
Hari demi hari berlalu, hubungan antara Ethan dengan Clara semakin membaik. Ethan pun tidak segan memeluk bahkan mencium istrinya. Tapi walau begitu hingga kini kata cinta belum keluar dari keduanya.
Seperti saat ini, Ethan sedang bermanja-manja dengan istrinya. Tidak peduli kalau mereka menjadi tontonan beberapa karyawan yang sedang berada di lokasi shooting. Ethan malah tidur di pangkuan istrinya. Bukan sekedar tidur tapi benar-benar tidur. Semalaman dia harus menemati Clara yang lagi-lagi tidak bisa tidur. Bila biasanya Clara akan membiarkan Ethan tidur lebih dulu tapi semalam dia sengaja mengganggu suaminya hingga Ethan pun ikut-ikutan terjaga.
Arlan yang baru saja tiba merasa cemburu melihat kedekatan antara Ethan dan juga Clara. Tapi dia juga ikut bahagia karena akhirnya kedua orang ini bisa saling menerima satu sama lain.
“Tidur?” tanya Arlan yang ikut duduk disebelah Clara.
Clara menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Kamu sakit?” tanya Arlan pula. Wajah Clara terlihat letih dan pucat.
Clara menggelengkan kepalanya.
“Tidak, hanya akhir-akhir ini aku susah tidur. Mungkin karena itu” aku Clara.
“Sudah aku katakan jangan terlalu memikirkan tentang Agnes. Dia sudah nyaman tinggal disana. Bahkan kabarnya dia sudah mempunyai teman dekat pria. Kamu tidak usah khawatir” Arlan sepertinya paham apa yang membuat Clara tidak bisa tidur belakangan ini.
“Tidak kok, aku tidak memikirkan itu. Aku hanya merasa gerah saja padahal suhu AC sudah yang paling dingin”
“Periksakan diri saja ke dokter. Kalau dibiarkan kamu bisa insomnia” saran Arlan.
Ethan sepertinya terusik dengan obrolan tersebut. Dia mengeratkan pelukannya pada perut sang istri.
“Ini lagi kenapa manja sekali? Sudah tau istrinya sakit malah bermanja-manja begini” kesal Arlan sambil menarik rambut Ethan.
Tentu saja Ethan terusik. Dengan kepala yang masih berputar karena bangun tidur dia bangkit dari pembaringan. Mata Ethan terlihat masih menyipit dan bibirnya menguap. Terlihat sekali kalau dia masih mengantuk.
Saat kesadarannya sudah penuh, Ethan sudah siap-siap adu mulut dengan Arlan. Tapi melihat wajah pucat istrinya membuat Ethan mengurungkan niatnya. Wajah putih Clara seperti tidak dialiri darah sama sekali.
“Kamu sakit?” tanya Ethan khawatir sambil membelai wajah istrinya.
“Kita ke rumah sakit ya? Apa mau istirahat di rumah?”.
Ethan tidak ingin istrinya kembali sakit seperti sebulan yang lalu.
“Gak apa-apa kok. Mungkin efek tidak bisa tidur semalaman”.
“Iya mending kamu bawa istri kamu ke rumah sakit. Pucatnya sudah tidak wajar” Arlan cukup khawatir dengan keadaan temannya itu.
Ethan mengangguk lalu menuntun Clara yang tidak bisa protes karena kedua pria di depannya ini memaksa untuk membawa ke rumah sakit.
“Kamu masih kepikiran dengan Agnes?” tanya Ethan saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
Clara menggelengkan kepala.
“Lalu kenapa kamu tidak bisa tidur? sudah beberapa hari ini kamu begadang terus. AC sudah dingin kamu minta dikipasin. Tidak boleh di peluk” Ethan tanpa sadar mengeluarkan protesnya karena beberapa hari ini Clara tidak memperbolehkan dirinya untuk memeluk tubuh istrinya itu. Padahal Ethan sudah terbiasa menjadikan Clara sebagai guling hidupnya.
“Gerah, aku kepanasan” balas Clara sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba rasa kantuk menyerang mendengar omelan Ethan.
Ethan hanya menggelengkan kepala karena nafas Clara sudah naik turun dengan teratur yang artinya dalam hitungan detik saja dia sudah masuk ke alam mimpi.
“Kasihan istriku” Ethan mengelus-elus rambut istrinya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain standby di kemudi.
Ethan juga merebahkan kepala Clara pada bahunya.
“Istirahat ya sayang”.
Ethan mencuri kecup di puncak kepala istrinya kemudian kembali fokus mengemudi.
Bersambung...