
"Itu hanya sebuah parfum dan kemeja tuan.. nanti akan saya ganti.."
"Sombong benar kau sekarang Eda.."
"Maafkan saya tuan.. maksud saya bukan itu.."
"Kau mau melindungi sebuah kejahatan..?!" ucap Haiden. "Mencuri adalah suatu tindakan pidana dan bisa di hukum lima tahun penjara.."
"Tapi ini Aira tuan.. yang dia bawa hanya parfum saja dan juga ia pelayan yang sudah memberikan waktu dan tenaganya untuk tuan.."
"Tapi dia juga meninggalkanku Eda..!!!" teriak Haiden.
Eda memejamkan mata, ia berpikir keras bagaimana membuat Haiden tenang "Mungkin maksud Aira membawa parfum dan baju tuan untuk mengobati rasa rindunya pada tuan.. kita sama - sama tidak tahu alasan dia pergi.."
Haiden diam, sedikit demi sedikit wajahnya berubah menjadi lebih tenang. Kemudian ia duduk.
"Kenapa dia meninggalkanku Eda..?" gumamnya pelan.
"Saya tidak tahu tuan.."
"Aku tidak berbuat sesuatu yang menyakiti hatinya, aku melindunginya tapi apa yang dia lakukan padaku.. sial..! sial..!" Haiden menggebrak meja. "Keluarlah.. aku ingin sendiri.."
"Baik tuan saya permisi.."
Aira apa yang telah kamu lakukan. Kau sudah mempermainkan tuan Haiden seorang mafia kau sudah cari masalah batin Eda.
Sementara itu di dalam ruangan Haiden menerima telepon dari Noah.
"Ya Noah.."
"Maaf tuan, Gilang sepertinya tidak bisa kita curigai karena dia bersih.. tidak ada tanda - tanda Aira disana.."
"Bagaimana dengan kedua sahabatnya..?"
"Sama.. justru mereka tidak tahu jika Aira sudah tidak bekerja dengan anda.."
"Bandung..? apa dia ada di Bandung..?"
"Sampai saat ini kami belum menemukannya tuan.."
"Bodoh..! bagaimana kerja kalian..?! aku membayar mahal kalian untuk bekerja.."
"Maaf tuan.."
"Temukan dia secepatnya..!!! aku tidak mau tahu..!!!" teriak Haiden dan mengakhiri panggilannya.
Ia memegangi pelipis kepalanya. Napasnya memburu, karena emosi yang memuncak. Ia keluar dari ruangan "Tama siapkan mobil.."
"Baik tuan.."
"Hei bayi besar kau mau kemana..?" tanya Azkara yang kebetulan berpapasan di lorong.
"Bukan urusanmu anak kecil.."
"Oke.. aku tidak akan membantumu mencari Aira.." ucap Azkara sambil meninggalkan Haiden sendiri.
"Hei kamu..!" teriak Haiden sambil melihat Azkara.
"Maaf tuan.. mobilnya sudah siap.."
"Ayo pergi.."
"Kemana tuan..?"
"Kelab.."
Haiden masuk ke dalam mobil. Ia pergi menenangkan diri. Berusaha menjauhkan pikirannya dari Aira. Sial kenapa kehilangan pelayan seperti dia hampir sama aku kehilangan dunia batin Haiden geram.
"Kita sudah sampai tuan.."
"Kau tunggu di sini saja.."
"Baik tuan.."
Haiden masuk sendiri ke ruang VIP. Ia memesan beberapa minuman. Siapa tahu dengan mabuk aku bisa melupakanmu batin Haiden. Ia minum seteguk demi seteguk.. lagi dan lagi.
"Maaf tuan Haiden.. apa perlu saya panggilkan seseorang untuk menemani tuan.."
"Terserah.." jawab Haiden asal. Ia sudah setengah tak sadarkan diri karena minuman.
Tak lama kemudian datang seorang wanita cantik, seksi hanya mengenakan bikini.
"Selamat malam tuan Haiden.." sapa wanita itu. Ia menuangkan minuman ke dalam gelas Haiden yang kosong. "Malam ini aku akan membuat tuan menikmati surga dunia.." tangan wanita itu mulai membelai dada Haiden yang bidang.
"Hei.. siapa kamu..?"
"Aku wanitamu malam ini.." bisik wanita itu di telinga Haiden. Dengan lembut ia langsung duduk di pangkuannya Haiden.
"Hmm.. tidak.. tidak.. wanitaku pergi.." ucap Haiden setengah tak sadarkan diri. "Kamu bukan Aira.."
"Terserah tuan mau memanggil aku apa.. Aira juga boleh.. malam ini aku akan menjadi Aira untukmu tuan.."
"Hmm.. minggir..." dorong Haiden. Ia kemudian berdiri dengan sempoyongan. "Aira sangat wangi tidak berbau busuk seperti mu.."
Kurang ajar aku di tolak mentah - mentah.. aku harus bisa mendapatkanmu Haiden batin wanita malam itu geram.
Haiden berjalan menuju pintu dengan sempoyongan. Wanita malam itu berhasil memeluknya dari belakang "Tuan jangan pergi.. aku membutuhkanmu.. aku bersedia menghangatkanmu malam ini tuan.."
"Pergi..!" ucap Haiden sambil berusaha melepaskan pelukan wanita itu.
"Tidak tuan.. aku tidak akan pergi sebelum tuan mencicipiku.." paksa wanita itu sambil menggesek gesekkan dua bukit kembarnya di punggung Haiden.
Tiba - tiba Noah masuk "Lepaskan.. atau kau akan menerima akibatnya.."
"Siapa kau..? tuan Haiden akan menghabiskan malam ini denganku.. keluar kau..! jangan mengganggu..!"
"Aaaccchh...pergi kalian semua..!!!" Haiden tiba - tiba berteriak
"Heh.. baiklah.. dasar laki - laki tak berguna.. ada kesempatan manis tidak di gunakan.." ucap wanita itu kesal dan kemudian meninggalkan mereka.
"Ayo tuan.." Noah membantu Haiden berjalan keluar..
"Hmm.. Noah..? kenapa kau disini..? mana Aira..? kau sembunyikan dimana..?"
"Maaf tuan.. mari kita pulang.."
"Tidak.. tidak.. tadi ada Aira di sini.." ucapnya sambil mendorong Noah dan berjalan sempoyongan sendiri.
Noah segera menyusul dari belakang, menjaga kalau Haiden terjatuh.
"Aira sayang.. kamu dimana..? kamu sembunyi di mana sayang..?" teriaknya berulang - ulang
"Tuan awas.." Noah segera memegang pinggang Haiden agar tidak jatuh. Dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.
"Tuan kenapa..?"
"Mabuk.. sudah ayo kita jalan.." perintah Noah pada Tama.
"Aduh.. aduh.. kasihan tuan.."
"Jangan banyak tanya.." Noah mengingatkan.
Mereka segera pulang menuju kediaman Lukashenko. Sepanjang perjalanan Haiden mengigau.
"Aira.." ucapnya.
"Itu tuan mengigau.." ucap Tama.
"Sudah tidak usah kau hiraukan konsentrasi ke menyetir saja.."
"Aira.." igaunya lagi. "Kenapa kau meninggalkan aku..? apa salahku sayang..?"
"Loh kok tuan panggil sayang..? apa maksudnya..?"
"Tama.. jangan ikut campur masalah tuan.. diam dan pura - pura tidak mendengar.."
"Iya.. iya.."
"Oya terima kasih kau sudah menghubungiku kalau tuan ada di kelab.. kalau tidak masalahnya akan tambah rumit lagi.."
"Iya sama - sama.." ucap Tama sambil tersenyum bangga.
Tuan aku berjanji akan menemukan Aira bagaimana pun caranya. Aku tidak akan membiarkanmu terpuruk lebih lama. Pasti ada orang dalam di balik ini semua. Tapi siapa orang yang begitu rapi menyembunyikan Aira batin Noah.
☘☘☘☘
Waktu terus berlalu, hari berganti dengan hari, bulan berganti dengan bulan. Tak terasa sudah hampir empat bulan Haiden masih terus melakukan pencarian keberadaan Aira. Tapi sekarang keadaannya sudah lebih tenang, ia sudah beraktivitas dan tidak terpuruk lagi. Walaupun jauh di lubuk hatinya masih menginginkan Aira kembali ke sisi nya.
Sementara itu Azkara datang mengunjungi Aira.
"Hmm.. keponakan onty sudah besar.. baik - baik ya di dalam sana.." ucapnya sambil membelai perut Aira.
"Hari ini menginap kan..?"
"Maaf Aira aku tidak bisa.. ibu sudah mulai curiga karena aku sering ke Bandung.."
"Terus alasanmu kali ini apa..?"
"Ke rumah temen di Bogor.."
"Cerdas kamu.."
"Eengg.. bagaimana kabar tuan..?"
"Dia sudah semakin membaik, tapi masih terus mencarimu.. apa kau tidak berpikir untuk kembali..?"
"Sebenarnya aku ingin.. aku rindu dengan nyonya, bu Eda, bik Sumi, pak Mustofa dan juga kakakmu.." jawab Aira tertunduk malu.
"Lantas apa lagi yang kau tunggu.. lihat perutmu sudah membesar.. sebentar lagi juga melahirkan.."
"Aku masih takut Azka.."
"Egois dan juga gengsi.. kalian berdua sama saja.. tidak mau mengakui kalau kalian itu sebenarnya saling mencintai.."
"Tidak saling mencintai.. hanya aku yang mencintai, tidak dengan kakakmu.."
"Aira.. Aira.. kalau kakakku tidak mencintaimu tidak mungkin sampai sekarang ia masih mencarimu yang nota bene nya seorang pelayan.."
"Tapi ia tidak pernah menyatakan perasaannya padaku.."
"Bagaimana mau menyatakan perasaan, kamu saja sudah kabur duluan.." ucap Azkara. "El itu orang yang kaku, yang dia tahu hanya kerja, bisnis dan digandrungi para wanita.. ia tidak pernah mengejar atau mendekati seorang wanita.."
"Dia pernah mengejar Ivanka.."
"Itu karena penasaran.. dan hasil akhirnya Ivanka kan yang ngebet mendekati El.. ayolah Aira kita kembali ke rumah.." bujuk Azkara.
"Nanti akan aku pikirkan kembali.. aku takut di tolak Azka.. rasanya pasti menyedihkan.."
"Kau belum mencobanya.. bagaimana kau tahu jawabannya.."
Aira diam cukup lama, ia mencerna apa yang dikatakan oleh Azkara. Semuanya memang benar tidak seharusnya ia menjadi seorang pengecut.
"Pikirkanlah Aira..." ucap Azkara membuyarkan lamunannya. "Oya ini aku bawakan permintaanmu.. video Haiden berkuda.. kau harus tahu perjuanganku membujuknya untuk bermain kuda.."
"Terima kasih Azka.. ia pasti sangat tampan.."
"Bagaimana kandunganmu..?"
"Oh dia sangat sehat dan aktif apalagi setiap melihat video tuan ia selalu menendang.."
"Sudah tahu jenis kelaminnya..?"
"Kata dokter laki - laki.."
"Wow.. seandainya El tahu ia pasti senang anak pertama nya laki - laki.." ucap Azkara. "Kau sudah belanja perlengkapan bayi..?"
"Belum nanti saja kalau sudah tujuh bulan.."
"Itu kan sebentar lagi.. aku saja nanti yang belanja.. oke.."
"Hahahahh.. yah terserah onty Azka saja.."
Mereka tertawa bersama. Setelah makan siang Azkara pamit pulang.
☘☘☘☘☘
Azkara sampai di kediamannya. Ia sudah memeriksa dengan teliti tidak ada yang mengikutinya.
"Azka.. ibu mau bicara..?"
"Aku mandi dulu ya bu.. badanku lengket.."
"Baiklah.. ibu tunggu di kamarmu.."
Harika dan Azkara masuk ke dalam kamar. Azkara segera mandi untuk menghilangkan capek dan badannya yang sudah lengket. Setelah segar kembali ia segera menemui Harika.
"Apa yang mau ibu bicarakan..?"
"Dimana Aira..?"
"Maksud ibu apa..? aku tidak mengerti.."
"Jangan bohong Azka.. ibu tidak pernah mengajarkanmu untuk berbohong.."
"Iya aku tahu.. aku tidak bohong ibu.." Azkara berusaha meyakinkan ibunya.
"Tatap mata ibu kalau sedang bicara.."
Azkara menatap mata Harika.
"Sekarang ibu tanya lagi.. kau sembunyikan dimana Aira..?" Azkara kemudian menunduk. "Ayo jawab.. kenapa diam..?"
"Ibu.. aku bisa jelaskan semuanya.."
"Oke.. ibu akan tunggu.."
Azkara menarik napas dalam - dalam kemudian menghembuskan pelan - pelan sebelum bercerita. Takutnya ceritanya akan membuat ibu kaget.
"Jadi suatu malam setelah dari pesta Ivanka, El sudah disuntik dengan obat perangsang dosis tinggi ia berhasil melarikan diri di bantu oleh Noah.. akibatnya malam itu El memperkosa Aira.. dan sekarang Aira hamil ibu.."
"Ap..ap..apaa..!!!" teriak Harika. Ia syok mendengar cerita Azkara, wajahnya pucat dan itu membuat Azkara panik. Ia segera membawakan Harika minuman.
"Ibu.. ini minum dulu.."
Setelah Harika bisa mengontrol emosinya dan lebih tenang dia mulai bertanya pada Azkara "Jadi aku mau punya cucu..?" tanya Harika pelan - pelan.
"Iya ibu, seorang cucu laki - laki.."
"Benarkah..? oh ibu bahagia Azka.." ucap Harika dengan mata berkaca - kaca. "Sudah lama ibu menginginkan kehadiran seorang cucu.. bisa ibu menemui Aira..?"
"Aku akan membawa ibu kesana.." ucap Azkara. Maafkan aku Aira, sudah saatnya ibu tahu.. aku tidak bisa berbohong lebih lama lagi batin Azkara.
"Bagaimana keadaannya..?"
"Sangat sehat ibu.. justru waktu awal - awal El yang pusing, mual dan ngidam.. hahahahhh.."
"Jadi hilangnya parfum El karena alasan ini..?"
"Iya.. Aira tidak mual kalau mencium aroma tubuh El.."
"Ah.. ibu jadi tahu alasan kenapa kau sering menyuruh kakakmu membuat video.."
"Hehehehh.. iya bu itu permintaan Aira, katanya kalau melihat rekaman El, bayinya akan menendang.."
"Oh.. benarkah.. ibu sudah tidak sabar ingin melihatnya.."
"Ibu.. aku mohon El jangan sampai tahu dulu masalah ini.. aku sangat menghargai permintaan Aira.."
"Baiklah kalau itu permintaannya.. nanti akan ibu bujuk untuk kembali ke rumah.. tapi apa alasan Aira menyembunyikan kebenaran ini..?"
"Aira takut jika dianggap menjebak El.. karena ia hanya seorang pelayan.. sebenarnya Aira sudah mencintai El sejak lama tapi dasar El si hati batu tidak peka dengan sikap Aira.."
"Heh.. sangat di sayangkan.."
"Oya.. darimana ibu tahu kalau aku yang menyembunyikan Aira..?"
"Ingat suamiku seorang pebisnis handal tentu saja otakku juga harus pintar.." ucap Harika bangga. "Pertama kau sering pergi keluar kota.. kedua ibu pernah mendengar kau berbincang dengan Aira.. dan ketiga waktu kecil kau selalu menyembunyikan barang kesukaan El untuk menarik perhatiannya.."
"Tapi maksudku baik bu.. agar ia mengakui perasaannya kalau ia mencintai Aira.."
"Ibu tahu maksud baikmu.."
"Ibu tidak keberatan dengan status Aira yang seorang pelayan.."
"Ibu tidak keberatan.. Aira itu anak yang baik, mandiri dan juga sangat tulus menyukai kakakmu.. aku yakin El akan bahagia jika bersamanya.."
"Ah.. syukurlah aku lega mendengarnya.."
"Ingat besok antar ibu menengok cucu.."
"Siap laksanakan oma.."
Mereka berdua tertawa bersama..
☘☘☘☘☘
Entah kenapa malam ini Haiden sangat merindukan Aira. Tiap hari untuk mengusir rasa rindunya ia menyibukkan diri dengan pekerjaan di kantor. Banyak menjalin kerjasama dengan beberapa klien sekaligus. Ia berusaha sibuk agar bayangan Aira tidak sempat singgah di hatinya.
Haiden melangkahkan kakinya ke belakang dimana tempat para pelayan tidur. Ia masuk ke dalam kamar Aira. Ia menyuruh Eda untuk menjaga kamar Aira dan mengosongkannya. Ia berharap sewaktu - waktu Aira ditemukan bisa menempati kamar itu lagi.
Terkadang Haiden diam - diam tidur di sana sambil mencari aroma tubuh Aira yang tertinggal di sana.
Ia duduk di tepi tempat tidur sambil membelai bantal di mana sering Aira tiduri.
"Aku benar - benar merindukanmu Aira.. sangat merindukanmu.." gumamnya lirih. Matanya berkaca - kaca. "Maaf selama ini aku tidak jujur dengan perasaanku.. aku sangat mencintaimu.."
Drrrtt.. drrrttt.. drrrtt.. handphone nya berdering.. ada panggilan masuk. Tapi karena terburu - buru mengangkatnya handphone itu jatuh ke lantai. Haiden segera merunduk untuk mengambilnya.
Hei apa itu.. sebuah bungkusan tertinggal di bawah tempat tidur Aira batin Haiden. Ia segera mengambil bungkusan itu dan membukanya.
"Apa ini.." gumamnya. Sebuah baju pelayan yang sudah robek. Haiden meneliti dengan seksama.
"Ini baju Aira.. kenapa robek seperti ini..? ada beberapa kancing yang tidak ada..? dan kancing ini sama dengan kancing yang aku temukan di kamarku.."
Kemudian ia mengambil satu lagi barang yang masih tersisa di bungkusan. "Hei.. ini sprei milikku.. kenapa Aira menyimpannya..?"
Haiden terus memperhatikan sprei itu "Tunggu.. apa ini..? noda darah..?" Haiden tampak sangat terkejut. "Aku harus mencari tahu..." ucap Haiden sambil mencengkeram baju dan sprei itu.
☘☘☘☘☘