My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Maaf



Langkah Clara begitu memburu, dia sendiri tidak mengerti kenapa dia begitu sensitif. Biasanya Clara bisa sedikit lebih sabar dan memilih diam. Tapi sekarang rasanya gatal untuk tidak membalas ucapan suaminya.


Menurut Clara, Ethan tidak berkaca pada diri sendiri. Ethan pintar mengomentari Arlan yang belum bisa mencintai Chila, tapi dirinya sendiri pun sama seperti itu. Hingga kini pun belum ada cinta yang Ethan berikan untuk Clara. Malah Arlan lebih baik karena walau belum bisa mencintai Chila seratus persen setidaknya Arlan masih memperlakukan Chila dengan baik. Arlan perhatian dan sayang. Sedangkan Ethan kadang baik dan lebih sering menyebalkan.


"Clara...tunggu dulu".


Dalam sekejap saja Ethan sudah bisa meraih bahu istrinya. Walau Clara berjalan cepat tapi langkahnya kalah lebar dengan langkah Ethan.


"Hey... Maafkan aku". Ethan berucap sambil memegang kedua pundak istrinya.


Clara sama sekali tidak melihat ke arah suaminya. Saat ini dia masih kesal.


Ethan membawa Clara ke dalam pelukannya.


"Maaf ya".


Kecupan mesra sudah mendarat di puncak kepala Clara.


"Aku tidak bermaksud apa-apa. Maafkan aku ya?".


Ethan masih memeluk tubuh istrinya. Tangannya terus mengelus-elus punggung istrinya.


“Kenapa aku bisa sesensitif ini?” batin Clara merasa heran dengan dirinya sendiri.


Clara hanya berpikir apakah salah bila dia merasa kalau Ethan lebih mengerti Chila daripada dirinya? Bolehkah Clara meminta perhatian Ethan hanya untuk dirinya saja?.


Clara sebenarnya bosan karena perdebatan dirinya dengan Ethan hanya itu-itu saja. Tapi kalau Clara diam saja dan legowo menerima semuanya maka akan kembali terulang hal yang sama.


….


Hari ini adalah hari kebebasan Agnes dan Marlon. Bukannya jera atas apa yang sudah menimpa mereka, keduanya malah semakin dendam dengan Chila serta Arlan. Mereka sudah menyusun rencana untuk membalas perlakuan Arlan.


“Aku akan membuat dia hancur sehancur hancurnya” ucap Agnes geram.


“Tapi bagaimana caranya Nes? Dari materi saja kita sudah kalah jauh” Sebenarnya Marlon agak ragu karena takut akan kembali mendekam di dalam penjara.


“Apa? Tidak aku tidak mau” Marlon protes dengan rencana Agnes.


“Dengan Chila saja kita susah, apalagi Clara. Aku tidak mau mencari gara-gara dengan dia” ucap Marlon tidak setuju.


“Kalau Chila kemana-mana pasti ditemani Arlan kita lebih susah menjebaknya , tapi Clara tidak. Dia selalu sendiri dan dia juga tidak memiliki kekasih. Bukankah lebih mudah?” ucap Agnes meyakinkan.


Marlon nampak berpikir. Dia memang dendam dengan Arlan tapi bukan dengan Clara. Lalu kenapa harus Clara?.


“Kenapa Clara? Kita kan tidak mempunyai masalah dengan dia?” tanya Marlon pula.


Agnes tersenyum menyeringai.


“Kamu harus tau satu hal kalau Arlan sangat menyukai Clara. Aku sudah berteman lama dengan mereka dan aku sangat tau kalau Arlan menyukai Clara”.


Marlon sendiri memang tidak mengenal Clara secara pribadi. Dia hanya tau ketiga orang itu dari cerita-cerita yang sering Agnes bicarakan.


“Aku takut kalau kita harus kembali mendekam di penjara. Masa depan kita sudah hancur Nes” marlon masih belum bisa menerima ide Agnes.


“Justru karena masa depan kita sudah hancur kita harus membuat mereka juga merasakan hal yang sama. Kalau perlu kita racuni saja di Clara biar menyesal si Arlan itu berurusan dengan kita” sungut Agnes kesal. Dia sangat dendam dan benci dengan Arlan.


Marlon masih diam. Jujur dia takut berurusan dengan anak orang kaya seperti Arlan. Dia yang hanya dari kalangan biasa-biasa saja tentu akan kalah bila harus berurusan dengan mereka.


“Clara adalah pewarisnya. Selain kita bisa membuat Arlan sakit hati dan menderita kita juga bisa mendapatkan harta Clara” Agnes kembali membujuk Marlon.


Marlon memperhatikan foto Clara yang tergeletak di atas meja.


“Cantik sekali, berkali-kali lipat lebih cantik dari Chila. Aku harus mendapatkan wanita ini” gumam Marlon yang tentu saja membuat Agnes bahagia luar biasa.


"Tunggu saja pembalasanku Ar...Kamu akan menyesal sudah membuatku mendekam di dalam penjara" ucap Agnes dalam hati.


Bersambung...