
“Aaaa…” Clara meminta Ethan membuka mulutnya untuk mencicipi kue yang dia buat.
Ethan menerima suapan itu.
“Enak” ucap Ethan sambil mengelus pipi istrinya.
“Bener?” ucap Clara tidak percaya. Pasalnya tadi dia tidak menakar dengan benar, semuanya hanya berdasarkan insting memasaknya.
Ethan menganggukkan kepalanya. Dia mengambil satu keping kue kemudian dia suapkan juga pada istrinya.
“Enak kan?” Ethan yang sekarang meminta pendapat Clara.
Clara tertawa kecil. Menurutnya expresi wajah Ethan begitu lucu saat menanyakan itu padanya.
Ethan pun ikut tertawa. Dia senang melihat Clara yang mulai kembali lagi seperti dulu.
“Mungkin semua itu karena Papa Gavin. Aku harus berbicara dengan Papa secepatnya” ucap Ethan dalam hati.
“Papa Gavin sudah berangkat?” tanya Ethan walau dia sudah tau sih jawabannya.
“Sudah, Papa disana satu bulan” jawab Clara.
“Lama juga ya” balas Ethan.
“Kenapa?” tanya Clara penasaran.
“Gak kenapa-napa. Setelah menikah kan kita belum bertemu Papa” jawab Ethan beralasan.
Clara hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menata kue yang dia buat.
“Sudah jadi kuenya?” Vania yang ikut bergabung kembali.
“Sudah ma, coba cicipi. Enak tidak?” ucap Clara sambil menyerahkan satu toples kue pada mertuanya.
“Hummm… enak banget. Kamu kalau buka toko kue kayaknya bakalan laris deh” puji Vania tulus. Kue buatan Clara memang rasanya seenak itu.
“Makasih ma” ucap Clara senang sekali. Kalau dulu dia membuat kue di rumah tidak akan ada yang memujinya. Gavin terlalu sibuk bekerja sedangkan Chila lebih banyak bermain bersama temannya.
Ethan kembali tersenyum . Ethan berjanji akan membuat Clara kembali menjadi Clara yang dulu, Clara yang ceria dan selalu tersenyum. Clara yang dari dulu selalu bercanda dan kesana kemari bersama dirinya dan Arlan.
....
"Kamu mau gak kalau kita buat toko kue sederhana? Kamu bisa mengkreasikan ide ide kamu dalam membuat kue disana." usul Ethan.
Saat ini dia dan Clara sedang menikmati teh dan juga kue yang tadi Clara buat di balkon kamar mereka.
Clara menatap tidak percaya pada suaminya. Dia tidak menyangka kalau Ethan akan memahami apa yang sebenarnya Clara inginkan. Clara ingin sekali mempunyai toko kue sendiri.
"Kamu ingat kan saat kita liburan musim panas? Kamu membeli banyak sekali kue-kue yang ada di negara tersebut dan mencicipinya sedikit lalu memintaku dan Arlan untuk memakan sisanya. Pulang dari liburan kamu langsung membuat kue khas negara itu dan rasanya hampir sama".
Clara semakin tidak menyangka kalau Ethan mengingat kejadian itu.
"Kamu ingat?" tanya Clara.
"Tentu saja. Aku sangat kesal padamu karena kamu memaksaku menghabiskan semua kue-kue itu dengan alasan kasihan mubazir sedangkan kamu sendiri hanya mencicipi sedikit" jawab Ethan mengenang masa lalu. Dulu memang mereka bagaikan anjing dan kucing tapi entah kenapa dari dulu Ethan tetap saja selalu berada didekat Clara. Mungkin karena mereka bertiga sudah saling mengenal sejak lama.
Clara tertawa kecil.
Dia ingat sekali bagaimana caranya memaksa Ethan dan Arlan untuk menghabiskan kue-kuenya. Clara bahkan sampai menjejali mulut keduanya dengan kue-kue tersebut.
"Aku memang senang sekali dengan yang namanya membuat kue. Tapi sepertinya itu akan tetap menjadi hobby ku saja. Perusahaan membutuhkan kita dan tidak mungkin disaat perusahaan yang baru merintis ini aku dengan egois membagi konsentrasi dengan usaha baru" ucap Clara yang tidak ingin egois.
Ethan tanpa sadar semakin kagum karena pemikiran istrinya sudah jauh di depan dirinya.
Bersambung...