My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Aneh



“Ethan…” panggil Clara lirih.


Vania sudah pulang sekitar satu jam yang lalu. Di dalam ruang rawat inap ini hanya ada Clara dan Ethan saja.


Ethan yang sedang sibuk dengan laptopnya pun menghentikan pekerjaannya setelah mendengar panggilan dari istrinya.


“Kenapa? Kamu butuh sesuatu?” tanya Ethan lembut.


“Aku gerah, minta tolong kipasin punggungku” mohon Clara.


Ethan ingin tertawa sebenarnya karena ngidam istrinya terbilang lucu. Dari kemarin malam Clara meminta dirinya untuk mengipasi punggungnya dan ternyata itu akibat Clara sedang mengandung buah cinta mereka.


Ethan menuruti keinginan istrinya, untung saja tadi dia sudah tidur cukup lama sehingga malam ini  dia tidak mengantuk seperti kemarin.


Clara merasa punggungnya menjadi sejuk karena Ethan dengan intens mengipasi punggungnya itu. Lama-lama Clara kembali terbuai ke alam mimpi setelah cukup puas bermanja-manja dengan suaminya.


Melihat istrinya yang sudah kembali tertidur membuat Ethan tersenyum. Dia kecup kening Clara sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.


Akan ada beberapa iklan yang harus dia persiapkan. Rencananya dua minggu lagi akan mulai diadakan shooting iklan minuman kemasan yang lokasinya memakan waktu tempuh hampir 5 jam. Sebenarnya Ethan juga harus ikut kesana, tapi mengingat kondisi Clara yang masih lemah dia pun terpaksa tidak ikut kesana.


Hingga jam 12 malam Ethan masih berkutat dengan pekerjaannya. Ini pertama kali dia membawa pekerjaan ke rumah walau ini dirumah sakit bukan di rumah. Biasanya Ethan sangat tidak mau menggunakan waktu istirahatnya untuk bekerja. Tapi karena keharusan maka mau tidak mau Ethan harus profesional.


Masih berkutat dengan pekerjaan, dia mendengar Clara mengigau.


"Ma...Mama..." Clara memanggil manggil mamanya.


Ethan menghentikan pekerjaannya dan mendekati sang istri.


Ethan elus-elus rambut istrinya agar Clara kembali tenang dan bisa tidur nyenyak.


Kening Clara yang awalnya ditekut pelan-pelan sudah kembali normal.


"Ada aku sayang" bisik Ethan sebelum kembali dengan pekerjaannya. Ethan harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa ikut tidur disebelah istrinya.


Tadi Ethan sudah meminta dokter Kevin untuk mengganti ranjang istrinya agar muat ditiduri dua orang. Padahal sudah ada ranjang khusus penunggu, tapi Ethan malah meminta permohonan berlebihan lainnya.


Tapi karena rumah sakit ini adalah salah satu rumah sakit paling mewah maka fasilitas seperti yang diinginkan Ethan tadi memang selalu disediakan. Bahkan ada lagi ruangan yang persis kamar hotel.


Tak lama kemudian Ethan pun selesai dengan pekerjaannya. Dia membersihkan diri kemudian ikut naik ke ranjang istrinya.


Sayangnya Clara tidak mau dipeluk karena merasa gerah. Dengan menghela nafas berat, Ethan terpaksa tidur kembali di tempat semula.


"Ada-ada saja ngidamnya. Masak ngidam kegerahan tidak boleh dipeluk lagi" Ethan menggerutu.


Dari tempat tidurnya Ethan terus pandangi wajah istrinya. Tidur seperti ini pun Clara terlihat cantik. Tanpa makeup dan sangat natural.


"Pantas saja Papa Gavin tidak bisa move on dari Mama dan memilih menduda hingga sekarang, pasti dulu Mama secantik istriku" Ethan akhirnya menyadari kalau dia memiliki istri yang begitu cantik.


Ethan terus memandangi wajah teduh istrinya.


"Sehat selalu ya sayang. Aku mencintaimu" Ethan tersenyum ketila mengatakannya. Sekarang saat Clara tertidur dia bisa dengan lantang menyatakan perasaannya tapi begitu Clara terjaga dia tidak yakin kalau bisa mengungkapkan perasaannya. Ethan terlalu gengsi dan malu untuk sekedar mengucapkan kata cinta.


Bersambung...