My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Tidak Akan Kemana-mana



Cukup lama Jenny bergabung dengan mereka hingga dia harus segera kembali ke hotel tempatnya dan tunangannya menginap.


Rupanya kedatangan Jenny ke negara ini adalah untuk menikah di pulau X. Jenny pun sekalian mengundang Ethan dan juga Arlan.


"Apa benar lebih tampan Pak Benny dari aku?" Ethan rasanya masih tidak terima kalau dirinya kalah saing dengan Benny.


Clara yang saat ini sedang menikmati pizzanya dengan lahap pun menjadi tertawa mendengar pertanyaan suaminya.


"Kamu masih memikirkan perkataan Jenny?".


"Biasanya kamu orang paling percaya diri".


Clara semakin cekikikan saja dbuatnya.


"Kalau perkataan Jenny aku tidak peduli, aku hanya perlu pendapatmu. Apa kamu juga berpikiran sama dengan dia?" Ethan terdengar begitu serius.


Clara meletakkan garpu dan juga pisaunya.


Dia elus kemudiann genggam tangan suaminya.


"Tentu saja suamiku yang paling tampan menurutku." jawab Clara sambil tersenyum.


Ethan merasa lega. Entah kenapa dia takut sekali kalau Clara malah berpaling darinya. Terdengar kekanakan tapi Ethan pun tidak mengerti kenapa.


"Aaaa" Clara meminta Ethan membuka mulutnya untuk menerima suapan pizza yang sudah Clara potong kecil-kecil.


Ethan menerima suapan itu dan mengunyahnya sambil tersenyum.


Diluar dugaan Ethan ternyata Clara sanggup memakan beberapa potong pizza dan hampir setengah porsi lasagna.


Sepertinya calon anak mereka yang memiliki nafsu makan bagus karena sudah bertahun-tahun Ethan mengenal Clara dan istrinya itu tidak pernah bosa makan dalam jumlah besar.


****************


"Kamu akan pergi ke pesta pernikahan Jenny? Pasti seru kalian bisa reuni" ucap Clara yang saat ini sudah berada di dalam pelukan suaminya. Mereka berdua sudah berada di kamar mereka setelah beberapa jam lalu telah melakukan kencan pertama.


Ethan menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak mungkin pergi tanpamu. Dan kalau mengajakmu kesana juga tidak mungkin. Kamu belum boleh menaiki pesawat."


"Aku tidak apa-apa. Kapan lagi kan kamu bisa bertemu teman-teman lama?". Clara serius dengan ucapannya. Toh jarak tempuh dari kalingga ke pulau X hanya memerlukan waktu tidak lebih dari tiga jam.


"Aku tidak akan kemana-mana. Biar Arlan saja yang pergi kesana. Jenny pasti mengerti dengan keadaanku" ucap Ethan tegas.


Clara menganggukkan kepalanya. Dia senang karena Ethan tidak egois dan memilih tetap berada di dekat istrinya.


"Sayang..." ucap Clara tertahan.


Ethan yang awalnya sudah menutup mata terpaksa mengurungkan niatnya.


"Kenapa hem?" tanya Ethan sambil mengelus-elus kepala bagian belakang Clara.


"Aku mau ramen" rengek Clara manja sekali.


"What???" Ethan terkejut.


Baru beberapa jam lalu mereka makan pizza, lasagna serta spagetti. Sekarang istrinya kembali ingin memakan ramen. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Pengen ramen" Clara kembali merengek.


Ethan berpikir sejenak. Mencari restoran mana yang kira-kira masih buka jam segini.


"Ramen buatan Bu Marry aja gimana? Sudah malam sayang". Ethan berusaha membujuk istrinya.


Clara menurut. Dia menganggukkan kepala tanda setuju.


Ethan bernafas lega.


"Tunggu ya, aku minta tolong Bu Marry buatkan dulu".


Clara kembali menganggukkan kepalanya.


Melihat itu Ethan langsung turun dari ranjang dan mencari keberadaan Bu Marry.


"Untung saja ngidamnya Clara masih seputar makanan" gumam Ethab dalam hati.


Dia tidak bisa membayangkan kalau ngidamnya Clara berupa permohonan aneh seperti mengelus kepala botak tetangga. Dimana Ethan akan mencari semua keingian itu?


Bersambung...