My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Pindah



Clara menaik turunkan alisnya demi menggoda Ethan yang saat ini telinganya sudah memerah.


Dasar memang egonya tinggi, rasanya sulit sekali mengatakan kalau dia cemburu dan tidak tenang membiarkan Clara pergi seorang diri.


Tapi selain cemburu , perasaan Ethan memang tidak baik.


Dia merasa khawatir berlebih tanpa sebab dan wajah Clara selalu terbayang-bayang. Ternyata ini arti kekhawatirannya, kejadian buruk menimpa istrinya.


Clara mendekatkan wajahnya semakin menggoda sang suami. Kesempatan itu malah dimanfaatkan dengan baik oleh Ethan. Dia langsung menyambar bibir ranum istrinya hingga Clara gelagapan.


Ethan terkekeh saat ciuman mereka terlepas. Wajah Clara yang awalnya begitu gencar menggodanya kini malah berbalik. Clara lah yang menjadi malu hingga wajah putih saljunya menjadi memerah.


"Mau lagi?" Ethan semakin gencar menggoda Clara.


Clara menyilangkan tangan di depan dada. Selalu saja akhirnya dia yang kalah bila berurusan dengan Ethan. Padahal Clara ingin sekali mendengar kalau Ethan sudah mulai menaruh hati padanya.


Saat hendak menjalankan mobilnya, panggilan masuk dari Arlan. Arlan terdengar begitu khawatir.


"Tidak perlu khawatir seperti itu. Clara aman bersamaku. Aku suaminya. Tugasmu cuma mengurus kepindahan mereka" sungut Ethan karena Arlan begitu mengkhawatirkan istrinya.


Arlan tidak mau memperpanjang lagi pembicaraannya dengan Ethan hingga dia memilih mengakhiri panggilab telepon tersebut.


"Kepindahan kemana? Kamu mau memenjarakan mereka lagi?" Clara terdengar kurang setuju dengan rencana Ethan.


Ethan menggeleng.


"Tidak, mereka tidak akan jera. Aku memindahkan mereka ke benua lain. Hak kependudukan mereka di negara kita sudah dipindahkan Arlan ke negara lain." jawab Ethan.


"Apa?". Bukannya tidak mendengar tapi Clara terkejut mendengar penjelan Ethan.


"Orang seperti Agnes tidak akan pernah sadar. Satu-satunya cara adalah mencabut kewarganegaraannya dari sini.".


"Tapi..." Clara melayangkan protesnya.


"Sudah tidak ada penolakan. Semua orang tua sudah setuju dengan ide ku. Ini demi kamu, Demi adik kamu. Dan Arlan juga takut mereka akan berbuat jahat pada Friska" potong Ethan sebelum Clara selesai melayangkan protesnya.


Clara baru teringat kalau ada balita lucu itu yang harus mereka jaga.


Ethan kemudian menjalankan mobilnya kembali.


"Papa juga meminta ku mencarikan bodyguard untukmu" lanjutnya.


Clara tercengang. Dia sudah seperti artis saja kalau ditemani bodyguard.


"Tapi aku bilang tidak perlu karena mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri. Walau urusan pekerjaan tetap harus bersamaku" Ucapan Ethan seketika membuat Clara lega. Clara yakin akan sangat tidak nyaman bila bepergian ditemani Body guard.


"Nanti setelah Papa pulang, Mama sudah mempersiapkan resepsi pernikahan kita. Kamu tidak apa-apa kan kalau pernikahan kita diketahui umum?" ucap Ethan pula.


"Bukannya dari awal kamu yang tidak setuju?".


Ethan terkekeh. Istrinya selalu saja mengungkit tentang itu.


"Baik, berarti tidak apa-apa ya? Mama juga ingin resepsinya mengundang wartawan."


"Ya terserah saja. Aku ngikut" jawab Clara pasrah.


"Kamu memangnya tidak mempunyai dream wedding?" Ethan tidak ingin egois. Pendapat Clara juga harus didengarkan karena pernikahan ini melibatkan dua orang bukan hanya dirinya. Apalagi Mamanya.


Clara menggeleng.


"Tidak ada, buatku bukan pestanya. Tapi komitmen kamu dalam pernikahan yang aku butuhkan" jawaban Clara tentu saja membuat Ethan bangga. Clara memang berbeda dan semakin terlihat menarik.


Ethan yang awalnya fokus menatap jalanan kemudian menoleh pada istrinya yang saat ini sedang melihat ke arah luar jendela.


Ethan elus puncak kepala Clara.


"Aku akan berusaha menjadi suami yang terbaik untukkmu".


Sayangnya Ethan berucap dalam hati. Dia masih belum mau mengakui perasaannya pada sang istri.


Bersambung...