My Desire

My Desire
Private Party Ivanka



"Selamat siang tuan.."


"Duduklah Noah.."


"Terima kasih tuan.."


"Sudah kau dapatkan informasi yang aku minta.."


"Sudah tuan.. yang pertama mengenai nyonya Olif.."


"Ah ya bibi Olif.. hampir saja aku melupakannya.. apa yang terjadi dengannya..?"


"Di kurung tuan Kemal di ruang bawah tanah dimana tuan Kemal sering menghukum anak buahnya di sana.."


"Gila.. ini benar - benar gila.. bibi Olif adalah istrinya..!!!" teriak Haiden geram. "Kesalahan apa yang dilakukan bibi Olif hingga dia diperlakukan seperti itu..?"


"Para pelayan tidak ada yang tahu tuan.. hanya Roberto karena saat itu ia ada disana bahkan yang membawa ke ruang bawah tanah .."


"Kumpulkan semua bukti - bukti kejahatan Roberto termasuk kecelakaan orang tuan Aira.."


"Semua bukti sudah terkumpul tinggal menunggu perintah tuan untuk saya berikan ke pihak berwajib.."


"Kerja bagus Noah.." puji Haiden. "Bagaimana dengan acara Ivanka..?"


"Saya tidak menemukan orang di belakang Ivanka. Dia membayar semuanya menggunakan uang nya sendiri dengan rekeningnya sendiri.."


"Kamu yakin..?"


"Yakin tuan.."


"Bagaimana dengan tranfer..? apakah ada transfer ke rekeningnya dalam jumlah besar..?"


"Saya sudah memeriksanya tuan.. hanya ada transfer dari tuan Baskara.."


"Bagaimana dengan David..?"


"Dia tidak masuk dalam daftar dan saya mendapatkan informasi bahwa tuan David sedang melakukan perjalanan bisnis ke Singapore.."


"Sudah kamu pastikan tempat dan tamu undangannya.."


"Sudah tuan.. ini semua data tentang tamu undangan.. semuanya teman kuliah nona Ivanka dan sama sekali tidak membahayakan.."


Haiden melihat data yang di berikan Noah dan memberi keputusan "Baiklah.. aku akan berangkat.."


"Bagaimana dengan hadiahnya tuan..?"


"Kau pikir saja sendiri.. hadiah apa yang pantas untuknya.."


"Baik tuan saya permisi.."


Sepeninggal Noah, Haiden masih termenung kenapa instingnya mengatakan lain. Ada sesuatu yang harus ia waspadai. Tapi apa itu ia sendiri tidak tahu.. karena semua bukti dan data yang di bawa oleh Noah semuanya bersih.. Atau mungkin Noah melewatkan sesuatu..


Tok..tok..tok..


"Masuk.."


"Hai kakakku sayang.. aku bawa makan siang untukmu.."


"Tumben kesini tanpa memberitahuku.."


"Namanya juga kejutan.." ucap Azkara. "Lihat siapa yang kubawa.."


"Siapa..?"


"Aira.. ayo masuk kenapa malu - malu.." tarik Azkara.


Wajah Haiden berubah rona nya menjadi bahagia. Aira tampak cantik mengenakan gaun terusan warna kuning.


"Kenapa mesti malu sih.. kan dulu sudah sering kesini.." lanjut Azkara. "Eh kamu tahu tidak El, di bawah semua karyawanmu terpesona dengan Aira.. hahahahhhh... mereka semua tidak tahu kalau dulu ia adalah Abi.." cerita Azkara.


"Karyawan yang mana..?"


"Itu yang di bawah.. terus yang sebelum masuk ruanganmu ini.. sepertinya semua tersihir dengan Aira.." cerita Azkara menggebu - gebu.


Haiden sangat geram mendengarnya.


"Ah nona Azkara terlalu membesar - besarkannya.. bukan melihat saya tapi melihat nona.." Aira berusaha menghindar karena melihat perubahan wajah Haiden.


"Enggak kok.. kemarin saja ketika gilang datang ke rumah dia bilang kamu tambah cantik.." Azkara berusaha membuat Haiden tambah cemburu.


"Kalau kalian sudah selesai kalian bisa pulang.."


"Aduh jangan marah kakakku sayang.. aku cuma bercanda.."


"Tidak lucu..! kau mengganggu pekerjaanku.."


"Iya.. iya.. aku akan pulang.. ayo Aira.." ajak Azkara.


"Baik nona.."


"Langsung pulang ke rumah.. Aira baru sembuh.. harusnya dia tidak kau ajak keluar.."


"Aira pasti bosan di rumah.. iya kan..?"


"Tidak nona.. tidak tuan.. sssaya tidak bosan kok.."


"Sudah sana pulang.." usir Haiden


"Oke..oke.. aku pulang.."


"Bagus.. anak kecil harus nurut.."


"Saya permisi tuan.."


Haiden menatap tajam Aira. Wanita ini benar - benar cantik, polos dan menggemaskan.


"Hati - hati di jalan.."


Setelah mereka berdua keluar Haiden segera memanggil Noah.


"Perintah tuan.."


"Potong gaji semua karyawan yang dilantai bawah dan karyawan bagian keuangan.."


"Maaf tuan.. apa kesalahan mereka..?"


"Di saat bekerja seharusnya fokus bukan malah bermain mata dengan wanita.."


"Wanita..? maaf siapa tuan..? setahu saya di sana juga banyak pekerja wanita"


"Aira..! dasar bodoh..!"


"Baik.. akan saya laksanakan.." Noah meninggalkan ruang kerja Haiden dengan tersenyum penuh arti.


☘☘☘☘☘


Malam private party telah tiba. Haiden bersiap, kali ini ia hanya memakai kaos polos warna hitam dengan model turtleneck dan jas dengan warna senada.


"Tuan.. bouquet bunga lily nya sudah saya siapkan.."


"Bouquet bunga..? untuk apa..?"


"Seperti yang tuan perintahkan kemarin yaitu membawa hadiah untuk nona Ivanka.. saya memilih bouquet bunga tuan.."


"Oh.." jawab Haiden. Setelah melihat penampilannya sudah sempurna ia bersiap untuk berangkat. "Noah pakai ini.." perintah Haiden sambil menyerahkan sebuah jam tangan yang sama dengan apa yang di pakainya.


"Apa ini tuan..?"


"Ini jam tangan tapi ada alarm yang akan berbunyi ketika aku dalam bahaya.."


"Maaf.. apa ada sesuatu tuan..?"


"Entahlah.. insting ku mengatakan ada sesuatu di pesta itu.."


"Bukankah tuan sudah memastikan sendiri bahwa itu aman..?"


"Yah.. semua data dan informasi darimu menyatakan aman.. tapi hatiku berkata lain.. kita nanti sebentar saja.. hanya formalitas, karena aku menghargai Ivanka sebagai saudara Aira.."


"Baik tuan.."


"Ayo berangkat.."


"Aneh.. tuan tidak mengatakan apa - apa jika ingin pergi, apalagi malam - malam begini.." gumamnya


"Apa yang kau lihat Aira..?"


"Oh maaf bu Eda.. aku cuma heran biasanya kalau tuan akan pergi semua aku yang mempersiapkan, tapi kali ini malah Noah.."


"Mungkin sekarang karena kamu wanita jadi sungkan.."


"Oh.. mungkin saja begitu.."


"Sudah malam.. istirahatlah.. apalagi tuan sedang keluar.."


"Baik bu.. aku ke kamar dulu.."


Sementara itu di salah satu klub mewah di Jakarta tempat dimana pesta itu di adakan telah di penuhi oleh tamu undangan. Hingar bingar musik dan lampu ikut memeriahkan suasana. Terdapat juga kolam renang pribadi.


Haiden sudah sampai di sana ia segera masuk untuk menemui Ivanka sedangkan Noah hanya menunggu di luar.


"Silahkan tuan.. nona Ivanka berada di sana.."


"Terima kasih.."


Haiden melangkah menghampiri Ivanka yang malam ini mengenakan gaun merah pendek dengan tali spageti berbelahan dada cukup rendah.


"Selamat datang di pestaku Haiden.." peluk Ivanka senang. "Aku bahagia kau bisa datang.."


"Untukmu.." ucap Haiden sambil menyerahkan bouquet bunga pada Ivanka.


"Thank's aku suka..." ucap Ivanka sambil memeluk Haiden kembali. Cukup lama hingga Haiden terpaksa sedikit mendorongnya.


"Maaf.."


"Aku yang minta maaf karena terbawa suasana.." ucap Ivanka. "Oya kamu ingin minum apa..? Margarita di sini enak sekali.."


"Oke.. margarita.."


Ivanka segera melambaikan tangan memanggil pelayan dan memesan dua buah Margarita.


"Cherrs.."


"Bagaimana kabar Aira..?"


"Baik.."


"Aku harus minta maaf dengannya.. karena belum sempat menjenguknya.." ucap Ivanka pura - pura menyesal. "Kau tahu kan aku harus cepat menyelesaikan skripsiku.."


Haiden hanya diam. Bayangannya kembali ke rumah di mana Aira saat ini pasti sedang menata tempat tidurnya. Kenapa malam ini aku benar - benar merindukannya. Apa karena suasana di pesta ini.


"Hei.. kenapa diam..? aku di sini Haiden.." ucap Ivanka.


"Oh.. aku terbawa alunan musik ini.."


"Bagaimana kalau kita dansa sebentar..?"


"Tidak Iv.. lain kali saja.. aku akan pulang.."


"Oh.. common Haiden.. kau baru datang sebentar.." ucap Ivanka sambil terus memegangi tangan Haiden. "Please.. satu lagu saja oke.."


"Baiklah.."


Mereka berdua berdansa di pinggir kolam renang. Dengan lagu slow membuat Ivanka makin berani memeluk dan meraba dada Haiden.


"Iv.. stop.. kita hanya dansa oke.."


"Sorry Haiden.. aku terbawa suasana.."


Mereka melanjutkan dansa dan tiba - tiba..


"Maaf Haiden.." ucap Ivanka sambil menyuntikkan sesuatu di leher Haiden.


"Sial..!!! apa yang kau lakukan..!" teriak Haiden sambil memegangi lehernya. "Apa yang kau suntikkan di leherku.."


"Hahahahhahhh..." Ivanka tersenyum penuh kemenangan, tamu yang hadir hanya menonton pertunjukkan itu. "Itu obat perangsang dosis tinggi sayang.." jelas Ivanka. "Aku ingin malam ini menjadi nyonya Kafael Haiden Lukashenko.."


"Kau wanita licik Ivanka.."


"Terserah kau mau berkata apa.. malam ini kau milikku Haiden.. aku mencintaimu.." ucap Ivanka sambil mencium bibir Haiden. Dengan cepat Haiden mendorong tubuhnya hingga jatuh ke belakang.


Dengan sempoyongan Haiden menekan tombol alarm pada jam tangannya berkali - kali. Ia berusaha sekuat tenaga keluar dari tempat itu. Tapi badannya mulai terasa panas. Pandangannya mulai kabur "Noah..! Noah..! Noah..!" teriaknya berkali - kali.


"Haiden tunggu..!!! jangan lari.." Ivanka berteriak sambil mengejar Haiden. Dengan cepat ia berhasil meraih tangan Haiden. "Please Haiden.. aku akan memberikan surga untukmu.."


"Hehh.. Hehh.. jangan harap.. kau wanita ular.. aku.. aku.. tidak sudi bersama denganmu..!" ucap Haiden dengan napas tersengal - sengal.


"Hahahahh.. terserah.. tidak akan ada yang bisa membawamu keluar dari sini.." ucap Ivanka. "Bawa dia ke kamar.." perintah Ivanka pada dua penjaga.


"Berhenti..!!!"


"Noah.." ucap Ivanka lirih. Ia tidak percaya Noah bisa ada di tempat ini. "Ba.. ba.. bagaimana kau bisa masuk..?"


"Hanya melawan penjaga lemah seperti mereka bukan masalah yang sulit untukku.."


"Tunggu apa lagi.. serang dia.." perintah Ivanka. Dua penjaga tadi melepas pegangannya pada tangan Haiden dan mulai menyerang Noah.


Hanya dengan beberapa gerakan saja dua penjaga tadi berhasil di lumpuhkan.


"Maaf nona Ivanka.. jika anda tidak ingin berurusan dengan pihak berwajib dan masuk penjara tolong serahkan tuan Haiden pada saya.."


"Sial.. sial.. sial.. awas kau Noah..!!!" teriak Ivanka dan pergi meninggalkan mereka.


"Tuan.. tuan tidak apa - apa.. maaf saya terlambat.."


"Hehh.. hehh.. tidak.. tidak apa - apa.. kerja yang bagus.. sekarang bawa aku pulang ke rumah.."


"Baik tuan.."


Noah segera membawa Haiden pulang. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Ivanka menyuntikku dengan obat perangsang dosis tinggi.. bisa kau cepat sedikit.."


"Baik tuan.." jawab Noah sambil menambah kecepatan mobilnya.


Tak berapa lama mereka sampai di kediaman Lukashenko.


"Aku akan masuk sendiri.. cukup berendam air dingin saja sudah cukup.."


"Tapi tuan.."


"Kau urus saja siapa dalang di balik rencana Ivanka.."


"Baik tuan.."


Haiden dengan sempoyongam berusaha masuk ke dalam rumah. Karena sudah terlalu malam hanya sedikit pelayan yang ada. Ia segera naik ke atas menuju ke kamarnya.


Sial.. tubuhku semakin panas rasanya.. efek obat ini begitu kuat.. aku harus segera ke kamar mandi melampiaskannya.


"Tuan.."


"Hehhh.. hehh.. Aira.."


"Apa yang terjadi tuan..? tuan sakit..? kenapa berkeringat begini..?" tanya Aira.


"Bawa aku masuk.."


"Baik tuan.." Aira membantu tuannya masuk.ke dalam.kamar.


"Keluarlah..!"


"Ta..ta..tapi tuan.. saya tidak bisa meninggalkan tuan dalam keadaan seperti ini.." ucap Aira.


Gila.. aroma tubuh Aira membuat aku semakin bergairah. Aku benar - benar tidak bisa lagi mengontrol diriku batin Haiden. Sepertinya berendam air dingin tidak akan mempan, obat ini begitu kuat.. Ia segera memeluk dan menjatuhkan Aira di atas tempat tidur. Haiden menindihnya


"Hehh.. hehh.. aku menyuruhmu pergi tapi.. tapi.. kau tetap bersikukuh ingin bersamaku disini.. jadi jangan salahkan aku atas perbuatanku ini..!"


"Aap..aap..apa yang akan tuan lakukan..!"


☘☘☘☘☘