My Desire

My Desire
Jebakan Baskara



Untuk beberapa saat Haiden terpaku di depan pintu kamar Aira. Baru kali ini ia bimbang dalam mengambil keputusan. Antara masuk ke dalam atau mengurungkan niatnya dan kembali ke kamar


"Aira kamu telah merubah kebiasaanku yang tidak pernah ragu dalam mengambil keputusan.." gumam Haiden.


Oke.. apa boleh buat.. aku membutuhkan jam tidur yang baik karena pekerjaanku bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak orang membutuhkan aku.. jadi aku melakukan ini demi mendapatkan kualitas tidur yang baik pikir Haiden. Tidak salah bukan jika aku melakukan ini secara diam - diam.


Ia segera membuka pintu kamar Aira dengan menggunakan kunci cadangan miliknya. Hmm... ternyata setiap hari kau mengunci pintu kamarmu agar penyamaranmu tidak terbongkar batin Haiden.


Dengan perlahan ia melangkah mendekati Aira yang sedang tertidur nyenyak. Hah aku mirip sekali dengan pencuri yang mengendap - endap untuk mengambil sesuatu yang berharga. Tidak.. aku bukan pencuri.. dia pelayanku itu artinya dia juga milikku.


Haiden naik ke atas tempat tidur dan memeluknya dari belakang hal itu memberikan rasa nyaman yang luar biasa. Tempat tidur ini tidak seempuk dan selembut tempat tidurku tapi kenapa begitu aku naik dan memelukmu terasa sangat nyaman dan rasa kantuk itu datang batin Haiden. Sepertinya aku harus menemukan cara lain agar kau bisa selalu berada di kamarku. Aku tidak bisa menggunakan cara seperti ini terus.


Setelah beberapa saat Haiden memeluk Aira dan merasa puas. Ia bangun untuk kembali ke kamarnya. "Malam Aira.." pamitnya sambil mencium bibirnya sekilas. "Karena kau sudah memberiku kenyamanan maka kau bisa menikmati bibirku ini.." bisik Haiden sambil terus memberikan ciuman - ciuman kecil di seluruh wajah Aira.


Puas dengan stempel keakraban Haiden keluar dan kembali menuju ke kamarnya. Suasana bahagia di hatinya membuatnya tidur nyenyak sampai pagi.


"Tuan.. tuan.. tuan.. bangun.." panggil Aira.


Tiba - tiba dengan cepat tangan Haiden meraihnya dan menjatuhkannya di atas tempat tidur kemudian menguncinya agar tidak bergerak - gerak.


"Tttuan.. maaf.. ini saya Abi tuan.."


Haiden tetap diam dan menguncinya.


Dengan sedikit meronta Aira berusaha melepaskan diri. "Tuan.. tuan.. saya Abi tuan.."


Haiden tersadar dengan apa yang telah dilakukannya. "Abi..?" ucapnya pura - pura terkejut. "Aku kira Azka.."


"Eh tidak apa - apa tuan.. memang kadang orang tidur sering tidak sadar.." jawab Abi. Haiden belum juga melepaskan pelukannya bahkan untuk sekian detik mereka saling berpandangan. "Ttuan maaf.. saya tidak bisa bernapas.."


"Oh.." Haiden seakan tersadar dan melepaskan pelukannya. Aira bergegas bangun dari tempat tidur.


"Tuan mau gym atau berkuda..?"


"Aku mau mandi saja.."


"Oh.. baik akan saya siapkan tuan.."


"Kau belum menyiapkannya..? bagaimana kerjamu..? kau sudah lama ikut dan tahu jadwalku bukan..?"


"Maaf tuan.. ini diluar kebiasaan tuan.."


"Jangan membantah..!"


"Maaf tuan.." ucap Aira dan segera menuju kamar mandi. Kenapa tuan marah - marah tadi baik - baik saja.. salahku apa batin Aira tidak mengerti dengan perubahan sikap tuannya itu.


Hah kenapa aku jadi emosi.. atau karena malu dan takut ketahuan batin Haiden.


Dengan muka cemberut Aira mengisi air di bathtube dan mengatur suhunya. Setelah itu memasukkan sabun, beberapa tetes essence lavender untuk aroma terapi. Akan tetapi karena dalam keadaan marah ia tidak hati - hati dan terpeleset. Gubraakkk...!!!


"Aaauuwww..!!!" teriaknya kesakitan.


Haiden segera masuk ke dalam kamar mandi, ia melihat Aira yang terduduk di lantai "Kenapa kamu tidak hati - hati Abi..?"


Aira hanya diam hampir saja ia menangis karena jengkel dari tadi kena marah terus "Tuan dari tadi marah - marah terus...saya jadi tidak bisa konsentrasi bekerja.."


"Maaf.. sini aku bantu.." ucap Haiden.


"Aaauuwww pelan - pelan tuan.."


Haiden memutuskan menggendong Aira dan membawanya ke sofa. Setelah itu memeriksa kakinya.


"Jangan tuan.. tidak pantas dilihatnya.. saya cuma pelayan.."


"Ini posisinya kamu luka Abi.. cuma lihat sebentar.."


"Baiklah.."


Haiden memeriksa bagian pergelangan kaki Aira. Memang tampak memerah.


"Aaauuww.. jangan di tekan tuan.. sakit.."


"Hmm.. cuma agak bengkak sedikit.. cukup dikompres es saja.."


"Baiklah kalau begitu saya akan ambil es di bawah tuan.." ucap Aira sambil berusaha berjalan lagi tapi "Aaauuww.." teriak Aira kesakitan. Ia kembali duduk di sofa.


"Dasar keras kepala..!" ucap Haiden. Kemudian menggendong Aira.


"Apa yang tuan lakukan..? turunkan saya tuan.."


"Yang jadi bos disini itu aku.. kamu turuti perintahku.."


"Tuan mau kemana..?"


"Membawamu ke kamar.."


"Tttapi tuan.. ini tidak pantas dilihat oleh pelayan yang lain.." jelas Aira. "Saya disini cuma pelayan tuan.. bagaimana nanti jika mereka membicarakan tuan di belakang.. beranggapan kalau tuan tidak adil dan memperlakukan saya dengan istimewa.."


"Aku bisa memecat mereka.."


"Iya saya tahu tuan punya kuasa disini.. tapi saya mohon jangan dengan mudah mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.." ucap Aira. Haiden terdiam mendengarkan penjelasannya. "Bagaimana nasib keluarga mereka.. mereka tidak bisa makan hanya karena membicarakan tuan di belakang.."


"Baiklah kalau itu maumu.. tapi kali ini kau harus mendengarkan kata - kataku.." ucap Haiden sambil membawa tubuh Aira dan meletakkannya di atas tempat tidur.


"Tttuan.. ini.."


"Ssstt.. sudah diam.. jangan banyak membantah.."


Aira diam mengikuti perintah tuannya. Ia malas berdebat lagi. Ia sudah kesakitan merasakan kakinya. Haiden kemudian keluar dan tak lama membawa kompres es.


"Nih kompres kakimu.." perintahnya. "Aku tinggal mandi.. dan jangan kemana - mana sampai kakimu tidak terasa sakit lagi..


"Baik tuan.."


Haiden ke kamar mandi. Sedangkan Aira mengompres kakinya.


"Oh.. ternyata efek kaki yang sakit bisa mempengaruhi otakmu.."


"Enggak tuan.." ucap Aira kemudian memalingkan muka karena Haiden keluar hanya menggunakan handuk saja. Walaupun sering melihatnya ia masih tampak malu melihat tuannya telanjang dada.


"Kenapa nunduk..?" tanya Haiden sambil memeriksa pergelangan kakinya.


"Tuan telanjang dada.."


"Kan sudah sering lihat.. kamu pria juga sering telanjang dada kan.." pancing Haiden.


"Saya tidak sevulgar itu tuan.."


"Kapan - kapan saya ajak kamu berenang.."


"Jjjangan tuan tidak perlu.."


Haiden tersenyum mendengar jawaban Aira.


"Kenapa kepeleset..?"


"Saya tidak konsentrasi tuan.."


"Karena..?"


"Ya karena tadi tuan tiba - tiba marah.."


"Maaf.."


"Apa tuan saya tidak dengar..?"


"Tidak apa - apa.. syukur kalau kamu tidak dengar.." jawab Haiden. Aira hanya mengangguk - angguk saja. "Ini harus di balut dengan elastic bandage.. tunggu sebentar.." ucap Haiden. Ia mengambil elastic bandage dalam kotak obat dan membalut pergelangan kaki Aira. "Nah sudah selesai.. coba kamu buat jalan.."


Dengan hati - hati Aira turun dari tempat tidur dan mencoba berjalan. Ternyata sudah tidak terasa sakit lagi.


"Sudah tidak begituq sakit tuan.."


"Istirahatlah kamu di kamar.. hari ini tidak usah menemaniku ke kantor.."


"Tidak apa - apa tuan.. ini sudah tidak terasa sakit lagi.. apalagi saya bosan di kamar terus.."


"Dasar keras kepala..!" ucap Haiden.."Baiklah kalau kamu memaksa.."


"Kalau begitu saya bersiap.. permisi tuan.." pamit Aira.


☘☘☘☘☘


"Bagaimana pa..? sudah ketemu sama Aira.." tanya Nungki


"Belum ma.. aku belum sempat.." jawab Baskara


"Apa saja kerjaanmu..? mengurus satu orang saja tidak becus..!"


"Kau pikirkan perasaanku ma.. Aira itu titipan mendiang kakakku.. terus terang aku tidak tega.."


"Coba kamu pikir.. sudah berapa uang yang kita keluarkan untuk biaya hidupnya.. belum lagi biaya rumah sakit ketika dia koma.. itu banyak sekali pa.."


"Tapi perusahaan yang sekarang kita miliki itu sebenarnya milik Aira.."


"Itu sudah sepantasnya.. toh dia juga tidak bisa mengelolanya.. ingat jika perusahaan itu tidak kita kelola sudah gulung tikar sejak lama..! seandainya kamu tidak suka berjudi.. pasti nasib kita tidak seperti ini..!"


"Oh jadi kau menyalahkanku..? jika kamu tidak suka berfoya - foya, Ivanka juga suka barang mahal kita juga tidak akan seperti ini.."


"Sudah - sudah jangan menambah masalah.. sekarang cepat telepon keponakanmu itu.. buat janji dengannya.. setelah itu kau ajak dia ketemu dengan orang yang mau membelinya.." ucap Nungki. "Untuk urusan mencari orang yang mau bayar ratusan juta untuk sebuah keperawanan aku punya kenalan.."


"Bagaimana kalau Haiden tahu..? ia pasti akan sangat marah dengan kita.. dan juga dengan begitu ia pasti tahu kalau kita menipunya selama ini.. mengaku bahwa Aira itu seorang pria.."


"Itu biar dipikirkan caranya oleh ivanka.." ucap Nungki. "Sekarang kau telepon dia buat janji dengannya.."


"Biarkan aku berpikir dulu.."


"Apalagi yang perlu kamu pikirkan.. uang kita sudah menipis.. aku butuh liburan dan Ivanka juga butuh tas dan beberapa baju baru untuk pesta dengan temannya.." jelas Nungki. "Nih cepat kamu telepon.." perintahnya sambil menyerahkan handphone pada Baskara.


Baskara akhirnya mengikuti kemauan istrinya. Ia malas berdebat lagi. Pikirannya seakan buntu tanpa sebuah jalan keluar.


"Halo Aira.."


"Ya om.."


"Bisa om bertemu sebentar denganmu..?"


"Ada masalah apa ya om..?"


"Tidak apa - apa.. om hanya ingin membicarakan masalah hutang ke tuan Haiden.."


"Oh masalah itu.. om akan membayarnya..?"


"Eng.. iiya om akan menyicilnya.."


"Syukurlah.. kalau begitu aku akan minta ijin ke tuan Haiden dulu om.."


"Baiklah.. om tunggu telepon dari kamu.." ucap Baskara sambil mengakhiri panggilannya.


"Bagaimana pa..?"


"Dia mau.. cuma harus menunggu ijin dari tuan Haiden.."


"Tidak apa - apa yang penting dia mau keluar.." ucap Nungki dengan rona bahagia. "Aku akan segera mencari orang kaya yang mau membayar mahal.."


Nungki segera melakukan beberapa panggilan teman - teman sosialitanya untuk bernegosiasi dengan mereka. Tampaknya banyak yang tertarik dengan apa yang Nungki tawarkan..


Baskara menghela napas panjang.. di dalam hatinya seperti berperang.. di satu sisi ia merasa bersalah dengan mendiang kakaknya.. ia telah menyia - nyiakan anak yatim piatu.. tapi di satu sisi ia harus mempertahankan keluarganya.. Baskara menitikkan air mata.. Maafkan perbuatanku kak..


☘☘☘☘☘