
Saat ini Ethan dan Clara sudah sama-sama berbaring di ranjang rumah sakit di ruang rawat inap Ethan. Arlan sudah memesankan bed yang lebih besar hingga mereka bisa di rawat di ruangan yang sama.
Melihat bagaimana Ethan begitu mencintai Clara membuat Arlan sudah semakin bisa mengikhlaskan cintanya.
Tapi sebelum dia benar-benar belajar menerima itu semua, Arlan akan mengungkapkan perasaannya supaya dia lega. Mungkin selama ini dia belum bisa menerima ini semua karena sampai saat ini dia belum menyampaikan secara langsung kalau dirinya pernah begitu mencintai Clara.
Arlan masih berada di ruangan rawat Ethan serta Clara. Dia menyaksikan bagaimana Ethan terus memeluk istrinya. Terlihat sekali kalau Ethan sangat takut kehilangan istrinya lagi.
“Aku ke kamar papa dulu ya” pamit Arlan pada keduanya.
“Terima kasih ya Ar” ucap Clara tersenyum begitu manis.
“Sama-sama” balas Arlan juga dengan tersenyum.
Ethan cemburu sebenarnya melihat istrinya tersenyum pada pria yang jelas-jelas mencintainya tapi Arlan memang layak diberikan terima kasih karena dia sudah sibuk mengurus ini dan itu untuk mereka berdua termasuk Gavin.
Saat Arlan sudah meninggalkan ruangan rawat tersebut, Ethan terlihat cemberut. Dia bahkan melepas pelukannya dan memunggungi istrinya.
Clara tentu saja bingung dengan sikap suaminya.
“Kamu kenapa?” tanya Clara bingung.
“Aku tidak suka kamu tersenyum begitu pada Arlan!” jawab Ethan ketus.
“Dia kan teman kita, adik iparku juga” balas Clara yang semakin bingung dengan sikap suaminya.
Ethan kembali membalik tubuhnya. Dia pandangi lekat-lekat wajah istrinya. Sepertinya istrinya ini memang tidak tau apa-apa.
“Arlan mencintaimu sejak lama. Apa kamu tidak menyadarinya?”.
“Arlan mencintaiku?” Clara seolah tidak percaya dengan ucapan suaminya.
Ethan kembali memeluk istrinya. Dia kembali takut kalau istrinya marah dan pergi lagi.
“Iya, sudah dari bertahun-tahun yang lalu. Itulah kenapa aku pernah bilang kalau kasihan pada Chila karena dia harus melihat suaminya mencintai kakaknya sendiri” jelas Ethan sambil mengeratkan pelukannya. Ethan juga menghadiahi ciuman di puncak kepala istrinya.
“Jadi wanita yang Arlan cintai itu aku?”.
Ethan pun menganggukkan kepalanya.
“Coba dari awal aku dijodohkan dengan Arlan ya, pasti aku tidak akan sakit hati dijodohkan denganmu” Clara sengaja menggoda suaminya yang tentu saja berhasil membuat Ethan kesal.
Clara terkekeh.
“Tentu saja” jawab Clara.
Wajah Ethan sudah memerah. Dia tidak suka dengan jawaban istrinya.
“Tentu saja tidak” lanjutnya.
Clara tertawa kecil.
“Kita satu sama kan? Kamu juga bilang begitu pada Papa”.
Setiap Clara membahas pembicaraan Ethan dengan Gavin maka Ethan akan selalu merasa bersalah akan hal itu.
“Jangan bahas itu lagi. Aku menyesal sayang”.
Ethan enggan bila Clara membahas itu lagi.
“Apa kamu masih belum percaya kalau aku benar-benar mencintaimu?” tanya Ethan pula.
Clara menggeleng.
“Aku percaya. Aku bisa melihat rasa cintamu padaku” ucap Clara sambil membelai wajah suaminya yang saat ini alisnya masih ditekuk.
Ethan perlahan mengendurkan wajahnya.
“Terima kasih. Aku memang sangat mencintaimu” balas Ethan sambil mencuri cium di kening istrinya.
“Kamu sendiri belum pernah mengungkapkan perasaanmu. Apa kamu mencintaiku?” Ethan ingin sekali mendengar pernyataan cinta dari istrinya. Apakah cintanya berbalas atau dia cinta seorang diri.
“Menurutmu bagaimana?” tanya Clara dengan tersenyum lembut.
Ethan dekatkan wajahnya. Dia belai pipi istrinya yang masih berwarna pucat itu.
“Bukan menurutku. Tapi inginku. Aku ingin kamu juga mencintaiku” Ethan mencium kening istrinya sekali lagi dengan penuh perasaan. Masih seperti mimpi sekarang dia bisa memeluk dan mencium istrinya seperti ini.
Bersambung...