
Sepanjang film diputar, Clara memang sama sekali tidak ketakukan. Tapi ada bagian film yang menampilkan adegan seorang anak yang ditinggalkan Ibunya untuk selama-lamanya, disanalah tangisan Clara mulai pecah. Dia kembali mengingat tentang Mamanya. Mama yang sangat menyayanginya. Mungkin satu-satunya di dunia ini yang menyayanginya dengan tulus.
Ethan yang tidak menyangka kalau Clara akan sesensitif ini bila mengingat tentang Mamanya. Dia membawa Clara ke dalam pelukannya dan menepuk-nepuk punggung Clara pelan.
"Kamu mengingat Mama ya?" tanya Ethan pelan.
Clara pun menganggukkan kepalanya.
Ethan kembali menenangkan Clara dengan pelukannya.
Melihat itu Brin dan Vania saling berpandangan. Memang itulah tujuannya memutar film ini supaya Ethan bisa peka kalau istrinya sangat merindukan sosok Ibu.
...----------------...
"Masih sedih?" tanya Ethan. Mereka sudah rebahan di dalam kamar. Brin dan Vania sudah pulang beberapa menit yang lalu. Untung saja Clara tidak membahas tentang kepindahan mereka kerumah Vania, kalau sampai Clara menanyakan itu ketahuan sudah kalau sebenarnya Ethan lah yang ingin pindah.
Ethan tidak suka bertetangga dengan Benny. Pria yang sudah mapan tapi sama sekali belum berkeinginan memiliki istri.
Clara menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Ethan. Dia sebenarnya masih sangat sedih. Bagaimana mungkin dia tidak sedih bila ada kenangan tentang Ibunya? Ibu yang begitu menyayangi Clara dengan segenap hati dan jiwanya.
Ethan merapatkan diri dan memeluk istrinya.
"Mulai sekarang anggaplah Mama Vania seperti Mama kandungmu sendiri. Mama juga sangat menyayangimu." ucap Ethan berusaha menenangkan Clara.
Clara dengan patuh menganggukkan kepalanya.
"Kapan kita mulai pindah ke rumah mama?" tanya Ethan pula.
"Kalau begitu pas hari sabtu saja bagaimana? Supaya ada waktu buatmu untuk menyiapkan barang-barang" usul Ethan.
Clara pun kembali menganggukkan kepala.
"Tidurlah, Aku akan memelukmu. Kamu tidak sendiri, walau Mama sudah tidak ada tapi ada Aku sekarang yang akan menemanimu" ucap Ethan.
Bukannya senang , Clara malah kembali meneteskan air matanya. Dia takut kalau ternyata ini hanya sesaat saja mengingat sampai saat ini Ethan belum bisa mencintainya. Clara tidak ingin nanti setelah dia bergantung pada suaminya, Ethan malah meninggalkannya.
Clara tidak akan sanggup. Trauma ditinggalkan Mamanya masih membekas hingga sekarang dan Clara tidak ingin merasakan yang kedua kalinya.
"Kenapa menangis lagi hem?" tanya Ethan sambil mengangkat wajah istrinya untuk menatap dirinya.
Clara hanya menggelengkan kepala. Dia belum siap mengatakan kepada Ethan kalau dirinya takut kehilangan suaminya ini.
"Tidak apa sesekali terlihat lemah, kita hanya manusia biasa. Bila kamu merasa bersedih jangan segan untuk mengatakannya kepadaku. Kita adalah suami dan istri. Walau pernikahan ini bukan keinginan kita setidaknya kita belajar untuk menerima pernikahan ini" ucap Ethan pula.
Jujur Clara pun ingin demikian. Tapi Clara tidak mau kalau ternyata setelah dirinya sudah memberikan seratus persen hatinya untuk Ethan, Ethan malah meninggalkannya dan mengejar cintanya sendiri.
"Akan sesakit apa diriku bila itu sampai terjadi? Biarlah kita begini saja. Setidaknya aku tidak akan terlalu patah hati nantinya" ucap Clara dalam hati.
Ethan mengelus-elus punggung Clara berharap Clara segera terbuai ke alam mimpi. Tak lama cara itu ternyata berhasil. Dengkuran halus sudah terdengar yang artinya Clara sudah masuk ke alam mimpi. Berbeda dengan Ethan yang malah tidak bisa tidur sama sekali. Ethan merasakan tubuhnya begitu panas saat ini.
Bersambung....