. Setelah beristirahat dan minum obat dirinya merasa sudah lebih baik.
“Ya sudah sekarang kita makan malam dulu ya” ajak Vania sambil menuntun Clara menuju meja makan.
“Papa mana ma?” tanya Ethan karena tidak melihat keberadaan papanya.
“Papa sedang menemui dokter Kevin” jawab Vania.
“Papa sakit?” tanya Ethan pula.
“Tidak kok, hanya konsultasi saja” jawab Vania dengan tersenyum.
“Konsultasi? Papa ada keluhan?” Ethan menjadi penasaran saja.
“Memangnya kalau konsultasi harus ada keluhan dulu? Papa hanya minta resep vitamin saja. Sebentar lagi juga datang. Ayo kita makan saja duluan biar Clara bisa istirahat” ucap Vania tanpa mau membicarakan lebih lanjut tentang suaminya. Dia lebih suka membicarakan kelanjutan hubungan putra dan menantunya.
“Makan yang banyak ya” ucap Vania sambil mengambilkan makanan untuk Clara serta Ethan. Vania sangat memanjakan Clara karena memang dari dulu dia sudah menginginkan Clara menjadi menantunya.
Bersambung...