My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
I Love You



Clara tertidur dengan damai di atas brangkar rumah sakit yang ada di kamar VVIP di rumah sakit milik dokter Kevin. Kamar yang sengaja Ethan pesan untuk istrinya agar dia nyaman selama berada disini.


Selain ranjang pasien, disana juga tersedia satu lagi ranjang untuk penunggu pasien. Selama istrinya tidur, Ethan pun ikut-ikutan tidur karena jujur dia masih sangat mengantuk karena beberapa hari ini selalu menemani istrinya begadang.


Kedua sejoli itu nampak tertidur di ranjang masing-masing dengan begitu lelapnya. Bahkan saat Vania masuk ke dalam kamar inap itu pun mereka tidak menyadarinya.


“Ckckck… Bisa-bisanya Ethan ikut tertidur” Vania tidak habis pikir dengan putranya yang malah tidur dengan lelap sekali.


Vania mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan tersebut. Sambil menunggu anak dan menantunya terbangun dia memilih scroll website salah satu luxury bag favoritnya. Vania memang wanita sosialita yang gemas mengoleksi barang-barang dengan brand ternama. Sangat berbeda dengan Clara yang sangat jarang berbelanja barang mewah. 


Clara sangat mirip dengan Mamanya, mungkin karena didikan sang Mama baik Clara maupun Chila sangat jarang membeli barang ber merek walau mereka tetap mempunyainya. Tapi tentu saja tidak seperti Vania yang bisa seminggu tiga kali atau bahkan setiap hari bila ada discount membeli barang-barang mewah tersebut.


Saat sedang asyik menscroll website luxury bag tersebut, Ethan pun terbangun dari tidurnya. Ethan membuka mata dan melihat ke arah istrinya yang masih tertidur. Ethan belum menyadari kalau Vania sudah berada di ruangan tersebut.


Ethan dudukkan tubuhnya dan turun dari ranjang. Dia mendekati istrinya dan duduk di kursi yang memang ada disebelah ranjang istrinya. Ethan genggang tangan mulus itu dan menciumnya beberapa kali. Ethan juga mengelus-elus rambut istrinya dengan sayang. Dia terus menatap intens pada istrinya. Tatapan yang memang bisa menunjukkan cinta disana. Vania melihat sendiri bagaimana cara Ethan memperlakukan istrinya.


Vania sengaja tidak menegur dan membiarkan Ethan melakukan apapun yang dia inginkan. Ethan rebahkan kepalanya disisi tempat tidur istrinya sambil tangannya menggenggam tangan itu. Tidak ada yang Ethan ucapkan tapi Vania sangat yakin kalau semua tindakan yang Ethan lakukan adalah ungkapan kasih sayangnya pada sang istri.


Ethan juga mengelus-elus perut istrinya yang masih rata itu. Ethan tidak bisa mengungkapkan bagaimana bahagianya dia saat ini. Walau pernikahan ini awalnya tidak dia inginkan tapi sekarang dia tidak bisa jauh-jauh lagi dari istrinya.


Ethan sangat menyadari kalau dirinya sudah jatuh cinta yang begitu dalam kepada Clara. Ethan bangkit dari duduknya. Dia elus rambut istrinya kemudian membisikkan kata cinta disana.


“I Love You” ucapnya lirih sekali. Dia tidak ingin membangunkan istrinya yang masih terlelap itu. Selesai mengucapkan kata cinta Ethan membalik tubuhnya dan begitu terkejut melihat Vania yang melihat ke arahnya sambil tersenyum menyeringai. Ethan sangat tau apa maksud dari senyum Ibunya itu.


Vania tertawa kecil.


“Sudah lama, yang jelas jauh sebelum kamu mengatakan mencintai istrimu” Vania semakin menggoda anaknya.


Ethan memutar bola matanya malas lalu duduk disebelah Mamanya.


“Kamu sudah hubungi mertuamu?” tanya Vania yang teringat dengan Gavin.


“Sudah ma, Papa belum bisa pulang. Papa akan usahakan kembali paling lama satu minggu lagi. Ada bebebapa pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan” jawab Ethan.


Vania pun terlihat menganggukkan kepalanya.


“Gimana keadaan Clara, semuanya baik-baik saja kan?” tanya Vania pula.


“Tekanan darahnya rendah dan kelelahan. Jadi dokter meminta istirahat dulu sehari dua hari di rumah sakit Ma. Tapi kata dokter tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Asal Clara bisa menjaga emosi dan tidak sampai stress” jelas Ethan berdasarkan informasi yang dia dapat dari dokter yang menangani Clara.


“Ma, dokter kandungan disini semuanya pria, Nanti aku mau cari rumah sakit lain saja ya … yang ada dokter wanitanya” Belum apa-apa Ethan sudah menunjukkan sikap posesifnya.


Bersambung...