My Desire

My Desire
Kemeja Itu Milikku..



"Stop.. stop.. sudah disini saja.."


"Beneran nggak masuk nich.."


"Nggak usah Nay.. di sini saja.." ucap Aira. "Tuh lihat ada penjaganya.."


"Apa nggak terlalu jauh kamu nanti jalannya..?"


"Nggak jauh kok.. biasanya juga begitu.."


"Baiklah kalau itu maumu.. sebenarnya sih aku penasaran dengan rumah tuan Haiden.. hehehehhh.."


"Coba nanti kalau tuan mengijinkan.. kalian bisa main di sini.."


"Oke.. aku tunggu berita baiknya.." ucap Nayla. "Aku pamit dulu.. semangat Aira.."


"Makasih ya Nay.."


Nayla mengendarai motornya lagi meninggalkan Aira di depan pintu gerbang. Aira segera masuk, penjaga yang mengetahui kedatangannya segera membuka gerbang. Aira berjalan perlahan, setiap langkah ia selalu menarik napas. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Tenang Aira.. jangan gugup.. tenang Aira.. jangan gugup.." gumamnya berulang - ulang sampai tiba di depan pintu rumah. Pintu besar tinggi yang di hiasi logo LS itu tampak begitu menakutkan. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan - pelan kemudian dengan penuh keyakinan membuka pintu. Hawa sejuk menerpa wajahnya entah kenapa ia begitu merindukan suasana seperti ini.


"Aira kamu pulang..?"


"Ah.. pak Mustofa bikin aku kaget.."


"Melamun apa..?"


"Tidak melamun apa - apa.." jawab Aira. "Bu Eda dimana..?"


"Di kamar tuan.."


"Ah ya.. selama aku pergi pasti bu Eda yang mengurus tuan.. aku jadi merepotkannya.."


"Bukan masalah itu.."


"Jadi ada apa pak..?"


"Tuan baru sakit.."


"Sakit..? sakit apa..?"


"Aku sendiri kurang tahu.. katanya sakit kepala.. dari kemarin marah - marah terus.."


"Bagaimana dengan bu Eda..?"


"Eda sudah lama bekerja di sini pasti dia sudah tahu karakter tuan.."


"Hmm.. kalau begitu aku naik ke atas dulu pak.. kasihan bu Eda.."


"Ya sudah sana.. hati - hati.."


Aira meninggalkan Mustofa dan naik ke atas menuju kamar Haiden. Tak dapat di pungkiri kalau jantung Aira berdebar tak karuan. Tapi kasihan juga melihat Eda bertanggung jawab atas pekerjaannya.


Tok..tok..tok..


"Masuk..!"


Suara Haiden yang berteriak dengan nada penuh penekanan itu artinya ia dalam suasana kurang baik.


Aira perlahan membuka pintu dan masuk. Eda yang melihat kedatangan Aira tampak lega. Di dalam juga ada Noah yang awalnya berwajah tegang, tapi begitu melihat Aira wajahnya langsung berubah.


"Selamat pagi tuan.."


Haiden menoleh, ingin rasanya ia melompat dan memeluknya tapi semua ia urungkan karena harga dirinya yang terlalu tinggi.


"Pagi.."


"Maaf tuan, kemarin saya keluar tanpa ijin.."


"Tahu hukumanmu apa..?!"


"Maaf tuan tidak tahu.."


"Kamu tahu aku sedang sakit..?"


"Maaf saya tidak tahu tuan.." jawab Aira sambil terus mengkondisikan tangannya agar tidak gemetar.


"Noah.. Eda.. kalian keluar.." perintah Haiden.


Aira kaget mendengar perintah tuannya.. itu tandanya ia hanya berdua dengan tuannya di dalam kamar. Aira tampak panik dan berulang kali ia menatap Eda seakan mengatakan untuk tidak meninggalkannya sendiri.


Noah dan Eda melangkah keluar


"Bu Eda.." panggil Aira lirih.


"Sssttt.. tenang tidak apa - apa.." jawab Eda.


Waduh tidak apa - apa bagaimana. Ia masih ketakutan jika mengingat malam itu. Masih terasa perih dan sakit.


"Sini.." perintah Haiden.


Aira berjalan mendekat dan berdiri di samping tempat tidur. Pria yang kemarin malam sudah mengambil keperawanannya terbaring di atas tempat tidur.


"Pergi kemana..?"


"Kkke rumah Nayla.."


"Ada urusan apa..?"


"Orang tua Nayla sakit tuan.."


"Benarkah..? kau tidak bohong padaku..?"


"Tidak tuan saya tidak berani.."


"Kau tahu kalau aku sakit..?"


"Baru tahu tadi dari tuan Mustofa.."


"Aku perhatikan kau berbeda hari ini.. kau takut padaku..?"


"Kka..kka.. kkarena saya salah, tidak ijin tuan.."


Haiden menyibakkan selimutnya dan turun dari tempat tidur. Ia melangkah mendekati Aira, Aira mundur sedikit demi sedikit hingga tubuhnya terbentur meja kerja Haiden. Keringat dingin mengalir di keningnya.


Dengan sekali gerakan Haiden mengangkat tubuh Aira dan mendudukkannya di atas meja.


"Ap..ap..apa yang tuan lakukan..?" ucap Aira terbata - bata. Takutnya Haiden menyadari apa yang terjadi malam itu.


Haiden menyatukan keningnya dengan kening Aira "Badan tuan panas..?"


"Aku sakit Aira.." jawab Haiden manja seperti anak kecil yang sedang sakit. Hembusan napasnya yang berbau mint tentu akan membuat banyak wanita tergila - gila. Haiden butuh perhatian, walaupun sedang sakit seperti itu ia selalu terlihat tampan


"Lebih baik tuan berbaring saja di tempat tidur.."


"Tidak.. aku tidak mau.. aku bosan.. tidak ada yang menemaniku.." Haiden merengek seperti anak kecil.


"Akan saya temani nanti.."


"Kepalaku juga pusing.." ucap Haiden yang masih setia menempelkan keningnya dengan kening Aira.


"Akan saya pijat nanti tuan.." ucap Aira. "Biarkan saya turun dulu.."


"Kenapa kau pergi ketika aku sakit Aira..?" tanyanya lirih.


"Maafkan saya tuan.. kali ini saya akan mengurus tuan dengan baik.." janji Aira. "Sekarang saya antar kembali ke tempat tidur.."


Haiden berbalik, Aira segera turun dari meja. Ia mengantar Haiden kembali ke tempat tidur.


"Saya ukur suhu dulu tuan.." ucap Aira. Ia mengambil termometer digital. "Hmm.. tiga puluh delapan koma lima.. tidak terlalu panas.. biar saya kompres.."


Haiden hanya diam mengamati Aira yang dengan cekatan mengurus dirinya. Setelah air kompres siap dengan lembut dan perlahan Aira menyeka seluruh tubuh tuannya. Begitu sampai pada pangkal paha, Aira terhenti dan menelan ludah. Melihat bahwa milik tuannya itu yang telah membuatnya tidak perawan lagi.


"Kenapa..?"


Aira kaget dengan spontan ia menjawab"Hah.. itu burung.."


"Burung apa..?"


"Bu..bu..burung tuan.. eh maksud saya burung Nayla.. ya benar tiba - tiba saya ingat burung Nayla yang kabur karena saya lupa menutup kandangnya.."


"O..o..o.."


Aira melanjutkan lagi menyeka tubuh Haiden agar badannya tidak terlalu panas.


"Belum.."


"Sudah makan..?"


"Belum.."


"Kalau begitu saya buatkan sup hangat sebentar.."


"Kau meninggalkan aku sendiri..?"


"Cuma sebentar tuan.. nanti saya kembali.."


"Baiklah aku ijinkan.."


Aira tersenyum, ia segera keluar menuju dapur. Begitu keluar ia langsung mengambil napas sebanyak - banyaknya untuk memenuhi rongga dadanya yang sesak berhadapan dengan Haiden. Ia masih belum bisa mengendalikan dirinya jika di dekat Haiden.


Ya tuhan.. kuatkan aku batin Aira.. Tak lama kemudian ia menuju dapur meminta chef untuk membuatkan sup. Setelah selesai ia kembali ke kamar Haiden lagi. Membawa sup dan obat.


Dengan telaten Aira menyuapi Haiden sesuap demi sesuap hingga habis.


"Obatnya tuan.."


Haiden menerimanya kemudian meminumnya.


"Aira aku ingin bertanya.."


"Ya tuan.. silahkan.."


"Kau tahu kan kalau saudara sepupumu sudah menyuntikkan obat perangsang di tubuhku.."


"Tahu tuan.."


"Bagaimana caramu menolongku..?"


"Saya pernah melihat di film - film tuan. Kalau minum tidak sengaja minum obat perangsang caranya harus berendam air dingin.."


"Sesimple itukah..? kenapa aku tidak merasakan dinginnya air saat itu..? justru malah aku merasa terlampiaskan.."


Deg.. deg.. deg.. jantung Aira berdebar kencang "Itu.. itu.. karena tuan tidak sadarkan diri.. jadi tuan tidak tahu pasti apa yang terjadi.." jawab Aira.


Haiden diam dia berusaha mencerna apa yang dikatakan Aira. Ia tampak berpikir "Apa kancing bajumu pernah lepas.. atau mungkin hilang..?"


"Apa tuan..? kancing baju..?"


"Yah.. kancing baju.."


Aira seketika berubah panik. Bagaimana bisa kancing bajunya tertinggal. Padahal dia sudah membersihkan semua dan memastikan barangnya tidak ada yang tertingal. Tangan Aira memegang ujung bajunya agar tidak terlihat gemetar. Apa yang harus aku katakan pada tuan pikir Aira..


"Oh.. ya tuan.. pantas saja saya cari tidak ada di mana - mana ternyata disini.."


"Bagaimana bisa kancingmu lepas..? kau tahu kan baju pelayan disini memiliki kualitas yang baik.."


Keringat dingin mulai keluar dari kening Aira "Itu.. itu karena tersangkut tuan.."


"Tersangkut apa..? kau tidak sedang membohongiku kan Aira.."


"Tidak tuan.. baju saya memang robek waktu saya membersihkan kamar tuan dan tidak menyadari kalau kancing itu lepas.."


"Baiklah.. lain kali hati - hati.."


"Baik tuan maafkan saya.."


Sementara itu di bawah Azkara yang baru saja kembali dari berkuda bertemu dengan Noah.


"Kakakku ada di kamar..?"


"Ya nona.. sudah ada Aira yang menemani.."


"Ouw.. Aira sudah pulang..?"


"Sudah nona.."


"Syukurlah bayi besar itu akhirnya ada yang mengurusnya.." ucapnya sambil meninggalkan Noah sendiri.


Azkara tahu kakaknya itu hanya merajuk karena ditinggal oleh Aira. Ia langsung masuk ke kamar Haiden.


"Pagi kakakku sayang.. sepertinya kau sudah sembuh..?" tanya Azkara sambil melirik ke Aira.


"Lumayan.."


"Kalau begitu boleh dong aku pinjam Aira sebentar.."


"Buat apa..?"


"Nanti malam Gilang ulang tahun.. aku akan meminta Aira menemaniku.."


"Tidak bisa.."


"Kenapa..? ayolah El.. aku akan canggung jika sendirian kesana.."


"Aku sakit Azka.. aku butuh Aira untuk merawatku.."


"Alasan..! tadi kau bilang sudah lumayan.. jadi tidak masalah kan jika di tinggal sebentar.."


"Maaf nona Azka.. lebih baik saya menemani tuan di sini.." ucap Aira menyela


"Iiihh.. tapi Gilang juga berharap kamu bisa datang.. waktu itu kamu bilang akan datang kan.."


"Ttapi saat ini tuan sakit.." Aira mengelak. Ia tidak ingin menambah masalah. Reaksi Haiden saja tidak suka jika ia ikut datang ke pesta itu. Dan juga masalah yang baru saja menimpanya membuatnya tidak bersemangat melakukan apapun.


"Aacchh.. dia itu cuma pura - pura.. sakitnya tidak parah.."


"Diam kamu anak kecil.. cari teman yang lain untuk menemaniku.. keputusanku tidak bisa diganggu gugat.."


"Oke.. oke.. aku akan menurutimu..!" ucap Azkara beranjak pergi dari kamar Haiden.


"Tuan istirahat saja.. saya akan menunggu di sini.."


Haiden mulai mencoba memejamkan mata. Tak butuh waktu lama ia terlelap. Hembusan napasnya yang pelan terdengar. Setelah memastikan tuannya benar - benar tertidur Aira segera keluar dari kamar tuannya menuju ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, ia mengambil sesuatu dari dalam almari. Sebuah kemeja putih milik tuannya yang ia pinjam malam itu. Aira terduduk di pinggir tempat tidurnya, terdiam dan hanya memegang kemeja itu.


Bagaimana caranya aku bisa mengembalikan kemeja ini tanpa tuan tahu. Aku akan mengembalikan sekarang mumpung tuan baru tidur batin Aira.


Bergegas ia menuju kamar Haiden. Dengan perlahan ia membuka pintu. Dengan langkah pelan - pelan dia berjalan menuju walk on closet. Diliriknya tuan Haiden masih tidur.


..."Maafkan aku Aira.. maafkan aku.. aku butuh pelampiasan.."...


..."Jangan tuan.. saya mohon.. jangan lakukan itu pada saya.."...


..."Tidak bisa Aira.. aku harus..!"...


..."Jangan tuan.. aaaacchhh.. sakiitt..!!!"...


"Aira..!" teriak Haiden kemudian bangun dari tidurnya. Kenapa aku bermimpi seperti itu batin Haiden. Tubuhnya penuh keringat, ia mengambil segelas air dan meminumnya.


Brruukk.. brraakk..!!!


"Siapa itu..?!" teriak Haiden. Ia segera bangun dan menuju ke sumber suara yaitu di ruang walk on closet. Dengan langkah cepat Haiden masuk ke dalamnya.


"Aira..!" teriaknya kaget.


"Ttuaan.." jawab Aira yang masih memegang kemeja milik tuannya. Ia belum sempat menaruhnya ke dalam almari keburu tuannya tahu.


"Apa yang kau lakukan..?" Haiden menghampiri dan mendekat pada Aira.


"Ini kemejaku..? kenapa ada di tanganmu..? kamu mau apa dengan kemejaku..?"


"Tidak ada maksud apa - apa tuan.. saya hanya menata saja.." jawab Aira gugup.


"Kemejaku sudah tertata.."


"Itu tuan.. ini dari pelayan bagian cuci pakaian.. pakaian tuan sudah kering jadi saya masukkan.."


"Aira jangan bohong..! kemarin aku tidak masuk kerja.. jadi tidak ada kemeja yang perlu di cuci.."


"Hmm.. itu.. itu.."


"Aku tidak suka di bohongi..! kau paham..! katakan terus terang..!"


Tangan Aira gemetar. Matanya berkaca - kaca, airmata nya hampir saja jatuh membasahi pipi. Ya tuhan apa yang harus aku katakan.


☘☘☘☘☘