
Semakin hari ada saja makanan yang Clara inginkan. Nafsu makannya melonjak dari sebelumnya. Tapi untungnya dia tidak memilih harus di restoran mana, dibuat dirumah pun tidak masalah asalkan sesuai dengan makanan yang dia inginkan. Seperti ramen yang beberapa hari lalu dia inginkan dan dibuatkan oleh Bu Marry pun Clara menikmatinya dengan lahap.
“Aku dan Mama akan membuat Focaccia” ucap Clara saat mengantar suaminya sampai di depan pintu utama.
“Wah pasti enak. Bumil makan yang banyak ya” Ethan mencium bibir istrinya sekilas.
“Aku pergi dulu, hati-hati di rumah” ucap Ethan lalu Ethan mencium kening istrinya sebelum berjalan menuju garasi mobil.
….
“Lho.. Mama kesini?” tanya Ethan yang melihat Ibunya datang ke perusahaan.
“Iya, Mama ada urusan sama teman-teman Mama. Sekalian mampir bawain focaccia yang tadi Clara buat. Dia maksa banget suruh bawain kesini. Katanya kasihkan ke suami tercinta” ucap Vania dengan terkekeh.
“Mama ini bisa saja” ucap Ethan sambil menerima kue tersebut. Setelah kepergian Ibunya, Ethan langsung menghubungi istrinya.
Saat ini dia sedang menikmati kue yang tadi Vania bawa bersama Arlan dan juga Chila.
“Kue buatan Kakak memang selalu enak” puji Chila yang saat itu sedang menerima suapan dari suaminya.
Ethan masih mencoba menghubungi Clara tapi tidak ada jawaban.
“Kenapa?” tanya Arlan karena Ethan terlihat gelisah.
“Clara tidak menjawab panggilannya” jawab Ethan apa adanya.
“Mungkin sedang tidur siang” ucap Arlan menenangkan.
Ethan tetap tidak tenang, dia kemudian menghubungi pelayan di rumahnya dan ternyata benar Clara sedang beristirahat.
“Itu namanya perhatian kak. Kak Ethan khawatir dan rindu istrinya” ucap Chila menimpali.
Ethan tidak menjawab, dia lalu mencicipi kue buatan istrinya.
“Memang selalu enak” gumam Ethan dalam hati.
Walau sudah mendengar kalau istrinya sedang beristirahat entah kenapa Ethan tetap merasa gelisah. Dia merasa cemas tidak tau karena alasan apa. Dan Arlan tentu saja menyadarinya.
“Satu atau dua jam lagi hubungi lagi istrimu. Siapa tau sudah bangun. Sepertinya kamu punya trauma karena kejadian beberapa waktu lalu” Arlan memang memiliki rasa kepekaan yang cukup tinggi hingga dia tau kalau ada sesuatu yang terjadi pada orang-orang disekelilingnya.
Rupanya Ethan memilih langsung pulang saja, tepat di pukul 4 sore Ethan bergegas menuju rumahnya. Jalanan yang lumayan macet membuat Ethan tidak tenang. Dalam perjalanan Ethan berusaha menghubungi Clara tapi kali ini ponselnya tidak aktif.
“Sayang… jangan buat aku khawatir dong” Ethan begitu cemas sampai tidak kepikiran menghubungi pelayan di rumahnya
Rupanya jalanan macet hari ini karena ada kecelakaan lalu lintas di depan sana. Setiap melihat ada kecelakaan lalu lintas maka ingatan Ethan akan kembali pada kejadian istrinya menghilang beberapa waktu lalu.
Keringat Ethan sudah bercucuran, bayangan-bayangan para korban dan ketakutannya kehilangan Clara terus berputar di kepalanya. Rupanya kejadian kecelakaan itu menimbulkan trauma yang cukup besar pada diri Ethan. Terutama rasa takut kehilangan istrinya.
Akhirnya 20 menit kemudian Ethan bisa lepas dari kemacetan, dia dengan cepat mengemudikan mobil menuju kediaman keluarga Brin.
Saat sampai di rumah, Ethan setengah berlari memasuki rumah. Biasanya Clara akan menyambutnya bila dia mendengar suara mobil Ethan. Tapi kali ini tidak. Ethan semakin cemas dan mencari keberadaan istrinya di dalam kamar mereka dan ternyata Clara tidak ada disana. Ethan menyusuri seluruh ruangan dan taman tapi istrinya tidak juga ditemukan.
“Clara dimana bu?” tanya Ethan yang tidak bisa menutupi rasa cemasnya pada salah satu pelayan yang dia temui.
Bersambung...