My Desire

My Desire
Berkemah 3



"Tuan El.. kenapa anda sangat tampan.. dan juga ini adalah mata terindah yang pernah saya lihat.." ucap Aira dengan suara mendesah. Ia mulai mencium mata tuannya satu persatu, lanjut hidungnya dan berakhir di bibir.


Maafkan aku Abi, kau yang memaksaku melakukan ini batin Haiden. Ia mengambil buku yang dibaca oleh Aira tadi dan menghantamkan ke kepalanya hingga pingsan.


"Maaf.. hanya ini satu - satunya cara. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika kau terus menggodaku walaupun karena obat perangsang. Aku pria yang normal Abi.. kau benar - benar membuat jantung berdetak tak beraturan.." bisiknya di telinga Aira yang sedang pingsan. Dengan lembut ia mencium kening Aira. Tok..tok..tok..


"Siapa..?"


"Saya Bella tuan.. apakah tuan membutuhkan bantuan saya..?"


Kenapa tiba - tiba bisa ada dia di saat - saat seperti ini. Aku harus menyelidikinya. Siapa yang sengaja menjebakku batin Haiden..


"Tidak.. kau temani saja ibu.. dia lebih membutuhkan bantuanmu.. aku sudah ada Abi.."


"Tapi Abi seorang pria tuan.. tidak bisa melayani tuan dengan penuh kelembutan.. saya bisa memijit tuan bila tuan capek.."


Aneh kenapa dia begitu memaksa ingin melayaniku batin Haiden lagi.


"Kau tidak mendengar apa yang aku perintahkah..!" teriak Haiden.


"Maaf tuan.."


"Pergi..!!!" usir Haiden


"Bbbaaikk tuan..". ucap Bella sambil pergi meninggalkan tempat itu. "Sial rencanaku gagal..! apa mungkin tuan tidak meminum teh yang aku buatkan.." gumam Bella dan bruukk..!!! ia bertabrakan dengan seseorang "Aduh..!" teriaknya.


"Maaf bella aku tidak melihatmu.." ucap Noah.


"Brengsek kamu..! punya mata tidak sih..! dasar sialan..!" umpatnya sambil berdiri dan pergi meninggalkan Noah.


Noah hanya memandang keheranan saja. Ia kemudian berjalan untuk menuju kamarnya cuma baru selangkah kakinya menginjak sesuatu. Sebuah botol obat dari kaca tergeletak tak jauh dari Bella terjatuh.


Obat apa ini.. Apa Bella yang membawanya.. Harus aku selidiki batin Noah.


Sementara itu di dalam kamar Haiden mati - matian berusaha menurunkan gairahnya. Hampir saja ia gelap mata dan melakukan hal bodoh yang akan merugikan Aira dimasa depannya. Ia membopong Aira dan memasukkan ke dalam bathtube yang berisi air dingin. Setelah beberapa saat ia mengeluarkan tubuhnya dan menganti pakaiannya. Pemandangan yang menggiurkan terpampang nyata di pelupuk matanya.


"Dingin.. dingin.." Aira mengigau dalam keadaan tidak sadar.


Haiden mengambil pakaian Aira dari dalam tas. Disana ada beberapa wig dan pakaian laki - laki yang biasa digunakan untuk menyamarannya. Setelah mendapatkan apa yang di inginkan, ia mengembalikan tas sesuai tempatnya. Dengan cepat memakaikan Aira baju dan wig karena jika terlalu lama ia takut akan khilaf.


Haiden membawa Aira yang masih belum sadarkan diri ke tempat tidurnya dan menyelimutinya. Ia kecup sekilas bibir mungil milik Aira sebelum pergi ke kamar mandi untuk menurunkan gairahnya.


Hanya dengan menggunakan bathrobe setelah mandi, Haiden menelepon Noah untuk datang ke kamarnya.


"Perintah tuan..?"


"Ada yang berusaha menjebakku dengan obat perangsang dalam minuman yang Bella bawakan untukku.. selidikilah.."


"Tepat dugaan saya.."


"Maksudmu..?"


"Saya menemukan obat ini saat saya bertabrakan dengan Bella di dekat kamar tuan.."


"Bella..?


"Ya tuan.."


"Maksudmu mungkin saja Bella yang memasukkan obat itu..?"


"Banyak sekali kemungkinannya.. sembilan puluh sembilan persen saya yakin.."


"Kurang ajar dia.. berani - beraninya menjebakku..!" ucap Haiden geram.


"Tapi sepertinya tuan baik - baik saja dan terhindar dari jebakan Bella.."


"Aku baik - baik saja.. tapi Abi tidak.."


"Jadi Abi yang meminumnya..?"


"Yah seperti itu dengan kata lain dia telah menyelamatkan aku.. tapi apa kau tahu lebih baik aku yang meminum teh itu.."


"Maksud tuan..?"


"Setelah meminum teh itu dia berani menggodaku, memperlihatkan sisi feminimnya membuat kacau pikiranku.." cerita Haiden frustasi.


"Oh.." jawab Noah sambil tersungging senyum disudut bibirnya. Karena ia yakin tuannya tadi juga menikmati kesialan ini.


"Apa yang kau tertawakan..? keluar aku akan istirahat.."


"Baik.. maaf tuan saya permisi.." pamit Noah.


Haiden membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia melirik ke arah Aira yang masih belum sadarkan diri. Ia mengusap bibirnya "Gadis kecil ternyata kau begitu menggairahkan, dengan tatapan polosmu itu berhasil membuatku tidak tenang.." gumam Haiden.


☘☘☘☘☘


"Aduh.. kenapa belakang kepalaku sakit ya.." gumam Aira.


"Sudah bangun..?"


"Eh tuan.." jawab Aira. Ia bingung dengan apa yang terjadi kenapa tahu - tahu ini sudah pagi.


"Bingung..?"


"Iya tuan.. kenapa ini tiba - tiba sudah pagi..?"


"Kemarin sore kamu pingsan di sofa.."


"Pingsan..? kok bisa tuan.. seingat saya, saat itu saya habis mandi, baca buku terus tidak ingat lagi.."


"Mungkin kamu darah rendah, saat aku masuk ke kamar kamu sudah tergeletak di sofa.."


"Maaf tuan.. saya malah membuat repot tuan El.."


"Tidak apa - apa.. mandilah dan susul aku sarapan bersama yang lain.."


"Baik tuan.."


Aira bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Haiden keluar menuju tempat makan. Yang lainnya sudah menunggu.


"Pagi ibu.."


"Ia sedang mandi.. dasar suka tidur.."


"Eh.. kamu jangan memarahinya terus.. mungkin dia belum terbiasa naik pesawat apalagi tempat ini sangat nyaman.. wajar kalau dia terlambat bangun pagi.."


"Tapi itu tidak disiplin bu.. bagaimana aku bisa dihormati jika aku tidak adil dengan pelayanku yang lain.."


"Baiklah.. baiklah ibu mengalah.. tapi tolong jangan keras - keras karena kita saat ini liburan.."


"Iya aku tahu.. ibu jangan khawatir.."


Tak lama kemudian Aira muncul dengan sedikit berlari. "Maaf semuanya saya terlambat.."


"Tidak apa - apa Abi.. duduklah kita sarapan bersama.."


"Baik nyonya.." jawab Aira sambil menunduk menghindari tatapan tajam dari Haiden. Ia tahu tuannya sangat marah karena sikapnya yang kurang disiplin.


"Kenapa semalam kamu tidak makan malam Abi.."


"Aku capek bu Eda.. jadi langsung tidur.. oleh sebab itu pagi ini tuan seperti marah padaku.."


"Ya sudah sarapan dulu.. kamu pasti lapar..setelah itu baru minta maaf ke tuan dengan serius.."


"Baik bu Eda.."


Mereka semua sarapan dengan tenang sambil menikmati pemandangan alam sekitar. Setelah sarapan Harika ingin jalan - jalan sebentar di pinggir pantai ditemani Eda, Bella dan beberapa body guard.


"Sini kamu.." panggil Haiden. "Kamu tahu kan dimana letak kesalahanmu.."


"Tahu tuan.."


"Bagus.. sekarang kamu terima hukumannya.."


"Baik tuan.."


"Ayo ikut aku.. kita lari di sepanjang pantai ini.."


Heh.. sudah aku duga.. pasti hukumanya fisik.. sudah terima saja dari pada kena marah terus batin Aira.


Haiden dan Aira berlari bersama, mereka berlari si sepanjang pantai mengelilingi pulau. Tiba - tiba dari arah berlawanan Noah muncul. Membuat mereka berhenti sejenak.


"Istirahat dulu.."


"Baik tuan.." jawab Aira. Sementara Haiden mendekati Noah.


"Ada apa..?"


"Maaf tuan ada telepon dari tuan Ahmad Ibrahim di Dubai.." ucap Noah sambil menyerahkan telepon genggam ke Haiden. Haiden menerimanya dan sempat melirik ke Aira.


"Abi.. kau lanjutkan latihan.. aku ada urusan sebentar.."


"Baik tuan.." jawab Aira mulai berlari lagi. Kira - kira sudah sepuluh menit ia berhenti sebentar napasnya terengah - engah. Ia mulai masuk ke dalam pulau karena sempat melihat ada semacam goa.


"Wah indah sekali.. eh suara apa itu.." gumamnya. Ia semakin masuk kedalam karena rasa penasaran. Ternyata semakin ke dalam semakin indah. "Oh itu ternyata suara air terjun.." ia mulai mendekat ke air terjun. Membasuh mukanya dan merasakan kesegarannya. "Hmm.. kalau aku mandi sebentar pasti tubuhku segar kembali.. mumpung tuan tidak tahu.."


Ia lantas melepaskan bajunya satu persatu menaruhnya di sebuah batu besar. Aira mulai berenang hingga ketengah merasakan jatuhnya air terjun dikepalanya.


l


Sementara itu Haiden kembali menyusul Aira. Cukup lama ia mencari keberadaan pelayannya itu dan akhirnya sampailah ia di air terjun. Haiden sempat teringat ayahnya yang dulu sering mengajaknya mandi disana.


Hei.. siapa itu sepertinya aku mengenalnya batin Haiden. Ia kemudian bersembunyi di sebuah pohon besar. Pandangannya tetap tertuju pada seorang wanita yang sedang mandi. Berenanh kesana kemari dan sama sekali tidak waspada. Tubuhnya yang putih terlihat sangat mempesona. Gila..! lagi - lagi kau menggodaku Abi batin Haiden geram.


Tiba - tiba.. ada segerombolan pria mendekat ke air terjun.


"Eh sebentar lagi kita sampai ke air terjun.. kita akan mandi sepuasnya.." ucap salah seorang pria.


Bahaya..! aku harus mencegah mereka datang ke sini batin Haiden.


"Tunggu.. siapa kalian..?"


"Tttuan Haiden.." jawab mereka kompak


"Apa yang kalian lakukan disini..?!" bentak Haiden.


"Mmaaf tuan kami hanya akan mandi di air terjun itu.."


"Cari tempat yang lain.. aku juga mau mandi di sana.."


"Bbbaik tuan.."


Sementara itu kegiatan mandi Aira jadi terganggu


"Waduh.. ada rombongan pria datang ke sini dan juga tuan, aku harus pergi.." dengan gerakan secepat kilat Aira mengambil bajunya, memakai dan pergi dari tempat itu. Ia terus berjalan cepat tanpa melihat arah. Ia berhenti sejenak karena tumbuhan dan semak di situ sudah semakin tinggi artinya tempat itu belum terjamah manusia.


"Dimana aku ini.." gumamnya sendiri. Ia melihat sekelilingnya hanya ada pohon besar - besar. Ia mendongak ke atas "Yah mendung lagi.. sebentar lagi pasti hujan.. aku harus segera keluar dari tempat ini.."


Aira kemudian berniat kembali ke tempat tadi tapi kenyataannya dia masih saja tidak bisa menemukan jalan keluar. Hujan mulai turun pertama - tama hanya rintik - rintik kemudian menjadi deras.


"Yah hujannya deras banget.. aku harus cari tempat teduh dulu.." ia melihat sekelilingnya dan menemukan sebuah batu besar seperti goa. Aira segera berlari kesana. Kilat menyambar - nyambar dan suara petir yang menggelegar membuat Aira tergidik ngeri. Memorinya kembali terulang ketika kecelakaan sepuluh tahun lalu yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.


"Ya tuhan selamatkan aku.. aku takut.." doanya. "Tuan El tolong selamatkan aku..! tuan El..!" teriaknya berkali - kali. Berharap tuannya mendengar teriakannya.


Sementara itu Haiden mencari - cari keberadaan Aira sangat cemas karena akan turun hujan.


"Abi..! Abi..! Abi..!" teriaknya berulang - ulang. "Kemana anak itu.." guman Haiden. Ia pasti ketakutan mengingat bahwa dulu kecelakaan itu terjadi juga saat hujan. Haiden terus mencari dan meneriaki namanya.


Aira menggigil kedinginan dan menutup telinga agar tidak mendengar kerasnya suara petir. Sayup - sayup ia mendengar suara dari kejauhan memanggil nama samarannya. Itu pasti tuan batinnya ia memutuskan keluar dari goa dan mendekat ke arah suara tanpa memperdulikan hujan yang lebat.


"Tuan El.. tuan El.. tuan..!!!" Aira berteriak - teriak sambil memgedarkan pandangan ke sekelilingnya.


Tiba - tiba dari arah belakang.


"Abi..!!!"


Aira menengok kebelakang. Perasaannya membuncah, air mata harunya jatuh begitu tahu siapa pria di hadapannya itu. "Tuan.. " ucapnya lirih. Ia kemudian berlari menghambur ke Haiden dan memeluknya dengan erat.


"Tuan El.. jangan tinggalkan saya.."


☘☘☘☘☘