My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Kencan



Mungkin bisa dikatakan ini kencan pertama bagi Ethan dan Clara setelah mereka sama-sama mengakui perasaan masing-masing. Walau hanya sekedar makan Pizza tapi aura kebahagian terlihat jelas di wajah cantik Clara saat ini. Sepanjang perjalanan menuju restoran Clara selalu tersenyum.


“Padahal cuma pergi makan pizza tapi dia sesenang itu” gumam Ethan dalam hati.


10 menit saja mereka sudah sampai di restoran yang menjual beraneka ragam pizza, pasta dan makanan khas italia lainnya. Ethan merangkul istrinya saat masuk ke dalam restoran, walau keadaan Clara sudah membaik tapi Ethan tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk lagi pada istri dan calon anaknya.


Pelayan restoran menyambut mereka dan mengantarkan ke tempat yang masih kosong, restoran itu lumayan terkenal hingga banyak pengunjung yang saat ini makan disana.


Clara bukanlah orang yang makan dalam jumlah besar tak heran tubuhnya begitu langsing. Tapi kali ini dia memesan dua loyang pizza berukuran besar, spaghetti serta lasagna.


“Jangan sampai seperti saat kami liburan bertiga, dia yang beli kue aku dan Arlan yang habiskan” ucap Ethan hati mendengar pesanan istrinya. Tapi Ethan tetap menuruti karena keinginan tuan putri memang wajib hukumnya untuk dijalankan.


“Ethan.. Apa kabar? Senang bertemu kamu disini” ucap seseorang yang Clara yakini bukan berasal dari negara mereka. Wanita itu bahkan hampir memeluk tubuh Ethan tapi dengan cepat Ethan menghindar. Cara sapaan di luar negeri memang normal seperti itu.


“Oh hai Jenny, apa kabar?” sahut Ethan basa-basi.


Wanita yang bernama Jenny itu malah ikut bergabung duduk disana.


“Clara , dia Jenny teman satu kelas dulu saat kuliah” jelas Ethan. Dia dan Clara dulu memang tidak berada di kelas yang sama.


“Jenny, kenalkan ini Clara istriku” ucap Ethan pula.


Jenny begitu terkejut.


“Wow..kamu sudah menikah?” ucapnya terkejut.


Ethan pun menganggukkan kepalanya.


Jenny kemudian mengulurkan tangannya pada Clara dan mereka saling berkenalan.


“Cantik sekali istrimu” ucap Jenny terdengar tulus.


Jenny seperti mengingat-ingat kapan dia pernah bertemu dengan Clara.


“Sepertinya tidak asing. Kita pernah bertemu dimana ya?” tanya Jenny mengingat-ingat.


“Kita dulu satu almamater. Cuma beda kelas. Mungkin kamu lihat disana” jelas Ethan.


“Tidak, sepertinya tidak. Aku jarang bersosialisasi dengan kelas lain. Selesai kelas langsung pulang. Wajahmu familiar sekali. Seperti artis” ucap Jenny pula.


“Oh…aku ingat. Kamu yang bintang iklan Manila Food bukan? Di negaraku Manila Food sedang naik daun dan iklanmu diputar berulang-ulang” ucap Jenny semangat.


Setiap Ethan mengingat tentang iklan istrinya dengan Benny rasanya dia begitu kesal.


“Awalnya aku dan istriku yang diminta untuk menjadi bintang iklannya. Tapi pemiliknya berubah pikiran. Coba kalau aku yang menjadi bintangnya pasti semakin terkenal” ucap Ethan membanggakan diri.


“Untung bukan kamu ya” ledek Jenny.


“Aku tidak yakin akan booming karena model iklan pria disana lebih tampan” Jenny sengaja menggoda Ethan.


“Benarkan Clara?” Jenny meminta pendapat Clara.


Clara hanya tertawa kecil saja. Tidak membantah maupun mengiyakan.


“Sayang… tentu saja suamimu ini yang lebih tampan bukan?” Ethan tidak terima karena Clara tidak menjawab.


“Hey tolong jangan berbicara menggunakan bahasa kalian. Aku tidak mengerti” protes Jenny. Ethan tidak peduli dia sengaja berbicara dengan bahasanya sendiri agar Jenny semakin tidak mengerti.


Bersambung…