
"Aku.. aku sudah tidak tahan lagi Aira.."
"Apa.. apa.. maksud tuan..?"
Haiden masih tetap menindih Aira. Tangan kanannya mengunci kedua tangan Aira yang kecil. Keringatnya mengalir perlahan di peluhnya.
"Kau menggairahkan Aira.." ucap Haiden dengan suara parau.
"Bi..bi..bisakah tuan minggir.. saya tidak bisa bernapas.."
"Tidak bisa Aira.. aku akan tetap seperti ini.."
"Tu.. tu.. tuan saya benar - benar takut.."
"Maafkan aku Aira.." ucap Haiden lirih. Ia mulai mencium Aira dengan buas. Tanpa memberi jeda Aira untuk bernapas
"Hhmmmpphh.. hhmmmpphh.."
Haiden terus memaksa Aira.. Ciumannya semakin dalam membuat Aira kehabisan napas. Melihat Aira yang kesulitan bernapas ia menghentikan aksinya sejenak. Haiden menyatukan keningnya. Napasnya terengah - engah.
"Tuan.. saya mohon jangan.." pinta Aira. Air matanya mulai mengalir.
"Maafkan aku Aira.. maafkan aku.. aku tidak bisa.."
Bibir Haiden menempel di leher pelayan pribadinya itu, membungkam Aira rapat - rapat. Sesuatu yang aneh di rasakan Aira. Antara menolak atau menginginkan setiap sentuhan dari tuannya yang tampan itu. Hampir saja lenguhan keluar dari mulutnya tatkala Haiden menghisap dalam lehernya.
Apa ini.. apa yang tuan lakukan padaku.. tuhan beri aku kekuatan untuk menolaknya..
Haiden mulai membuka bajunya dengan paksa hanya sekali tarikan ia berhasil merobek baju Aira. Terpampanglah dengan nyata dua bukit kembar miliknya. Mata Haiden melotot bagaikan binatang buas melihat mangsanya.
Kesempatan itu dipergunakan Aira untuk mendorongnya dengan sekuat tenaga. Berhasil batinnya. Ia segera menutup kedua bukit kembarnya dengan baju yang tersisa dan turun untuk menuju pintu.
Tapi apa daya Haiden lebih cepat bergerak. Baru beberapa langkah Haiden berhasil menarik pinggangnya. Kemudian membalikkan tubuhnya dan menguncinya di tembok. Kedua tangan Aira di naikkan ke atas dan di kunci hanya dengan satu tangan Haiden. Sedangkan tangan yang satunya sibuk membuka sesuatu yang menghalangi dua bukit kembar itu.
"Tuan.. saya mohon.. lepaskan saya tuan.."
"Bantu aku Aira.. bantu aku.."
"Bantu app.. hhhmmmpphh.."
Belum sampai Aira menyelesaikan pertanyaannya Haiden sudah membungkam mulutnya dengan ciuman panas. Tangan yang satu mulai memainkan bukit kembar milik Aira tanpa ampun.
Aira menggigit bibirnya. Ia menahan agar suara lenguhan dan eraman itu tidak keluar dari mulutnya. Ia merasa bagai seorang wanita murahan di hadapan tuannya itu.
Tanpa sadar Aira melenguh pelan saat lidah Haiden menelusup masuk dan bermain di sana. Lidah mereka bersentuhan hingga menimbulkan sensasi geli.
Ciuman Haiden mulai turun, ia ingin merasakan dua bukit kembar milik Aira yang masih polos dan belum terjamah siapa pun. Memberikan sensasi menggelitik geli pada tubuh Aira. Hingga membuat dua bukit kembar miliknya mengencang dan nyeri. Haiden meninggalkan beberapa jejak disana. Haiden terus menggoda dengan menggunakan ujung lidahnya dan bermain di pucuk bukit Aira.
Aira merasa lemah, ia tidak bisa berpikir logis, tidak berkonsentrasi bahkan tidak lagi berusaha melindungi dirinya dari serangan - serangan Haiden. Tubuhnya lemas tapi di sisi lain terasa hidup dan mulai mendambakan sentuhan Haiden.
Haiden kemudian membawa tubuhnya di atas tempat tidur. "Tuan...tolong hentikan.. saya mohon.." Aira kembali terisak. Kedua kakinya di kunci Haiden menggunakan kaki. Kedua tangannya terikat oleh bajunya yang robek.
"Maaf Aira.. aku benar - benar butuh bantuanmu.. tubuhku.. tubuhku terasa panas..!" ucap Haiden seperti orang yang tak sadarkan diri dengan perbuatan dan tindakannya. Yang ada dalam otaknya adalah pelampiasan. Semua itu efek dari obat yang disuntikkan Ivanka.
Setelah melepas semua yang ada pada tubuhnya dan tubuh Aira. Seolah tidak memberikan kesempatan Aira untuk kabur. Haiden menindihnya kembali dan mencari bibir Aira yang terasa manis dan menggoda. Aroma tubuh Aira membuat Haiden semakin ingin terus melakukannya. Haiden mengeram pelan dan mulai mencoba penyatuan antara ia dan Aira. Dalam sekali hentakan kuat tubuh mereka menyatu bersamaan dengan teriakan Aira.
"Aaaacchhhh.. sakiiiittt.." teriak Aira kuat.
Haiden mulai bergerak, awalnya berlahan kemudian meningkatkan ritmenya menjadi lebih cepat. Seraya bergerak Haiden membungkuk untuk memagut bukit kembar Aira lagi. Air mata Aira terus mengalir ia merasakan perih dan sakit yang luat biasa. Haiden mendorong lagi dan lagi. Terus dan terus bergerak hingga lepas kendali. Dan tiba - tiba napasnya seolah berhenti seluruh tubuhnya menegang kuat hingga saat tiba mencapai puncak kenikmatan yang membuatnya puas. Haiden menjadi tidak sadarkan diri.
Aira terus menangis. Ya tuhan apa yang telah aku lakukan. Aku kotor.. sangat kotor.. Ia kemudian menyingkirkan Haiden yang tak sadarkan diri.di atas tubuhnya. Entah apa yang dilakukan tuannya malam ini bukan seperti tuan Haiden yang dia kenal. Pasti ada sesuatu yang terjadi di pesta itu tapi entah apa.
Dengan susah payah akhirnya Aira berhasil menyingkirkan tuannya hingga tidur di sampingnya. Miliknya masih terasa berdenyut, sakit dan perih.
Aira mencoba untuk bangkit dan ia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Darah.. ya darah.. Ia kembali terisak untuk beberapa saat. Maafkan aku ayah dan bunda batin Aira bersalah dengan kedua orang tuanya. Ia kemudian menghela napas panjang. Di lihatnya tubuh Haiden yang tanpa sehelai benang pun tergeletak di sebelahnya. Aira menghela napas panjang. Aku harus bisa berpikir dengan cepat batinnya.
Ia tahu dalam keadaan sadar tuan nya tidak akan mungkin berbuat itu dengannya. Pasti ada sesuatu, besok aku akan mencoba bertanya pada Noah batin Aira. Ia tampak berpikir dengan keras apa yang harus dilakukannya jika nanti tuannya sadar dan tahu dengan apa yang telah terjadi tentu saja akan membuatnya sangat menyesal. Ia tidak ingin tuannya tahu apa yang telah terjadi.
Aira segera membersihkan tubuh tuannya dengan air hangat. Dibersihkan sampai bersih hingga ketika tuannya bangun nanti ia tidak sadar dengan apa yang telah dilakukannya. Pasti akan canggung nantinya bila tuannya tahu. Biarlah ini menjadi rahasianya sendiri. Setelah selesai Aira segera memakaikan celana tidur tuannya. Dengan sedikit tertatih ia mengambil sprei yang telah kotor itu dan menggantinya dengan yang baru. Air matanya tak henti - hentinya keluar dari sudut matanya yang indah. Aira menahan semua kesakitan itu sendiri.
Setelah semua di rasa bersih dan seperti tidak terjadi apa - apa, Aira menyelimuti tubuh Haiden dan menyalakan suhu ruangan seperti biasanya. Ia memandang Haiden dengan tatapan mendalam. Di belainya pipi Haiden dengan lembut kemudian mengecup keningnya. Maafkan aku tuan, biarlah ini menjadi rahasiaku dan semoga ketika kau terbangun nanti, tidak akan mengingat apapun. Aku hanya seorang pelayan yang tidak pantas berada di sisimu. Aku tahu yang kau lakukan itu bukan karena keinginanmu. Kau tidak perlu merasa bersalah denganku bati Aira.
Dengan langkah tertatih - tatih ia keluar dari kamar Haiden. Ditutupnya pintu itu pelan - pelan agar tidak ada orang yang menyadarinya jika ia keluar dari kamar Haiden tengah malam begini. Aira terpaksa meminjam kemeja Haiden karena bajunya sudah terkoyak tidak berbentuk. Sambil menahan perih dan sakit ia menuruni tangga dan menuju ke kamarnya. Tanpa ia sadari sepasang mata melihatnya.
Sesampainya di kamar Aira segera ke kamar mandi. Diguyur seluruh tubuhnya dengan air berkali - kali. Ia melihat tubuhnya yang penuh bercak akibat perbuatan Haiden. Di dalam guyuran air dari shower Aira menangis sejadi - jadinya. Bagaimana masa depannya nanti, apakah suami masa depannya nanti akan menerima dirinya yang sudah tidak perawan lagi atau ia tidak akan menikah sampai tua nanti pikirnya kalut.
Bagaimana besok jika ia bertemu dengan tuannya. Ia pasti akan canggung walaupun tuannya akan bersikap biasa saja karena tidak tahu apa yang telah terjadi batin Aira.
Aira memutuskan besok akan ijin pada Harika. Ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Malam ini benar - benar malam yang tidak akan Aira lupakan seumur hidup. Ia menghapus air matanya dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan mencoba untuk tidur.
☘☘☘☘☘
"Pagi bu Eda.."
"Pagi Aira.." jawab Eda. "Kamu sakit..?"
"Tidak bu.."
"Tapi kenapa wajahmu lesu dan kurang tidur seperti itu..?"
"Semalam temanku Nayla menelepon, ia meminta bantuan karena orang tuanya sakit. Hari ini aku akan mencoba ijin nyonya, siapa tahu dijinkan menemani Nayla di rumah sakit.." ucap Aira berbohong.
"Nyonya ada di kamar.. naiklah.."
"Baik bu.. terima kaasih.."
Aira segera menuju ke atas. Ia melewati kamar Haiden, dadanya berdegup keras. Setelah sampai di deoan kamar Harika ia bernapas lega.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk.." perintah suara dari dalam.
"Selamat pagi nyonya.."
"Aira.. tumben kenapa pagi - pagi kesini..? Haiden belum bangun..?"
"Belum nyonya.. tuan masih tidur.. semalam pulangnya larut.."
"Ada perlu apa Aira..?"
"Maaf nyonya hari ini saya mau ijin untuk menemani sahabat saya, orang tuanya masuk ke rumah sakit.. dia tidak punya saudara di sini.."
"Hmm.. baiklah kamu boleh ijin bekerja hari ini.. besok pagi kamu sudah harus pulang.."
"Terima kasih nyonya.." ucap Aira. "Saya pamit keluar.."
Harika hanya menjawabnya dengan anggukan.
Aira segera bersiap untuk keluar menemui sahabatnya Aira. Saat ini ia membutuhkan dua sahabatnya karena hanya mereka berdua orang terdekatnya.
Di depan ia bertemu dengan Noah.
"Aira mau kemana..?"
"Aku mau menemui Nayla sahabatku...orang tuanya sakit.."
"Sudah ijin tuan..?"
"Belum tapi sudah ijin nyonya.." jawab Aira. "Noah maaf.. apa yang terjadi dengan tuan semalam..?"
"Kau bertemu tuan..? tuan tidak melakukan apa - apa kan kepadamu..?"
"Ti..ti..tidak melakukan apa - apa.." jawab Aira gugup. "Memangnya tuan kenapa..?"
"Syukurlah kalau tidak terjadi apa - apa.. ini semua gara - gara saudata sepuoumu iti.."
"Ivanka..? apa hubungannya keadaan tuan dengan Ivanka..?"
"Jadi semalam tuan datang di pesta kelulusan Ivanka. Tuan datang karena menghargaimu.. tapi ternyata di sana tuan di jebak dengan di suntikkan obat perangsang dosis tinggi oleh Ivanka.. syukurlah jika tidak terjadi apa - apa denganmu.. tapi bagaimana kamu menangani tuan.."
"Oh.. itu.. itu.. tuan minta berendam air dingin.."
"Bagus.." puji Noah. "Oya dimana tuan..?"
"Ada di kamar..masih tidur.."
"Baiklah aku tunggu saja di ruang kerja.." ucap Noah.
"Kalau begitu aku permisi dulu.." pamit Aira.
Oh ternyata tuan terkena obat perangsang.. pantas saja ia sanggup melakukan hal itu padaku.. bahkan berkali - kali ia mengatakan maaf.
Aira segera meninggalkan kediaman Lukashenko. Aku yakin ketika bangun nanti tuan pasti akan mencariku. Untung saja aku sudah menuliskan pesan untuknya batin Aira sambil menghela napas panjang.
☘☘☘☘☘