My Desire

My Desire
Happy Ending



"Tuan.. nyonya Aira ada disini.." lapor Noah.


"Kau sudah katakan kalau aku sedang rapat.. suruh tunggu sebentar.."


"Sudah tuan tapi nyonya Aira tidak mau tahu.. ia mau bertemu dengan tuan sekarang.."


"Bujuk dia.. belikan permen kapas atau apalah yang dia suka.. aku butuh lima belas menit lagi hingga rapat ini selesai.."


"Baik tuan.."


Noah berbalik menuju pintu. Belum sampai ia membuka pintu, Aira sudah keburu masuk.


"El sayang.. kau mengabaikanku..?" teriaknya setengah menangis. Ia mengusap perutnya yang sudah membesar.


Semua direksi, manager, peserta rapat menoleh ke arahnya. Haiden pun terkejut dengan kedatangannya. Ia segera beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Aira.


"Kenapa kau berkata seperti itu sayang..?" ucapnya sambil memeluk tubuh istrinya.


"Aku datang kesini tapi kau menolak menemuiku.."


"Tidak.. aku tidak menolakmu.. aku sedang rapat.. sebentar lagi selesai.. tunggulah di ruanganku.."


"Tidak mau.. aku mau dirimu sekarang.."


"Oke.. oke.." Haiden akhirnya menyerah. Sambil menghela napas ia memberi perintah pada Noah "Kau lanjutkan rapatnya.."


"Baik tuan.."


Haiden menuntun Aira keluar dari ruang rapat. Ia tidak mau rumah tangganya menjadi tontonan publik. Ia membawa Aira masuk kedalam ruang kerjanya.


"Kenapa kau datang kesini tanpa memberitahuku Aira..?'


"Memangnya kenapa..? apa tidak boleh..?"


"Tidak seperti itu sayang.. tentu saja boleh.. aku, perusahaan semuanya adalah miliku.. kau berhak atas semuanya.."


Aira tersenyum senang, ia menghampiri suaminya dan memeluknya "El.." panggilnya manja.


"Hmm.. apa.." jawab Haiden sambil mencium dan membelai rambut istrinya.


"Aku ingin.." ucapnya malu sambil tangannya meraba kejantanan suaminya.


Haiden tersenyum melihat tingkah istrinya yang masih malu - malu padahal mereka sudah menjadi suami istri. Tapi justru itu yang membuat Haiden semakin mencintainya. Ia menjadi manja dan hasratnya yang menggebu - gebu.


"Hmm.. anak ayah mau dijenguk rupanya.."


"Jangan bilang seperti itu aku malu.."


"Kenapa mesti malu.. aku milikmu sepenuhnya Aira.." Haiden membopong Aira menuju ke atas tempat tidur. "What love style do you want, mam..?"


"Aku mau di atas El.." pinta Aira dengan rona merah diwajahnya.


"Of course, at your command honey.." ucap Haiden sambil melepas baju milik istrinya satu persatu. Mereka memadu kasih hingga Aira kelelahan dan tertidur. Haiden tersenyum menatap wajah istrinya yang tenang dan damai. Tak lama lagi mereka akan dikaruniai anak yang kedua. Berdasarkan hasil USG berjenis kelamin perempuan.


"Masuk ke ruanganku.." perintah Haiden di telepon.


"Baik tuan.." jawab Noah.


Haiden turun dari tempat tidur, mandi dan mengenakan pakaian. Ia segera kembali ke mejanya.


Tok.. tok.. tok..


"Masuklah.."


"Ada perintah tuan..?"


"Jangan keras - keras.. istriku baru tidur.."


"Maaf tuan.." ucap Noah mengecilkan suaranya.


"Kau tahu kan kurang lebih satu bulan lagi istriku melahirkan.. dan kau juga tahu rencana masa depan bersama keluarga kecilku.."


"Saya tahu tuan.."


"Apa Azkara sudah siap mengatur bisnis keluarga Lukashenko..?"


"Sudah siap tuan.. nona Azkara cepat menerima pelajaran dari saya, walaupun terkadang sering seperti anak kecil tapi pemikirannya ke dalam bisnis hampir mirip seperti tuan terutama dalam mengambil keputusan penting.."


"Aku lega mendengarnya.." Haiden bersandar pada kursi, pikirannya jauh melayang. "Ia sering seperti anak kecil karena kurang kasih sayang seorang ayah, ia kadang bersikap manja kadang juga dewasa.. kau tahu kan ayahku meninggal ketika ia berusia tiga tahun.. jadi bersabarlah kau menghadapinya.."


"Baik tuan.."


"Noah.."


"Ya tuan.."


"Kau tidak usah menemaniku ke Turki.."


"Tapi tuan.."


"Ini perintah.."


"Baik tuan.."


"Sudah ada Eda dan beberapa bodyguard yang lain, Ibu dan Sumi juga ingin ikut ke sana selama beberapa bulan ke depan.. jadi kau temani Azkara dalam menjalankan bisnis keluarga.."


"Apa nona Azkara sudah tahu akan hal ini..?"


"Sudah dan dia setuju asalkan ada dirimu yang mendampinginya.."


"Kalau begitu saya setuju tuan.."


"Bagus.. kau memang paling bisa di andalkan.."


"Terima kasih tuan.."


"Keluarlah.. aku akan kembali ke kamar.. Aira pasti mencariku kalau aku tidak ada di sampingnya.."


"Baik tuan saya permsi.."


Noah segera meninggalkan ruang kerja. Dan Haiden kembali tidur di samping istrinya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Tanpa terasa sudah satu bulan ini Azkara memegang perusahaan bersama dengan Haiden. Selama satu bulan itu ia banyak mendapatkan pengalaman. Ternyata kakaknya tidak mudah untuk mendapatkan kesuksesan seperti sekarang ini. Butuh perjuangan dan pengorbanan.


"Maafkan aku El.."


"Untuk kesalahan apa..?"


"Hmm.. banyak.." Azkara tersenyum sembari duduk di sebelah kakaknya. "Aku sering menghamburkan uangmu.. aku sering protes karena kau jarang menjengukku waktu sekolah di luar negeri...ternyata banyak sekali kepala keluarga yang bergantung dari caramu memimpin.."


"Sudah dewasa kau rupanya.."


"Aku juga harus berterima kasih pada kakak ipar.. dengan dia disampingmu kau menjadi lebih hangat, sering tersenyum dan tentu saja raut muka yang bahagia.."


"Yah.. aku sering bersyukur karena Aira yang menjadi istriku.. aku sangat mencintainya.."


"Bagaimana kabar om nya Aira..?"


"Dia mulai merintis usaha dari bawah lagi.. dan sekarang sudah mulai memperlihatkan hasil.. ia juga bercerai dari Nungki istrinya.."


"Heh.. baguslah dia betul - betul jahat.. apalagi perlakuannya kepada kakak ipar.."


"Kau sudah punya kekasih..?"


"Belum.. kau tahu sendiri kan aku hampir sama sepertimu.. terlalu banyak pertimbangan.."


"Carilah pria yang bisa mengerti dirimu, mencintaimu dan memperlakukanmu seperti ratu.."


"Memang ada..?"


"Tentu saja ada.. suatu saat kau pasti menemukannya tanpa kau sadari.."


"I hope so.."


"Good girl.."


Drrt.. drrt.. drrt.. (Handphone Haiden berdering)


"Ada apa Eda..?"


"Nyonya Aira di rumah sakit tuan.. mau melahirkan.."


"Baik tuan.."


Panggilan telepon diakhiri.


"Aira mau melahirkan.."


"Aku ikut.."


"Ayo.."


Haiden dan Azkara segera menuju ke rumah sakit.. tampak rona kecemasan pada wajah Haiden.


"Tenang El.. kakak ipar baik - baik saja.."


"Ini pertama kalinya aku mendampingi Aira melahirkan.. dulu waktu hamil Rafael aku tidak ada di sampingnya.."


"Itu karena kau mengalami kecelakaan El.. Aira tidak mempermasalahkan hal itu.."


"Iya kau benar.. tapi tetap saja aku gugup.."


Tak berapa lama mereka sampai di rumah sakit. Aira sudah masuk ke dalam ruang bersalin. Haiden segera masuk, sedangkan Harika, Azkara dan Noah menunggu di luar


"Bagaimana dok..?"


"Air ketuban nyonya Aira pecah.. kebetulan sudah kontraksi dan siap untuk melahirkan.."


"Dimana istri saya..?"


"Mari.." dokter mempersilahkan Haiden mendampingi Aira melahirkan.


"Are you oke sayang..?" tanya Haiden sambil terus memeluk istrinya. Ia mengusap perut Aira untuk memberi kenyamanan.


"Jangan tinggalkan aku El.."


"Tidak aku akan disini.. menemanimu sampai anak kita lahir nanti.."


Setelah semuanya siap Aira mulai dipandu dokter untuk mengejan dan mengatur napasnya, tak lama kemudian baby cantik mereka lahir.


Rasa haru menyelimuti perasaan Haiden. Mendengar bayinya yang menangis keras dan melihatnya sebagai bayi yang cantik.


"Dia cantik sayang.. anak kita.."


Aira tersenyum bahagia "Ah kenapa wajahnya mirip denganmu El.. anak kita tidak ada yang mirip denganku.."


"Hmm.. bagaimana dengan anak ketiga.. pasti akan mirip denganmu.."


"Aku baru saja melahirkan kau sudah ingin aku hamil lagi.." ucap Aira tersenyum geli.


Setelah Aira mendapat perawatan dari dokter, ia di bawa ke ruang rawat inap bersama bayinya. Aira mulai menyusui karena ini anak kedua ia sudah tidak kaku seperti ketika merawat Rafael.


"Hmm.. cantiknya cucuku ini.." puji Harika


"Mirip denganku kan bu..?"


"Tentu saja mirip denganmu.. kau menjenguknya hampir setiap hari.." sela Azkara


"Akan kau beri nama siapa El..?" tanya Harika.


"Narin yang dalam bahasa Turki berarti lemah lembut.." jawab Haiden.


"Hmm nama yang bagus.. oma sangat setuju.."


"Bolehkah aku menggendongnya kakak ipar..?" tanya Azkara.


"Tentu saja.. ia pasti senang memiliki aunty yang cantik sepertimu.."


Azkara menggendong baby Narin dengan hati - hati. Sedangkan Noah memperhatikan interaksi itu.


"Kenapa lihat - lihat..? mau juga punya anak.. hmm jadi sadar kan kalau sudah jadi perjaka tua.."


Semua yang mendengarnya tertawa.


"Jangan seperti itu Azka.. sebentar lagi kami akan tinggal di Turki, hanya dia temanmu.. berdamailah dengannya.." ucap Haiden


Noah hanya tersenyum saja.


"Hmm.. benar juga.. ingat jangan jatuh cinta padaku Noah.. aku wanita yang sulit di dekati.."


"Memang betul nona.. tapi bagaimana kalau nona yang jatuh cinta dengan saya dulu..?"


"Oh.. mau taruhan.." tantang Azkara.


"Sudah - sudah jangan ribut.. kembalikan bayiku.. suaramu membangunkan tidurnya.." ucap Haiden.


"Azkara jangan bicara seperti itu pada Noah.. ibu rasa ia cukup tampan dan tangguh.."


Azkara melihat Noah dan kata hatinya membenarkan perkataan ibunya. Jika dilihat lagi Noah memiliki bibir yang seksi pikir Azkara. Eit tunggu dulu apa yang ada di pikiranku batin Azkara. Ia segera mengusir pikirannya tentang Noah.


"Saya juga sulit di taklukkan nona.."


"Hmm.. kau meragukan kemampuanku.. awas kalau nanti kau yang bucin terhadapku.."


Hahahha.. semua tertawa mendengar perkataan Azkara.


"Ayo kita pulang.. biarkan Aira istirahat.." ucap Harika.


"Iya kami pulang dulu kakak ipar.. selamat ya bayimu cantik sekali.."


"Terima kasih ibu, Azka.. " ucap Aira.


"Noah kau antar mereka pulang.." perintah Haiden


"Baik tuan.."


Sepeninggal mereka Haiden tidur di sebelah istrinya.


"Sayang kalau dokter melihat dia akan marah.."


"Tidak apa - apa.. baru sebentar saja aku sudah merindukanmu.."


"Kau harus libur selama empat puluh hari.."


"Ah.. kau benar juga.. aku harus belajar bersabar.." keluh Haiden. "Sayang.."


"Ya.."


"Terima kasih sudah mau mendampingiku dan memberikan anak - anak yang lucu.."


"Aku justru yang beruntung mendapatkanmu.. kau adalah duniaku El.."


"I love you Aira.. you are my desire.." bisik Haiden sambil memberikan ciuman terhangat dari bibirnya.


🌸🌸🌸🌸🌸


The End....


"Hai pembaca setia novel My Desire.. terima kasih banyak sudah memberikan dukungan, kritikan, saran hingga novel My Desire mencapai eps terakhir..


Di novel ini tentu saja masih banyak kekurangannya. Aku akan berusaha untuk memperbaiki dan belajar terus sehingga bisa menghasilkan novel yang berkualitas.


Ada juga yang meminta kisah Azkara dan Noah.. Tentu saja suatu saat nanti akan aku buat kisah mereka.. akan tetapi saat ini aku sudah memiliki novel yang baru..


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan ya..🥰"



Kamisha Naeswari seorang gadis dari jogja yang sudah lama merantau di Bandung. Bekerja di sebuah EO dan memiliki toko kue yang kecil.


Dalam waktu satu hari hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat karena pengkhianatan kekasihnya yang sudah dua tahun menjalin hubungan dengannya. Setelah itu ia harus merawat seorang bayi yang bukan darah dagingnya di usianya yang masih muda.


Takdir memang selalu selalu punya cara yang tak terduga agar selalu tampak mengejutkan. Semula ingin berkelana ke utara tapi malah terbang ke selatan bahkan berpindah dengan sukarela.


Banyak hal yang di korbankan Kamisha termasuk hidupnya, tapi akan indah pada waktunya.