My Enemy, My Love

My Enemy, My Love
Kabar



Derap langkah kaki Ethan menggema memenuhi koridor sepanjang jalan menuju ruangan CCTV.


Yang ada dalam pikiran Ethan saat ini adalah mengetahui kemana perginya Clara.


"Kamu kemana sayang? Kenapa kamu tidak mengabariku? Kenapa kamu pergi begitu saja?" Ethan bertanya-tanya dalam hati. Dia tidak mengerti mengapa istrinya pergi tanpa menitipkan pesan sama sekali. Bahkan ponselnya pun tidak aktif.


Ethan begitu khawatir dengan keadaan istrinya. Entah kenapa dia merasa gelisah tanpa sebab. Padahal bisa saja Clara pergi ke restoran di bawah atau sekedar jalan-jalan.


Tapi itu semua bukanlah sifat istrinya. Clara bukan orang yang suka pergi-pergi tanpa mengabari terlebih dahulu.


Semarah dan sekesal apapun dia pasti akan mengabari.


"Tadi sebelum meeting masih normal-normal saja. Tapi kenapa sekarang malah pergi tanpa mengabari? Kamu kemana sayang?".


Melihat kondisi istrinya yang lemah membuat Ethan begitu cemas.


"Dimana kamu sayang?" Ethan begitu frustasi saat ini.


Langkah Ethan semakin memburu bahkan setengah berlari begitu sebentar lagi sampai di ruang CCTV.


Petugas disana menunduk sopan saat Ethan masuk ke ruangan tersebut.


"Ada yang bisa dibantu pak?" tanya petugas itu sopan.


"Tolong buka CCTV kurang lebih 1 jam yang lalu" pinta Ethan.


Petugas tersebut menganggukkan kepala dan mulai menjalankan perintah atasannya tersebut.


Saat itu juga Arlan dan Gavin juga ikut masuk ke dalam ruangan.


"Bagaimana?" tanya Gavin khawatir.


"Mssih dicari pa" jawab Ethan.


Petugas itu kemudian memperlihatkan rekaman CCTV yang menampilkan Clara baru keluar dari ruangan meeting. Saat itu Clara masih terlihat tersenyum.


Ethan begitu takut. Takut kalau istrinya diculik.


"Ar, kamu yakin kan kalau keluarga Agnes ataupun Marlon tidak akan ada yang membalas dendam? Bagaimana kalau istriku diculik?" Ethan begitu panik saat ini.


"Tidak mungkin, keluarga mereka sudah menandatangangi perjanjian. Kalau mereka melawan mereka juga akan dipindahkan ke negara tersebut" jawab Arlan yakin.


Ethan kembali meminta petugas itu untuk mencari sudut CCTV lain yang menangkap bayangan istrinya.


Sampai akhirnya terlihat Clara hampir membuka pintu ruangan tapi dia mengurungkan niatnya.


Deg.


"Apa yang Papa dan Ethan biacarakan sampai-sampai Clara seperti itu?" Arlan menuntut penjelasan.


Ethan mengingat-ingat apa saja yang dia bicarakan dengan mertuanya.


"Seingatku aku mengatakan kalau aku mencinta i..." kata-kata Ethan terputus.


"Jangan...jangan...." lanjutnya.


"Jangan-jangan apa?" Arlan tidak sabar ingin mendengar kelanjutannya.


Ethan meraup wajahnya frustasi. Dia juga menyugar beberapa kali rambutnya kebelakang.


"Sial...Pasti Clara salah paham. Aku yakin dia tidak mendengarkan sampai akhir".


Ethan memekik. Dia tidak menyangka kalau Clara akan mendengar percakapannya dengan Gavin.


Ethan kemudian kembali memeriksa CCTV dan melihat kemana kira-kira istrinya pergi.


Ethan kembali merasa bersalah ketika melihat Clara menangis sambil memegang perutnya.


"Kamu salah paham sayang...Aku mencintaimu" Ethan begitu frustasi saat ini.


"Cari lagi pak sudut lain" titah Ethan.


Petugas itu menurut dan mencari keberadaan istri boss nya tersebut.


Akhirnya mereka melihat Clara ikut rombongan team yang shooting ke luar kota.


"Clara ke luar kota!" Ethan rasanta menemukan titik terang keberadaab istrinya.


Saat itu juga ada seorang karyawan dengan nafas ngosngosan karena habis berlari memasuki ruangan CCTV.


"Pak...ada kabar buruk..." ucap staff itu sambil mengatur nafasnya.


"Ada apa?" Arlan yang bertanya.


"Rombongan team yang shooting keluar kota mengalami kecelakaan dan masuk jurang" ucap staff tersebut masih terengah-engah.


Deg


Deg


"Clara.......!!!" Ethan berteriak histeris.


Bersambung...