My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Pendarahan



"Berarti yang tadi aku peluk itu benar kamu? Bukan halusinasi?" tanya Ethan pada istrinya.


Clara menganggukkan kepalanya.


Ethan kembali menangis. Masih tidak menyangka kalau istrinya ada bersamanya saat ini.


Ethan masih enggan melepas pelukannya. Dia masih percaya belum percaya kalau saat ini yang bersama dengannya adalah istrinya.


"Apa yang terjadi? Apa kamu ikut dalam kecelakaan itu?" tanya Ethan penasaran.


Clara menggeleng dan mulai menceritakan kronologi kejadian yang terjadi.


Flashback.


Mobil baru lima menit berlalu, Clara masih bersusah payah menahan laju air matanya. Dia tidak ingin masalah yang menimpanya sampai diketahui semua orang. Tapi tiba-tiba perut Clara terasa sakit.


Dia merasa ada cairan yang turun dari pangkal pahanya.


"Tolong antarkan aku ke rumah sakit" pekik Clara yang saat ini sudah kesakitan, panik dan perasaan yang begitu campur aduk.


Rombongan tersebut pun mengantar Clara ke rumah sakit terdekat.


"Ibu benar tidak apa-apa kami tinggal?" tanya salah seorang karyawannya.


"Iya tidak apa-apa. Kalian pergilah. Aku sudah menghubungi suamiku. Kalian hati-hati di jalan" bohong Clara. Padahal dia sama sekali tidak ada menghubungi suaminya.


"Baiklah kalau begitu, kami pamit ya bu".


Mereka ber lima pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju tujuan.


Tinggallah Clara seorang diri disana. Dokter sudah memeriksa keadaan Clara dan dia harus dirawat lebih intensif di rumah sakit.


Clara membayar perawat disana untuk membantu mengurus administrasi agar dia bisa rawat inap disana.


Setelah Clara sudah dipindahkan ke rawat inap. Dia sama sekali tidak berniat menghubungi suaminya. Clara tidak mau stress yang kemudian mengakibatkan dirinya pendarahan lagi.


Entah kenapa Clara ingin sekali menyalakan TV yang ada diruang inap itu. Dia memindah-mindahkan chanel TVnya hingga dia melihat berita kecelakaan mobil.


Clara semakin terkejut ketika melihat suaminya disana. Ethan menangis dan meraung-raung dan memanggil-manggil nama dirinya.


Clara menutup mulut tidak percaya.


Clara meneteskan air mata. Ada rasa kasihan dirinya melihat keadaan suaminya tapi Clara tidak ingin kecewa lagi. Clara tidak ingin terlalu percaya diri.


Clara mematikan TV tersebut. Dia tidak ingin perasaannya terombang ambing dan membahayakan janinnya lagi. Maka Clara memilih beristirahat dulu sambil menunggu keputusan apa yang akan dia ambil.


Keesokan harinya, Clara merasa cemas dengan keadaan Ethan. Dia kemudian mencoba kembali mencari keberadaan suaminya melalui siaran berita. Siapa tau ada berita terbaru tentang pencarian korban kecelakaan.


Dan Clara cukup beruntung karena berita itu memang menjadi trending topik. Hampir semua stasiun TV menyiarkan berita itu.


Clara menutup mulutnya yang menganga lebar dan air matanya yang sudah kembali menetes saat melihat suaminya dibopong team SAR dalam keadaan pingsan dan memprihatinkan. Penampilan Ethan sangat kacau.


Clara menangis sesenggukan. Dia kemudian menghubungi Arlan dan mengabari kalau dirinya sedang dirawat di rumah sakit yang ternyata tempatnya sama dengan tempat Gavin di rawat.


Arlan kemudian memberitahu Chila bahwa Clara dirawat di rumah sakit yang sama dengan Papanya. Arlan juga membawa Ethan yang pingsan ke rumah sakit tersebut.


Chila menangis sambil memeluk kakaknya, begitu juga Gavin. Tidak bisa dia ungkapkan bagaimana rasa bahagianya melihat putrinya ternyata masih hidup.


"Maafkan Papa nak... Maafkan Papa yang selama ini sudah terlalu keras padamu. Maafkan Papa".


Ini pertama kali dia melihat Papanya menangis sambil memeluknya seperti ini. Bahkan saat Mama mereka meninggal dulu, Gavin tidak pernah memeluk dirinya.


"Papa takut kehilangan wanita yang papa sayangi lagi. Cukup dulu Papa kehilangan Mama. Papa tidak mau kehilangan kalian lagi".


Clara ikut menangis. Pertanyaan yang selama ini dia keep untuk dirinya sendiri akhirnya dia tanyakan kepada papanya.


"Pa...Apa benar aku ini bukan anak kandung papa?" tanya Clara yang masih berada dalam pelukan Gavin.


Gavin melepas pelukannya. Dia begitu terkejut mendengar pertanyaan putrinya.


"Siapa yang mengatakan itu padamu? Itu tidak benar. Kamu adalah anak Papa. Darah daging Papa".


"Kalau kamu berpikiran seperti itu karena selama ini Papa terlalu keras padamu , itu salah nak. Papa melakukan ini agar kamu siap untuk terjun didunia bisnis. Dunia bisnis itu sangat kejam. Bila kita tidak siap mental kita akan hancur. Maafkan Papa nak kalau selama ini Papa sudah jahat padamu. Kamu anak Papa. Darah daging papa" jelas Gavin panjang lebar.


Gavin kembali membawa Clara ke dalam pelukannya. Mereka berdua sama-sama menangis dan menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka berdua.


Flashback Off


Bersambung...