
"Nona Azkara.." ucap Aira lirih.
"Siapa kamu..?" tanya Leo.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku.. yang perlu kamu tahu adalah kamu sudah tua bangka dan bau tanah jangan banyak tingkah..!" ucap Azkara. "Bawa Aira..!" perintahnya pada bodyguard di belakangnya.
"Baik nona.."
"Hei tunggu..! ini keponakan ku.. aku berhak melakukan apa saja dengannya.."
"Hahahhh.. dasar nenek sihir.. keponakanmu..? hei kau lupa kalau kalian sudah menjadikannya jaminan di keluarga ku.. jadi sejak saat itu kalian sudah tidak berhak lagi atas hidupnya.."
"Kkaau siapanya tuan Haiden..?" tanya Nungki dengan wajah pucat pasi.
"Kau tidak perlu tahu.." jawab Azkara. "Cepat bawa Aira.." perintahnya lagi.
"Nungki.. kenapa kau ketakutan..? apapun yang terjadi gadis ini harus jadi milikku malam ini..!" teriak Leo.
Terjadilah sedikit perkelahian memperebutkan Aira. Karena jumlah bodyguard Leo lebih sedikit jadi Azkara menang telak.
"Ingat tua bangka..! ini peringatan terakhirmu untuk tidak merusak gadis - gadis..! ancam Azkara. "Dan kau nenek sihir.. jangan ganggu Aira lagi jika kau tidak mau hidupmu tambah sengsara..!! ayo kita pergi.." perintahnya sambil membawa Aira masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Haiden sudah menunggu dengan cemas. Melihat Azkara datang dengan membawa Aira yang lemah kecemasannya semakin bertambah.
"Apa yang terjadi..? kenapa kau lama sekali..?"
"Bawa Aira masuk dulu.. dia sudah minum obat perangsang.."
"Lagi..?"
"Maksud kamu..?"
"Dulu juga pernah seperti ini.."
"Ayo cepat kita pulang.."
Haiden segera membawa masuk Aira ke dalam mobil. Ia setia mendekap Aira karena kekhawatirannya yang berlebihan. Haiden sempat melihat lututnya yang terluka.
"Kenapa lututnya terluka Azka..? apa mereka sempat menyiksanya..?" ucap Haiden menahan emosi.
"Aira sempat melarikan diri dan terjatuh.. bahkan aku lihat ia menggunakan tehnik yang telah kau ajarkan.."
"Bagus.. it's my girl.." ucap Haiden bangga. "Kau kurang cepat Azka.. untung saja yang terluka hanya lutut.. kalau yang lainnya sudah aku tembak mereka.."
"Hei.. itukah rasa terima kasihmu padaku.. aku sudah menyelamatkan Aira.. kalau tidak kamu sudah dapat barang bekas.."
"Jaga mulutmu.. ia bukan barang.."
"Itu perumpamaan kakakku sayang.."
"Baiklah.. terima kasih.. kerja yang bagus Az.."
"Reward untuk aku..?"
"Apartemen atau mobil sport.."
"No.. aku mau villa di Bandung.. aku suka dengan suasana di sana.."
"Oke deal.." ucap Haiden. "Noah kau urus semuanya.."
"Baik tuan.."
Mereka bergegas pulang ke kediaman Lukashenko. Memang menempuh waktu yang agak lama karena hotel D'Four terletak di pinggir kota.
"Non Azka kenapa aroma tubuhmu seperti tuan El..?" ucap Aira lirih tak bertenaga. Kedua tangannya mulai mempererat pelukannya di leher Haiden. Aira mendongakkan kepalanya melihat siapa yang tengah di peluknya. "Tuan El.." ucapnya lirih. Aira mulai mencium leher Haiden. "Tuan tubuh saya kenapa terasa panas.."
""Noah bisakah kau menyetir lebih cepat..!"
"Ini sudah maksimal tuan.. jalanan agak padat.."
"Cari jalan lain bodoh..!" perintah Haiden. Ia sebenarnya sudah tidak tahan dengan sikap Aira yang agak liar dengan obat perangsang. Haiden takut ia tidak bisa lagi membendung gairahnya.
"Akhirnya ada juga yang membuatmu bergairah.."
"Diam kau anak kecil..!" teriak Haiden.
"Nikmati saja El.. tapi jangan macam - macam.." goda Azkara.
Aira masih saja menciumi leher Haiden. Dengan napas terengah - engah dan memburu ia mulai mencium bibir Haiden dengan lembut. Bahkan memberinya gigitan - gigitan kecil.
Sial.. kenapa aku harus merasakan gairahnya di saat kamu tidak sadar Aira.. ini sangat membuat aku kesal batin Haiden sambil memejamkan mata. Tangan Aira se0makin nakal, ia mulai membelai dada dan perut Haiden.
"Noah.. cari hotel dekat sini.. sepertinya aku tidak bisa menahannya lebih lama.."
"Baik tuan.."
"Biar aku yang cari.." ucap Azkara.
Ia mulai mencari hotel terdekat. "Dapat.. seratus meter lagi belok ke kiri.. disitu ada hotel.."
"Baik nona.."
Tak berapa lama mereka sampai. Noah segera melakukan reserfasi kamar. Haiden sudah berkeringat sedangkan Aira semakin liar bergerak. Ingin rasanya Haiden membalas apa yang dilakukan Aira. Dia terlihat sangat cantik dan seksi mengenakan baju itu.
"Dia cantik bukan..?" tanya Azkara sambil melirik kakaknya. Ia tahu Haiden mati - matian menahan hasratnya
"Hmmm.."
"Aku yang memilihkan baju itu untuknya.. bagus kan pilihanku.."
Haiden terus memandang wajah Aira yang penuh peluh dan memerah.
"Tuan El.. panas.." ucapnya sambil membuka kancing bajunya.
"No.. Aira.. no..!" teriak Haiden. "Noah.. harus berapa lama lagi.. cepat..!"
"Sudah selesai tuan.. ini kuncinya.."
"Kau bawa kuncinya.. ayo cepat.."
Dengan setengah berlari Haiden menggendong Aira. Tak berapa lama mereka akhirnya sampai di dalam kamar. Haiden segera menaruh tubuh Aira di dalam bathtube.
"El.. kau keluarlah.."
"Tapi.."
"Aku tahu kau cemas.. cukup sampai disini.. biar sisanya aku yang urus.."
"Az aku..."
"Please El.. aku akan kebingungan menjelaskan padanya nanti jika kamu ada disini.. apalagi ia membutuhkan waktu untuk sendiri setelah apa yang dilakukan keluarga satu - satunya terhadap dirinya.."
"Baiklah.. aku serahkan dia padamu.."
"Tenang.. aku akan berlaku baik dengan kakak iparku.."
"Sialan kau.."
"Hahahah.. harusnya aku merekam bagaimana wajahmu menahan nafsu.. hahhahah.. sangat lucu.. aku benar - benar tidak tega.."
"Diam kau.. cepat urus Aira atau tidak ada villa.."
"Oke.. siap bos.. kau yang berkuasa.."
Haiden dan Noah segera keluar. Azkara merendam tubuh Aira dengan air dingin. Setelah dirasa tubuhnya menenang Azkara di bantu dengan pelayan wanita di hotel mengganti pakaiannya dan menidurkannya di tempat tidur.
"Kau sudah bangun Aira..?"
"Non Azkara.." ucapnya dengan nada lega. "Apa yang terjadi..?"
"Kau pingsan karena obat perangsang yang mereka berikan.."
Hik.. hik.. hik.. Aira menangis sejadi - jadinya.. Azkara memeluknya dan berusaha memberi kekuatan.
"Mereka bilang kehadiranku menyusahkan dan beban.. padahal semua aku korbankan untuk mereka.. semuanya bahkan sampai dengan hidup dan kebebasanku.."
"Sabar Ai.."
"Mereka keluargaku satu - satunya justru malah tega membuangku.."
"Kau masih punya kami Aira.. Aku, Ibu, El dan semua pelayan di rumah kami sudah menganggapmu seperti keluarga sendiri.."
"Saya tahu nona.. orang lain saja bisa menerima kehadiranku.. kenapa mereka yang keluarga justru tidak menganggapku.. saya benar - benar kecewa non.."
"Kau tidak perlu kecewa Aira.. kamu hanya perlu menerima dan menghadapinya.. tunjukkan pada mereka kau buka wanita yang lemah.."
"Saya berhak bahagia.. iya kan non.."
"Yah kau berhak bahagia.. jadi lupakan saja mereka.. hadapi masa depanmu.. aku yakin suatu saat kau akan menemukan orang yang tepat untuk menemani dan mencintaimu sampai kau tua nanti.."
"Terima kasih atas perhatian yang nona berikan pada saya.."
"Aku yakin kau bisa menghadapinya Aira.. dan satu lagi jangan panggil aku nona.. kita seusia bukan.."
"Tapi saya cuma pelayan non.."
"Oh come on Ai.. mungkin sebentar lagi kau tidak akan jadi pelayanku.." ucap Azkara penuh arti.
"Baiklah saya akan memanggil nona jika di rumah.. kalau di luar saya akan memanggil Azka.. bagaimana..?"
"Oke deal.." ucap Azkara. Ia memberikan Aira segelas minuman untuk lebih menenangkan Aira.
"Bagaimana non eh kamu bisa menemukan aku di hotel D'Four..?"
"Oh soal itu.. kebetulan aku ada janji dengan beberapa temanku di hotel D'Four dan aku lihat saat itu kamu berusaha melarikan diri.. itu tandanya ada sesuatu yang tidak beres.."
"Aku masih ketakutan jika mengingat wajah pria tua itu.." ucap Aira.
"Sudah lupakan saja wajah tua bangka bau tanah itu.."
"Tapi sepertinya aku tadi melihat tuan El.. apakah benar..?" tanya Aira harap - harap cemas. Karena kalau seandainya ada itu tandanya penyamarannya terbongkar..
"Tidak mungkin ada El.. ia sakit di rumah.."
"Oh syukurlah.." ucap Aira lega. "Tuan El sakit..?"
"Sakit apa..?"
"Ah cuma flu biasa..minum obat dan istirahat juga nanti sembuh.. kamu istirahat saja dulu di sini.. aku akan menemanimu.."
"Tidak aku harus pulang.. aku sudah janji dengan tuan akan segera pulang dan tidak menginap.."
"Tapi kamu masih perlu istirahat Ai.. aku akan telepon El untuk menjelaskan.."
"Tidak.. jangan Azka.. aku pulang saja.. kakakmu itu sakit.. pasti membutuhkan tenagaku.."
"Baiklah kalau kau memaksa.. gantilah pakaianmu dengan kemeja dan celana yang kubelikan itu.." tunjuk Azkara.!
"Terima kasih Az.."
Aira segera ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Sementara itu Azkara menghubungi Haiden.
"Aku dan Aira akan pulang.."
"Kenapa..? bukankah aku menyuruhmu istirahat di sana biar dia tenang.."
"Aku mengatakan kalau kau sakit.."
"Gila.. kenapa kau lakukan itu..?"
"Dasar bodoh.. ini juga aku lakukan demi kau agar ia bisa tidur di tempatmu tiap malam.. dia mengkhawatirkan keadaanmu El, makanya minta segera pulang.. itu tandanya dia menaruh hati padamu.."
"Benarkah..?"
"Lihat siapa yang senang sekarang.."
"Iya.. iya kau memang the best.."
"Sudah aku tutup dulu.. ingat kau sakit flu.. tunjukkan akting terbaikmu.."
"Kau..!"
Tuttt.. Azkara menutup teleponnya.
"Aku sudah siap.."
"Baiklah.. ayo kita pulang.."
Mereka berdua kembali ke kediaman Lukashenko. Memakan waktu yang cukup lama untuk sampai di sana. Begitu sampai Aira langsung menuju kamar Haiden.
Tok.. tok.. tok..
"Tuan.. tuan.."
Uhuk.. uhuk.. terdengar suara batuk dari dalam. "Siapa..?"
"Saya Abi tuan.."
"Masuklah.."
Aira membuka pintu dan segera masuk ke dalam. Di lihatnya pria yang selalu melindunginya itu berselimut tebal di atas tempat tidur.
"Tuan.. maaf saya baru pulang.."
"Kenapa lama..?"
"Itu.. karena.. karena.. eng.. om Baskara dan tante Nungki mengajak saya berjalan - jalan.." jawab Aira dengan suara bergetar.
"Kali ini ku maafkan.. karena aku sedang sakit dan malas berdebat.."
"Terima kasih atas kebaikan tuan.." jawab Aira. "Apa tuan membutuhkan sesuatu..? atau tuan mau saya buatkan bubur..?"
"Aku sudah makan tadi.. kau pijat saja badanku.."
"Baiklah.. tuan istirahat saja.. saya akan memijat tuan sampai tuan tidur.."
Aira mulai memberikan pijatan hingga Haiden tertidur. Kali ini Aira memijat sambil duduk di lantai. Tidak seperti biasa yang ia duduk di atas tepat tidur. Setelah merasa Haiden tertidur pulas. Aira dengan lembut menggenggam dan mencium tangan Haiden. Kemudian menaruh kepalanya di atas tangan itu.
Pelan - pelan terdengar isak tangis. Tangan Haiden sedikit basah dengan air mata. "Tuan El.. terima kasih untuk semuanya.. jangan sakit dan tinggalkan saya.. oke.." ucapnya lirih dengan suara parau.
Haiden yang sebenarnya belum tidur merasa kasihan mendengar Aira berbicara seperti itu.. ingin rasanya ia menembak kepala Baskara dan Nungki. Tapi semua urung di lakukan karena tidak ingin membuat Aira kecewa.
Haiden bangun dari tempat tidurnya dan membopong tubuh Aira ke atas tempat tidur. Kemudian menyelimutinya.
Haiden mengusap air mata Aira perlahan "Aku akan selalu melindungimu Aira.. tidak akan aku meninggalkanmu sedetik pun.." ucapnya sambil mencium kening Aira. Dan memutuskan tidur di sampingnya..
☘☘☘☘☘