
Satu persatu korban sudah mulai ditemukan. Ada yang dalam keadaan sekarat ada pula yang dalam keadaan sudah tiada. Kelima team dari perusahaan Ethan sudah ditemukan. Empat dalam kondisi sudah tiada dan hanya satu yang masih hidup tapi dalam kondisi kritis dan sudah dilarikan ke rumah sakit.
Sedangkan Clara hingga kini sudah menunjukkan pukul 12 malam belum juga ditemukan.
“Ethan, kita pulang dulu ya. Besok kita kesini lagi. Kamu perlu istirahat, dari tadi siang kamu juga belum makan. Kalau kamu sakit bagaimana kita bisa menemukan Clara?” Arlan terus membujuk Ethan untuk mau pulang bersamanya.
Ethan menggeleng. Dia akan tinggal disini dan berkemah bersama team SAR dan relawan.
Dia ikut membantu menjadi relawan agar segera bisa menemukan Clara. Arlan menyerah. Dia tidak membujuk sahabatnya itu lagi. Yang bisa Arlan lakukan hanya menyediakan semua kebutuhan Ethan selama ikut menjadi relawan.
Kurang lebih masih ada 5 orang yang belum ditemukan dan dari semua korban yang sudah berhasil ditemukan hanya 7 orang yang ditemukan dalam kondisi hidup. Itu pun kondisinya sangat memprihatinkan.
Ethan menekuk lututnya di dekat api unggun yang dibuat relawan lain. Ethan tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini. Rasa sedih, penyesalan, rasa khawatir dan rasa rindu bercampur menjadi satu.
“Kamu baik-baik saja kan sayang?” Ethan bergumam dalam hati.
Salah satu relawan prihatin melihat kondisi Ethan. Orang tersebut mendekat dan duduk disebelahnya.
“Aku tau kamu dalam keadaan bersedih. Tapi bila kamu seperti ini kamu akan sakit dan tidak mempunyai tenaga untuk mencari istrimu. Setidaknya makanlah sedikit. Kita memerlukan banyak tenaga untuk melanjutkan pencarian” ucap orang tersebut.
Ethan hanya menganggukkan kepala. Saat ini dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk makan. Istri dan calon anaknya saja belum ditemukan. Bagaimana dia bisa kepikiran untuk mengisi perutnya sendiri?.
Keesokan harinya Tim SAR dan relawan kembali mencari korban kecelakaan maut tersebut. Satu persatu korban mulai ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.
Ethan benar-benar terpuruk saat ini. Tidak tidur semalaman dan tidak memakan apapun tetap tidak menyurutkan keinginannya untuk menemukan sang istri.
….
“Bagaimana? Apa sudah ada kabar tentang kakakmu?” tanya Gavin yang saat ini masih terbaring lemah di rumah sakit.
Chila menggeleng. Dia pun sudah menangis semalaman. Lagi dia harus kehilangan sosok yang dia sayangi. Pertama kehilangan Mama dan sekarang kakak yang sudah menjaganya layaknya seorang Ibu.
“Belum pa…Kak Clara belum ditemukan” Chila menutup wajah dengan kedua tangannya. Bahunya naik turun pertanda dia kembali menangis dengan begitu hebatnya. Gavin pun sama. Dia ikut menangis seperti putrinya.
“Clara…maafkan Papa nak. Selama ini Papa terlalu keras padamu”.
Dada Gavin semakin terasa sesak. Dia menyesal selama ini sudah begitu keras pada putrinya.
….
Di tempat pencarian, seluruh korban sudah ditemukan kecuali Clara. Hal itu tentu saja membuat Ethan merasa semakin down.
“Kami masih berupaya untuk menemukan istri bapak. Tapi ini cukup aneh. Karena korban harusnya ditemukan berdekatan mengingat ini bukan kecelakaan pesawat dan medannya bukan berupa sungai. Harusnya tidak jauh-jauh dari lokasi ditemukannya bangkai mobil. Apalagi rekan-rekan satu mobil sudah ditemukan semua” ucap salah satu tim SAR pada Ethan yang saat ini merasakan pusing di kepalanya.
Berita yang dia terima dan kondisi tubuhnya tidak baik membuat Ethan pingsan saat itu juga.
Bersambung...