My Desire

My Desire
Undangan..



"Aaaacchhh..!" teriak Aira sambil mendorong Haiden menjauh. "Kenapa tuan menggigitku..". Darah segar mulai mengalir dari bibir Aira.


"Tuan.. tuan..tuan.." panggil Aira karena Haiden tiba - tiba tergeletak tak sadarkan diri. Ia turun dari atas meja kemudian mengguncangkan tubuh Haiden "Tuan.. tuan.. tuan.." panggilnya lagi. Heh bayi besar ini merepotkan.


"Tuan.. tuan.. tuan..!!!" kali ini Aira mengguncang dengan sekuat tenaga.


"Hmm..."


Aira berusaha mendudukkan Haiden "Tuan.. ayo tidur di atas.. jangan di bawah nanti masuk angin.."


"Hmm.." hanya itu yang keluar dari mulut Haiden.


Dengan susah payah Aira membuat Haiden berdiri "Ughh beratnya.." tapi bukan Aira namanya kalau pantang menyerah. Akhirnya usahanya membuahkan hasil. Ia berhasil memindahkan Haiden ke tempat tidur. Setelah membersihkan tubuh Haiden dengan air hangat, Aira segera keluar dari kamar.


"Aduh perihnya.." gumam Aira. Ia melihat bibirnya yang terluka di kaca. Dengan mengambil kapas dan alkohol ia membersihkan sedikit darah yang masih menempel di sana.


Setelah selesai membersihkan lukanya. Ia berbaring di atas tempat tidur. Membayangkan kejadian yang baru saja di alaminya. Bisa - bisanya ia menikmati ciuman itu. Ia memanfaatkan tuannya di saat tidak sadar. Aira tersenyum, malu sendiri atas apa yang telah ia lakukan.


Kira - kira tuan haiden ingat tidak ya dengan apa yang telah terjadi. Mudah - mudahan saja tidak, kalau misalnya ingat aku pasti akan malu karena memiliki keberanian untuk membalas ciuman panas nya batin Aira. Ah sudahlah kalau begini cara nya aku tidak akan bisa tidur. Selamat tidur nyenyak tuanku kata Aira di dalam hati sambil memejamkan matanya.


☘☘☘☘☘


"Bagaimana persiapannya..?"


"Hmm.. ini orang - orang yang akan aku undang.." jawab Ivanka sambil menyodorkan beberapa nama.


David menerima dan segera membacanya "Hanya ini saja..?"


"Yah aku mau ini menjadi private party karena Haiden akan menjadi milikku.."


"Are you sure..?"


"Of course.. dengan rencanamu aku yakin dia akan menjadi milikku.."


"Haiden itu sangat pintar Iv.. aku harap kamu jangan terlalu yakin.."


"Kamu ini bagaimana sih.. kenapa malah jadi ragu..?"


"Bukan ragu.. rencana yang kita susun itu sudah sempurna.. tapi ketika kamu melakukannya ada kesalahan sedikit.. maka hancur sudah harapanmu untuk menjadi milik Haiden seutuhnya.."


"Ah sudahlah..! aku yakin aku bisa menjalankannya.." teriak Ivanka sewot. Ia berjalan meninggalkan David sendiri menuju ke balkon.


"Hei.. hei.. hei.." panggil David. Ia tahu Ivanka sedang marah. Segera ia menyusul ke sana "Jangan marah sweety.." ucapnya sambil memeluk Ivanka dari belakang.


"Aku bukan marah.. hanya saja sedikit kecewa karena kau meragukan kemampuanku.."


"Kamu sedikit ceroboh sayang.. sudah berapa usaha yang kau lakukan gagal karena kecerobohanmu.."


"Aku tidak ceroboh hanya saja.. orang - orang di sekeliling Haiden selalu bisa menyelamatkannya dari jeratanku.."


"Siapa..?"


"Noah, Eda dan Aira.."


"Aira..? hmm si cantik itu.."


"Dasar brengsek kamu..!!!"


"Hei jangan marah..! ingat aku tidak suka dengan pembangkang..! disini hubungan kita hanya sebatas simbiosis mutualisme.." teriak David.


"Kau sama sekali tidak menaruh hati denganku David..?"


"Tidak.."


"Sedikitpun..?"


"Yah.. sama sekali tidak.." jawab David dengan tegas. "Aku suka kebebasan Iv.. kau tahu itu.."


"Oh.. aku juga suka kebebasan.. itu tandanya aku bisa pergi dan menjalin hubungan dengan siapa saja..?"


"Tentu saja.. sama sepertiku.. aku menjalin hubungan bebas dengan siapa saja.."


Ivanka hanya diam, ia sedikit kecewa dengan apa yang dikatakan David. Ia pikir akan menjadi ratu dengan banyak pria yang mengaguminya. Ternyata hanya sebatas penyaluran kebutuhan biologis saja. Ivanka menghela napas panjang, kemudian meneguk minuman yang ada di tangannya.


David mulai mencium leher Ivanka. Memeluknya dengan erat dan membisikkan sesuatu di telinganya "Aku ingin.."


Ivanka hanya diam saja dan itu dianggap sebagai jawaban oleh David. Ia segera menggendong Ivanka dan membawanya masuk ke dalam kamar. Mereka berdua melakukan kegiatan panas yang tiada hentinya. Ivanka menjadi liar ketika di ranjang dan David menyukainya. Malam itu hanya ada ******* - ******* manja.


☘☘☘☘☘


Pagi yang cerah ini Aira terbangun dengan tubuh yang lebih segar. Apakah efek dari ciuman panas dengan Haiden atau sebab yang lain entahlah.


Ia segera membersihkan diri. Karena lukanya sudah mengering ia bisa melakukan tugas - tugasnya sebagai pelayan seperti biasa. Kali ini ia menggunakan seragam pelayan khusus wanita, sama seperti pelayan yang lain. Aira menggelung rambutnya serapi mungkin karena Haiden tidak menyukai pelayannya tampil berantakan.


Setelah semua dianggap sempurna dan rapi ia segera keluar kamar dan melakukan aktivitas seperti biasanya.


"Pagi bu Eda.."


"Pagi Aira.." balas Eda. "Lukamu sudah sembuh..?"


"Sudah mengering dan tidak sakit lagi bu.."


"Syukurlah.."


"Kalau begitu aku akan membangunkan tuan.."


Aira segera naik ke atas menuju kamar Haiden. Dengan perlahan ia membuka gorden kamar tuannya itu. Ia tahu Haiden pasti akan pusing ketika bangun nanti. Ia sudah menyiapkan air madu hangat untuknya.


"Tuan.. tuan.. tuan.."


Hanya sedikit pergerakan dari Haiden.


"Tuan.. tuan.. tuan El.."


"Aku masih mengantuk Aira.."


"Ini sudah pagi tuan.. sebentar lagi waktunya sarapan.."


"Kepalaku pusing.."


"Minum air madu dulu tuan.." ucap Aira sambil membantu Haiden duduk. Setelah itu ia segera mengambil air madu dan memberikannya ke Haiden.


"Aduh.. kepalaku pusing.. "


"Apa tuan mau saya pijat sebentar seperti dulu..?"


"Ehmm boleh.."


Aira segera memijat tangan Haiden antara ibu jari dan jari telunjuk. Kemudian sekitar pelipis dan leher bagian belakang.


"Bagaimana sudah agak mendingan tuan..?"


"Hmm.. iya.."


"Apa tuan mau sarapan disini..?"


"Tidak aku akan mandi dan sarapan di bawah.. aku tidak ingin membuat ibu panik.. pasti ia akan mengira aku sakit.."


"Baik tuan.."


"Kamu bantu aku ke kamar mandi.. aku akan berendam sebentar.."


"Baik tuan.." Aira segera menyingkap selimut yang menutupi tubuh Haiden. "Aaacchhh..!!!"


"Aduuuhhh.. kenapa teriak - teriak sih..?!"


"Kenapa tuan hanya memakai ****** ***** saja..? perasaan tadi malam masih memakai baju utuh.."


"Iiya saya mengerti.." jawab Aira. Kenapa aku harus melihat pemandangan ini lagi. Kalau begini caranya bagaimana aku bisa melupakan rasa tertarikku pada tuan batin Aira.


"Ayo.. bantu aku.."


"Bbbaik tuan.." jawab Aira. Dengan sedikit mata terpejam ia membantu tuannya berdiri.


"Hei.. kenapa bibir kamu..?"


"Ee..ee.. bibir ya tuan..?"


"Iya.. itu kenapa bibir kamu terluka..?"


"Oh.. itu karena semalam saya jatuh terpeleset tuan.."


"Kok bisa.."


"Yah namanya juga mengantuk tuan.." jawab Aira sambil membantu Haiden ke kamar mandi. "Saya permisi keluar tuan.."


"Hmm.. tutup pintunya.."


Aira keluar dari kamar. Ia menuju ke walk on closet untuk menyiapkan pakaian Haiden ke kantor.


Sementara itu di dalam kamar mandi Haiden berendam cukup lama. Ia menenggelamkan separuh kepalanya untuk menenangkan pikiran dan menikmati hangatnya air di tubuhnya.


Tunggu sepertinya semalam aku bermimpi berciuman panas dengan Aira. Kami saling membalas, rasa lembut bibirnya masih terasa sampai sekarang dan..."Oh my god.." teriak Haiden di kamar mandi. Ia bangkit dari berendam "Oh shiitt.. ini sungguhan..!"


Yah.. apa yang aku alami adalah sungguhan. Aira pasti malu karena itu ia tidak mau mengakuinya. Haiden tersenyum penuh kemenangan. Ia segera keluar dari kamar mandi.


"Mana bajuku..?"


"Sudah saya siapkan di sana tuan.." tunjuk Aira.


Haiden segera masuk dalam walk on closet. Tak berapa lama ia memanggil Aira untuk masuk "Aira kemari sebentar.."


"Ya tuan.." jawab Aira dan segera bergabung dengan Haiden.


"Kepalaku masih pusing.. tolong pakaian dasi.."


"Oh.. baik tuan.." Aira mengambil dasi dengan warna dominasi merah maron. Akan terlihat tampan jika di pakai oleh tuannya. "Maaf bisakah tuan menunduk sedikit..?"


"Kepalaku pusing Aira.. akan tambah pusing jika menunduk.."


"Oh.. baiklah.. sebentar tuan.." Aira sedikit berjinjit untuk bisa memakaikan dasi di leher Haiden.


Melihat Aira yang kesulitan tiba - tiba Haiden mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atas meja persis seperti kejadian tadi malam. Ini membuat Aira semakin gugup.


"Apa yang tuan lakukan..?"


"Membantumu.." jawabnya. "Kau kesulitan memakaikannya bukan..?"


"Iiiya tuan.." jawab Aira sambil menunduk. Jarak ia dan Haiden sangat dekat. Apalagi bayangan kejadian tadi malam lalu lalang di pikirannya. Ya tuhan kenapa tanganku tremor begini batin Aira menghela napas. Aduh bibir tuan kenapa terlihat begitu seksi pagi ini..


"Benar bibir mu luka karena jatuh..?"


"Bbbenar tuan.."


"Tidak bohong..?"


"Tttidak tuan.."


"Oke aku percaya.." ucap Haiden. Aira seketika bernapas lega. "Apa yang kalian bicarakan kemarin..?"


"Soal apa tuan..?" tanya Aira


"Atasanmu..?"


"Oh pak Gilang.." ucap Aira. "Hanya obrolan biasa tuan.. dulu waktu saya bekerja di cafenya jarang ngobrol dengan pak Gilang jadi ya hanya menanyakan kabar.."


"Benarkah..? bukankah kalian asyik ngobrol dan tertawa..?"


"Dari mana tuan tahu..? apa tuan pulang saat itu..? kenapa tidak ikut bergabung..?"


"Tidak aku tahu dari Eda.."


"Oh.. aku pikir tuan pulang.."


"Kau bahagia bertemu dengan atasanmu..?"


"Biasa saja tuan.. kemarin itu yang membuat suasana lebih berwarna adalah nona Azkara.. ternyata nona pintar membuat lelucon - lelucon.."


"Oh jadi begitu.. bagaimana denganku.. apa kamu bahagia denganku eh maksudku di sini..?"


Aira tersenyum sangat manis. Ia berhenti sejenak dari memakaikan dasi dan memandang Haiden "Tuan El.. saya sangat bahagia bisa berkenalan dengan anda.. hidup saya menjadi lebih berwarna.. bahagia, menegangkan dan juga merasakan kehangatan.. bisa di bilang saya wanita yang sangat beruntung bisa mengenal tuan.."


Haiden menatap tajam mata Aira, ia menemukan kejujuran dari semua jawaban Aira. Ingin rasanya ia ******* bibir itu jika akal sehatnya tidak mencegahnya. Ia kemudian menempelkan keningnya dengan kening Aira.


"Tttuan.. apa yang tuan lakukan..?"


"Biarkan seperti ini.. kepalaku masih pusing.."


"Oh.."


"Lanjutkan memakai dasinya.."


"Bbaik tuan.." jawab Aira. Tak berapa lama Aira selesai memakaikan dasinya.


"Sudah tuan.."


"Terima kasih.." ucap Haiden sambil menurunkan Aira dari atas meja. Haiden keluar dan turun ke bawah untuk sarapan.


☘☘☘☘☘


Sepanjang perjalanan Haiden selalu tersenyum. Tidak seperti kemarin yang suasananya mencekam. Noah dan Tama ikut senang melihatnya. Kerja yang bagus Aira pikir mereka berdua.


Setelah sampai di sampai di lobby Haiden di kejutkan dengan kedatangan Ivanka. Semua mata tertuju padanya karena kecantikannya.


"Pagi Haiden.." sapa Ivanka sambil mencium pipi kanan dan kirinya. "Maaf terpaksa aku datang ke kantormu pagi - pagi.."


"It's okay.. ada apa..?" tanya Haiden. "Ayo duduk di sana.."


"Terima kasih.." ucap Ivanka. "Kedatanganku kali ini untuk mengundangmu ke acaraku.."


"Acara..?"


"Iya.. jadi begini.. aku sudah menyelesaikan progam sarjanaku.. aku berencana membuat yah semacam private party di salah satu klub mewah.."


"Kapan..?"


"Besok malam.. aku hanya mengundang beberapa orang saja dan semuanya teman dekatku.."


"Baiklah.. karena tidak banyak yang datang aku usahakan datang.."


"Thank's Haiden.. kau mau meluangkan waktu untuk datang di pestaku.."


"Tidak masalah jika aku tidak sibuk.."


"Baiklah kalau begitu aku pamit dulu.. sampai ketemu besok malam.." pamit Ivanka sambil mencium kembali pipi kanan dan kiri Haiden.


Haiden memandang kepergian Ivanka "Noah.. selidiki siapa saja tamu yang diundang..? sangat mencurigakan, di saat perusahaan Baskara bangkrut dia malah memiliki uang untuk mengadakan pesta.. cari tahu siapa orang di belakangnya..? apakah seperti dugaanku..?"


"Baik tuan.."


☘☘☘☘☘