
"Aku tau selama ini aku sudah begitu menyakiti hatimu. Aku bukan suami yang baik. Aku janji aku akan berusaha lebih keras lagi untuk menghapus nama Clara dari hatiku." Arlan bersungguh-sungguh. Dia sudah berusaha keras untuk melupakan Clara. Tapi tentu melupakan itu tidak mudah. Tidak mungkin kan dia harus lupa ingatan dulu baru bisa melupakan? Atau melakukan hipnoteray? Tapi yang Arlan ingin lakulan bukan melupakan tapi menggantikan nama Clara dengan nama Chila dihatinya.
Kata-kata Arlan malah semakin membuat Chila sakit hati. Kenyataan kalau Clara masih ada di hati suaminya membuat Chila ingin menyerah saja.
Untuk apa bertahan bila untuk disakiti terus?.
"Jangan punya keinginan untuk meninggalkan aku. Aku mohon" pinta Arlan pula.
Chila tidak mengerti kenapa Arlan ini bagaikan cenayang yang seolah paham apa yang dia pikirkan.
"Kamu egois. Kamu memintaku untuk tidak meninggalkanmu tapi hati kamu masih untuk wanita lain" Chila sudah terisak saat ini.
"Maafkan Aku. Aku akan berusaha menghapus nama dia dihatiku. Aku janji" balas Arlan.
Entah sudah berapa kali Arlan berjanji seperti itu tapi hingga kini tetap saja dia belum bisa melupakan Clara.
"Sampai kapan? Aku lelah" Air mata Chila terus berjatuhan. Sungguh dia capek menunggu Arlan berpaling padanya.
"Aku janji tidak akan lama. Aku ingin meminta ijin padamu untuk menyatakan perasaanku pada Clara. Aku harap setelah itu aku bila lega dan menghapus namanya dari hatiku."
"Aku mohon...ijinkan aku". Arlan kembali memohon.
Chila semakin sesenggukan. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan seorang istri mendengar suaminya memohon ijin untuk menyatakan perasaan pada wanita lain? Apalagi wanita itu adalah kakaknya sendiri?.
Andai bisa memilih, Chila tidak mau jatuh cinta pada Arlan. Pria yang jelas-jelas mencintai kakaknya sendiri.
"Aku mohon..." Arlan kembali memohon pada istrinya.
"Kalau itu memang membuat kakak lega silahkan kak. Tapi jika kakak tetap tidak bisa melupakan kak Clara sebaiknya kita memang harus berpisah. Aku lelah menunggu kak" wajah kecewa terlihat jelas di wajah Chila saat ini dan tentu saja membuat Arlan semakin merasa bersalah.
Ar...apa yang kamu lakukan selama ini? Kamu menyia-nyiakan wanita sebaik Chila. Padahal dari awal pun kamu tidak akan pernah bisa bersama Clara. Arlan bergumam dalam hati.
Arlan mengeratkan pelukannya. Rasa bersalahnya semakin menumpuk melihat istrinya menangis seperti ini.
"Aku tidak mau berpisah. Tidak akan pernah mau. Aku sayang sama kamu Chila" Arlan tidak suka mendengar Chila ingin pergi dari hidupnya.
"Tapi aku lelah kak".
"Satu kesempatan lagi, aku janji akan berubah" janji Arlan.
Terpaksa Chila menganggukkan kepalanya.
Dia sudah pasrah sekarang. Kalau memang Arlan tetap tidak bisa mencintainya maka dia akan menyerah.
"Kamu sudah makan?" tanya Arlan sambil mengurai pelukannya.
Dia rapikan rambut istrinya yang berantakan serta dia hapus sisa air mata yang mengalir di pipi sedikit cubby milik Chila.
Chila menganggukkan kepala.
"Kalau begitu kamu pulanglah. Biar aku yang jaga papa disini. Friska pasti sudah merindukanmu" pinta Arlan lembut.
Chila kembali menganggukkan kepala.
Cup.
Arlan mencium kening istrinya.
"Hati-hati ya" pesan Arlan.
"Iya" balas Chila dan berpamitan pada Papanya yang saat ini masih tertidur dengan lelap.
*Chila...maafkan Aku...aku berjanji akan berubah.
Bersambung*...