My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Chila?



“Masak apa?”tanya Ethan sambil melingkarkan tangannya di perut sang istri. Sebenarnya dia sudah tau jawabannya karena semalam dia sendiri yang request untuk dibuatkan sarapan oleh istrinya. Lidah Ethan sudah terbiasa memakan masakan Clara dan dia tidak mau memakan masakan lain.


“Roti isi, kan kamu yang minta kemarin” jawab Clara yang saat ini sedang sibuk membuat permintaan suaminya.


Ethan terkekeh sambil menghadiahi ciuman di pipi istrinya. Tangannya tidak berubah tetap memeluk istrinya dari belakang.


Vania dan Brin yang saat ini berada di ruang makan hanya bisa menggelengkan kepala. Kelakuan putra mereka memang sulit di tebak. 


“Papa bilang apa kan? Kelakuan putramu sudah papa tebak” ucap Brin membanggakan dirinya sendiri.


"Papa selalu bilang putraku, dia putramu juga" kesal Vania.


Brin tertawa kecil menimpali.


"Iya putra kita berdua" ucap Brin lalu merangkul mesra istrinya yang nampak merajuk.


"Melihat mereka mesra begitu apa rencana tetap kita jalankan?" tanya Vania sambil berbisik. Dia tidak ingin Clara maupun Ethan mendengar obrolan mereka.


Brin tersenyum.


"Kita lihat saja nanti perlu atau tidaknya" jawab Brin dengan tersenyum penuh maksud.


"Mama rasa tidak perlu pa, Mama yakin Ethan sudah jatuh cinta pada Clara. Mama tidak tega nanti kalau Ethan sampai stress".


"Mama ini dari dulu terlalu memanjakan dia. Dia tidak akan berkembang kalau mama terlalu memanjakannya"protes Brin pada istrinya.


"Ssstt...jangan kenceng-kenceng nanti mereka dengar" ucp Vania sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibir suaminya.


"Clara, lihat Papa dan Mama ! Mereka setiap hari mesra seperti itu. Kita juga harus seperti itu" bisik Ethan pada istrinya.


Ingin sekali Clara protes. Bagaimana bisa dia memberikan hatinya seratus persen pada Ethan bila Ethan sendiri belum bisa mencintai dirinya. Jangankan mengharapkan dicintai sepenuh hati, pengakuan sayang saja belum dia dengar.


Daripada berdebat dengan suaminya dan menuntut Ethan untuk menyatakan cinta, Clara memilih melanjutkan kegiatan memasaknya agar tidak terlambat bekerja.


....


"Aku mau ke minimarket dulu, kamu duluan saja ke dalam ya" ucap Ethan pada istrinya saat mereka sudah berada di lobby perusahaan.


Clara mengangguk dan masuk ke kantor lebih dulu.


Ethan merasa tenggorokannya kering dan gatal, dia harus memakan permen pelega tenggorokan sebelum presentasi nanti. Di dalam minimarket Ethan bertemu dengan Chila yang wajahnya nampak sembab.


"Kak Ethan" sahut Chila sambil tersenyum.


"Kamu nyari Arlan?" tanya Ethan basa basi.


"Tidak kak, tadi kebetulan aku lewat di depan" jawab Chila.


"Oh... Ya sudah aku duluan ya" pamit Ethan kemudian.


"Kak..." panggil Chila menghentikan kepergian Ethan. Ethan berbalik dan mengernyitkan keningnya.


"Ya?" tanya Ethan.


"Bisa kita bicara?" ucap Chila penuh mohon.


Ethan berpikir sejenak kemudian menganggukkan kepalanya. Mereka pun duduk bersebelahan di depan kursi besi yang ada di depan minimarket.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ethan to the point. Pasalnya 30 menit lagi dia ada presentasi dengan klien.


"Menurut kakak apakah aku bisa mendapatkan hati Kak Arlan?" tanya Chila yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Apakah Arlan tidak berlaku baik padamu selama ini?".


Bukannya menjawab Ethan malah mengajukan pertanyaan.


Chila menggelengkan kepalanya.


"Kak Arlan sangat baik kak, tapi aku bisa melihat tidak ada cinta pada matanya untukku. Berbeda saat dia menatap pada Kak Clara. Kadang aku merasa ingin menyerah saja, tapi ada Friska yang harus aku perhatikan. Dia membutuhkan kami berdua".


Chila sudah menutup wajah dengan kedua tangannya. Bahunya sudah naik turun yang artinya dia sudah tidak bisa menahan laju air matanya. Chila menangis dengan hebatnya. Tidak ada tempat untuk mencurahkan isi hatinya selama ini karena tidak mungkin dia menceritakan pada kakaknya. Clara sama sekali tidak tau dan tidak menyadari kalau Arlan mencintainya. Chila takut bila bercerita pada kakaknya, ternyata Clara malah menaruh hati juga pada Arlan. Chila takut kehilangan suaminya.


Ethan menepuk-nepuk pundak Chila.


"Cobalah lebih penurut dan lebih banyak waktu untuk Friska. Aku tidak bermaksud apa-apa, tapi menurut pendapatku, Arlan tipe pria yang suka dengan wanita penurut dan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Menyambut dia saat pulang kerja. Bukan maksudku kamu suka keluyuran hanya saja coba lebih banyak untuk tinggal dirumah" saran Ethan.


Entah kenapa Chila malah tertampar. Dirinya memang kerap meninggalkan Friska dan keluyuran dengan alasan ingin menenangkan pikiran.


Bersambung...