My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Terlalu Percaya Diri



Dua minggu telah berlalu, Clara hanya sehari di rawat di rumah sakit, setelahnya dokter memperbolehkan Clara untuk rawat jalan asal dia menjaga diri agar tidak terlalu kelelahan.


Selama dua minggu ini Ethan memperlakukannya bagaikan ratu. Ethan juga begitu posesif dan melarang Clara untuk melakukan sesuatu yang menurutnya terlalu berat untuk wanita hamil padahal sebenarnya Clara sanggup untuk melakukannya.


Clara juga tidak terlalu sering datang ke kantor. Ethan melarang istrinya pergi bekerja dan hanya boleh berkunjung sesekali. Seperti hari ini, Clara ikut ke kantor karena ada meeting penting yang mengharuskannya untuk datang.


"Minum dulu vitaminnya" titah Ethan sambil menyerahkan 1 botol vitamin untuk istrinya.


Clara menerima vitamin itu dan langsung meminumnya.


"Nanti meeting cukup mendengarkan saja, jangan terlalu capek. Mengerti istriku?" ucap Ethan memberi wejangan pada istrinya.


Clara meeting dengan Arlan dan klien baru dari luar kota. Sedangkan Ethan sendiri mempersiapkan team nya yang akan shooting siang ini.


"Iya" jawab Clara dengan tersenyum manis.


Cup.


Ethan mencium bibir istrinya sebelum dirinya keluar dari ruangan itu dan mulai menjalankan tugasnya.


"Sepertinya Ethan sudah sangat mencintaimu" ucap Arlan saat dirinya dan Clara berjalan menuju ruang meeting.


"Aku harap itu benar" jawab Clara dengan tersenyum.


"Aku sangat yakin" ucap Arlan menimpali.


Di tempat berbeda, Ethan sudah fokus dengan persiapan team nya yang akan keluar kota.


Dia sudah membawa check list dan memeriksa apakah semua yang ada di list sudah di angkut ke dalam mobil.


Ethan juga memberikan ceramah kepada ke lima team nya yang berangkat kesana.


Ethan sangat serius karena kliennya kali ini adalah brand kelas dunia yang produknya sudah begitu terkenal ke seluruh belahan dunia.


Saat sibuk memberi ceramah, Mertuanya yang baru saja datang dari luar negeri menghampirinya.


Melihat itu membuat Ethan menghentikan sejenak pekerjaannya dan menyapa mertuanya.


"Papa kapan pulang?" tanya Ethan sambil mencium punggung tangan mertuanya.


"Baru saja dan langsung kesini. Pekerjaan yang harusnya selesai dalam waktu sebulan malah menjadi hampir dua bulan. Bagaimana keadaan Clara?". Ternyata Gavin sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan putrinya hingga keadaan lelah sepulang dari bepergian jauh pun tidak menghalangi niatnya untuk menemui Clara.


Gavin mengangguk dan memilih masuk ke ruangan mereka dan menunggu disana.


Setelah selesai dengan urusannya, Ethan pun masuk ke dalam ruangannya menyusul sang mertua.


Clara dan Arlan mendengar kabar dari anak buah mereka kalau Gavin menunggu di ruangan.


"Kamu duluan saja kesana, biar aku yang menyelesaikan meeting" ucap Arlan yang mengerti kalau Clara pasti rindu dengan Papanya.


Clara mengangguk dan pamit kepada Klien mereka.


Clara senang sekali setelah hampir dua bulan bisa bertemu dengan Papanya. Apalagi untuk pertama kalinya Gavin datang ke kantor mereka.


Pintu ruangan sedikit terbuka. Clara yang hendak masuk pun mengurungkan niatnya saat mendengar percakapan Papa dan suaminya.


"Papa bangga sama kamu" terdengar Gavin memuji Ethan.


Ethan juga terdengar tertawa menimpali ucapan Gavin.


"Jadi bagaimana? Apa setelah ini kamu mau mendekati Chila? Papa tidak akan melarangmu lagi" ucap Gavin dengan terkekeh.


Ethan pun ikut terkekeh.


"Tentu saja Pa" jawab Ethan.


Deg


Deg


Deg


Clara tidak menyangka akan mendengar percakapan seperti itu. Hatinya begitu sakit mendengar kalimat tidak berperasaan dari Papa dan suaminya sendiri.


Dada Clara rasanya sesak. Bulir bulir bening juga sudah jatuh dari pelupuk matanya.


Sakit sekali rasanya mendengar kenyataan seperti ini.


"Ternyata selama ini aku terlalu percaya diri" ucap Clara dengan tersenyum muak.


Bersambung...