My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Maaf



Pelayan di rumah Ethan menjadi takut karena Ethan bertanya dengan sedikit membentak. Pelayan tersebut pun menjawab dengan tergagap.


“Ta- tadi, pergi dengan supir pak. Saya tidak tau kemana” jawab pelayan tersebut dengan tertunduk.


Ethan menggeram kesal. Nomor sopir dan juga istrinya sama-sama tidak bisa dihubungi. Rasa-rasanya Ethan ingin berteriak saja saat ini.


Dia begitu khawatir dengan keadaan istrinya.


Tak sampai lima menit terdengar suara mobil memasuki rumah. Ethan berlari ke luar rumah untuk memastikan siapa yang datang.


Ethan bernafas lega karena memang istri dan Ibunya yang datang bersama-sama.


“Kamu kemana tadi? kenapa tidak memberi tau aku?” tanpa sadar Ethan bertanya dengan suara meninggi karena begitu mencemaskan keadaan istrinya.


Clara tentu terkejut tidak menyangka kalau Ethan akan semarah ini. Matanya sudah berkaca-kaca karena ini pertama kalinya dia dibentak suaminya sendiri.


“Ethan… Mama yang salah. Mama yang mengajak Clara fitting baju” ucap Vania menengahi.


“Mama kenapa tidak ijin dulu padaku ma? Tolong hargai aku!” rasa trauma yang sudah terlanjur terekam di memorinya membuat Ethan khawatir berlebihan.


“Apa susahnya memberi tau aku saat kamu mau pergi?” Ethan memegang kedua pundak istrinya.


“Apa kamu tau bagaimana khawatirnya aku? Telepon tidak aktif lagi!”.


Hick


Hick


Hick


Seorang Clara sampai menangis hanya karena dibentak seperti itu, Padahal biasanya Gavin akan lebih parah membentaknya. Tapi entah kenapa bila Ethan yang melakukannya Clara merasa berkali-kali lipat lebih sakit mendengarnya.


Seketika Ethan tersadar. Kekhawatiran berlebihan selama beberapa menit sempat membuat dia lupa diri.


“Sayang…maafkan aku” Ethan meminta maaf setelah melihat istrinya sudah menangis sesenggukan. Mereka bahkan masih berdiri di pintu masuk.


“Aku khawatir sayang, kamu tidak bisa dihubungi sampai rumah juga kamu tidak ada. Maafkan aku” Ethan terus berusaha meminta maaf.


Vania memilih masuk ke rumah lebih dulu membiarkan Ethan menyelesaikan masalahnya dengan sang istri.


Ethan mengangkat tubuh istrinya dan menggendong ala bridal style menuju kamar mereka. Selama perjalanan Ethan terus meminta maaf dan Clara masih saja menangis.


Saat ini keduanya sudah duduk di tepi ranjang dan Ethan memeluk erat tubuh istrinya.


“Aku takut kamu pergi. Setiap kamu susah dihubungi aku akan cemas. Maafkan aku sayang” Ethan pun sudah ikut meneteskan air matanya. Dia menyesal sudah membentak istrinya yang sedang hamil muda seperti tadi.


“Berjanjilah untuk selalu mengabariku kemanapun kamu pergi”.


Walau masih sesenggukan Clara pun menganggukkan kepalanya. Dia memang salah karena pergi dari rumah tanpa ijin suami. Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Ethan akan sampai semarah ini.


"Tapi jangan bentak aku. Aku tidak suka dibentak" ucap Clara sejujurnya.


Ethan menganggukkan kepalanya.


"Iya maafkan aku sayang... Aku terlalu khawatir padamu. Tadi saat diperjalanan aku melihat ada orang kecelakaan, setiap melihat kecelakaan aku akan kembali mengingat saat kamu menghilang. Aku takut kehilanganmu sayang. Rasanya kejadian itu masih membekas di pikiranku. Bayangan mayat yang ditemukan dalam kondisi menyeramkan dan rasa gelisah karena kamu belum kunjung ditemukan membuatku tidak bisa dengan mudah melupakannya. Sekali lagi maafkan aku sayang".


Clara akhirnya paham penyebab suaminya emosi seperti tadi, ternyata trauma kecelakaan beberapa waktu lalu masih terekam diingatannya.


Bersambung...