
Tadi dalam halusinasinya Ethan memeluk istrinya hingga dia kembali tertidur dan kini saat dia terbangun Ethan hanya bisa tersenyum miris karena dia hanya seorang diri berada di ruangan serba putih yang sudah dipastikan itu adalah rumah sakit.
Ethan menutup wajahnya dengan salah satu lengannya. Dia kembali menangis. Tak peduli orang-orang mengatakan dia cengeng karena dirinya memang sangat kehilangan sosok yang begitu dia cintai.
Ceklek.
Pintu ruangan tersebut dibuka dari luar.
Vania masuk sudah dengan berlinang air mata.
“Nak…” Setengah berlari dia mendekati ranjang pasien putra satu-satunya itu.
Ethan mendudukkan tubuhnya.
Saat Mamanya sudah mendekat mereka langsung berpelukan dan sama-sama menangis.
"Ma...aku kehilangan istri dan calon anakku. Semua ini salahku ma... " Ethan kembali meraung-raung.
"Aku gagal ma...Aku gagal menjadi suami yang baik".
Vania tidak membalas ucapan anaknya. Yang dia lakukan hanya mendengarkan saja. Membiarkan Ethan mengeluarkan semua isi hatinya.
Ceklek.
Pintu kembali terbuka.
Ethan membelalakkan matanya. Dia langsung melepas pelukannya pada sang Ibu dan turun dari ranjang.
Tidak peduli ada infus yang melekat di tubuhnya tapi dia tetap memaksa berjalan. Vania menahan pergerakan Ethan. Darah sudah mengalir disepanjang infusnya terpasang.
Mata Ethan berkaca-kaca melihat sosok yang baru saja memasuki ruangannya.
Sosok itu mendekat dan meraih tangan Ethan. Sosok yang tak lain adalah istri Ethan sendiri.
"Sayang..." Ethan berkaca-kaca.
Dia tangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. Tangan yang sudah bersimbah darah akibat infus yang dia paksa tarik tadi.
Vania sudah memanggil perawat untuk memperbaiki infus anaknya.
"Ini benar kamu kan? Aku tidak sedang berhalusinasi?".
Clara menganggukkan kepalanya.
"Iya ini aku" jawab Clara yang juga ikut berkaca-kaca. Clara kini yakin kalau suaminya memang begitu mencintainya.
Ethan mencium seluruh wajah istrinya.
"Kamu selamat...Aku senang sekali".
Ethan lalu membawa Clara ke dalam pelukannya.
Ethan masih tidak percaya dan takut kalau ini hanya mimpi semata.
Saat perawat datang, Ethan bak anak kecil yang tidak mau melepaskan pelukannya pada sang istri.
"Ethan...jangan seperti anak kecil" Vania menarik tubuh anaknya agar melepas pelukannya pada sang istri.
Clara terpaksa melepas paksa pelukan suaminya mengingat infus suaminya sudah bercampur darah.
Tapi satu tangan Ethan tetap menggenggam tangan istrinya seolah takut ditinggalkan.
"Aku tidak akan kemana-mana"ucap Clara sambil mengelus tangan suaminya yang saat ini menggenggam erat satu tangannya.
Ethan melepas genggaman tangannya dan beralih merangkul pinggang istrinya dengan satu tangan. Kepalanya juga dia letakkan di perut istrinya. Ethan seperti anak kecil yang berlindung dalam pelukan ibunya.
Perawat yang menangani Ethan pun bersusah payah menahan tawanya.
Vania sendiri hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia maklum kanapa Ethan bisa bertindak kekanakan seperti ini.
Ethan bagaikan menemukan oasis di tengah gurun pasir. Istri yang hampir 48 jam menghilang akhirnya berhasil ditemukan bahkan dalam keadaan selamat.
Perawat berpamitan setelah tugasnya selesai. Clara dan Mama pun mengucapkan terima kasih pada perawat tersebut.
Ethan mengangkat kepalanya dari perut sang istri. Dia dongakkan wajahnya menatap wajah Clara yang memang terlihat begitu pucat.
"Berarti yang tadi aku peluk itu benar kamu? Bukan halusinasi?" tanya Ethan pada istrinya.
Bersambung...