
Clara menertawakan dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia mengira perhatian yang Ethan berikan selama ini adalah bukti cinta sang suami untuknya.
Clara menangis dan tertawa bersamaan.
"Bodoh sekali...Aku bodoh".
Clara merasa begitu sesak. Dia masih belum bisa menerima apa yang baru saja dia dengar. Disaat dia sudah membuka hatinya seratus persen untuk Ethan ternyata rasa sakit lagi yang dia terima.
"Harusnya aku sadar diri, tidak mungkin secepat itu Ethan bisa mencintaiku".
Clara tidak jadi masuk ke dalam ruangan. Dia ingin menenangkan diri saja.
Kepala Clara rasanya mau pecah. Tapi dia harus kuat demi anaknya.
Clara elus-elus perutnya yang masih rata itu.
"Sayang...maafin Mama ya. Andai Mama tau kalau Papamu akan meninggalkan kita, Mama tidak akan pernah mau memulai ini semua".
Clara tidak bisa menahan laju air matanya.
Clara mengambil ponsel di dalam tas yang dia bawa dan mematikannya. Selama beberapa jam ini dia ingin menenangkan diri dulu.
Saat tiba di lobby, dia melihat team produksi sedang mempersiapkan keberangkatan ke luar kota.
"Lebih baik aku ikut saja kesana beberapa hari" putus Clara.
Dia kemudian berbicara dengan ketua team dan ikut dengan rombongan.
...
"Pa... Sudah lama?" sapa Arlan sambil mencium punggung tangan mertuanya.
"Iya lumayan" jawab Gavin.
"Istriku mana?" Ethan celingak celinguk mencari keberadaan istrinya.
"Lho...belum kesini? Dia sudah lebih dulu kesini. Hampir 45 menit yang lalu" jelas Arlan.
Ethan mengernyitkan kening.
"Belum...kemana dia?" Ethan sudah mulai khawatir.
Dia mencoba menghubungi ponsel istrinya tapi tidak aktif.
"Kamu serius dia sudah kembali lebih dulu?" tanya Ethan memastikan.
"Iya, aku minta dia ke ruangan lebih dulu."
Ethan kembali menghubungi istrinya tapi tidak bisa.
Ethan tidak bisa menutupi kekhawatirannya.
Gavin tersenyum melihat menantunya sudah bisa mencintai Clara seperti apa yang dia harapkan dulu.
Gavin kembali mengingat percakapannya tadi dengan Ethan.
"Jadi bagaimana? Apa setelah ini kamu mau mendekati Chila? Papa tidak akan melarangmu lagi" ucap Gavin dengan terkekeh.
Ethan pun ikut terkekeh.
"Tentu saja Pa" jawab Ethan.
"Tentu saja tidak, Aku mencintai istriku. Tidak mungkin aku bisa mendekati wanita lain. Aku hanya mencintai Clara" lanjutnya.
Gavin menepuk-nepuk pundak Ethan.
"Bagus seorang pria sejati harus bisa berkomitmen, menyayangi dan mencintai wanitanya setulus hati. Selama ini Papa sudah mendidik Clara terlalu keras. Semata karena Papa ingin dia mandiri. Sekarang Papa mohon sayangi dia dan terima semua kekurangannya." pinta Gavin.
Ethan menganggukkan kepala.
"Tentu pa, Aku pasti akan selalu menyayangi dan mencintainya setulus hatiku" jawab Ethan mantap.
...****************...
Ethan sudah menelusuri seluruh gedung tapi tidak melihat istrinya.
Dia juga munghubungi Vania siapa tau Clara pulang ke rumah walau itu mustahil. Tapi ternyata Clara memang belum pulang kerumah.
Ethan tidak mengerti kenapa dia merasa sangat cemas seperti ini.
Ethan kembali keruangannya , berharap Clara sudah kembali.
"Bagaimana?" Tanya Arlan ikut khawatir.
Ethan menggelengkan kepalanya.
"Dia tidak ada dimanapun" jawab Ethan terdengar frustasi.
"Coba cek CCTV" usul Gavin.
Ethan yang baru teringat dengan CCTV pun langsung menuju ruangan tersebut.
Arlan dan Gavin pun ikut menyusul.
Mereka mencari rekaman dengan waktu perkiraan Clara keluar dari ruang rapat.
Bersambung...