
"Eh kita coba wahana itu.." tunjuk Azkara.
"Aduh.. naik itu.."
"Iya.. kita bisa teriak - teriak sepuasnya.. stres langsung hilang.."
"Oke.. kita coba.. siapa takut.." ucap Aira
Mereka berdua menuju wahana permainan roll coster. Aira beruntung sekali memiliki Azkara yang selalu baik padanya.
"Huh.. seruuu.." teriak Azkara. "Ayo kita coba lagi.. hmm bagaimana kalau rumah hantu.."
"Yah sepertinya menarik.."
"Sudah cukup bermainnya.." sebuah suara bariton mengagetkan mereka dari belakang.
"Ttuan.." ucap Aira kaget.
"El..!" teriak Azkara. "Kenapa kamu bisa kesini..?" Azkara pura - pura bertanya.
"Ini sudah sore dan kamu belum pulang.."
"Ooo.oo.."
"Tunggu mana Abi..? dan kenapa dia ada disini..?" tunjuk Haiden.
"Hmm itu.. itu.. Abi tadi pulang ke rumah om Baskara.." ucap Aira berbohong. Ia tidak ingin penyamarannya diketahui oleh Haiden
"Oh.. ternyata dia ijin tidak bekerja karena kencan denganmu.."
"Bbbukan tuan.. maksud saya.. maksud saya.."
"Hah.. sudahlah El.. kalau tidak tahu ceritanya jangan asal menuduh.." ucap Azkara berusaha membantu Aira yang gugup dan ketakutan. Walaupun kadang ia geli dengan kelakuan dua orang ini. "Jadi tadi aku ajak Abi bermain.. tapi karena takut pacarnya salah paham jadi di ajak sekalian.. kalian kenal..?"
"Hmm.."
"Bagus lah kalau saling kenal.. kita bisa bermain bertiga.." saran Azkara.
"Pulang.." perintah Haiden. "Tempat ini terlalu terbuka.. berbahaya untuk kalian.."
"Oh come on El.. ijinkan aku bermain lagi.. sebentar saja.. apalagi bodyguard mu banyak.. oke.. please.."
"Baiklah.." ucap Haiden
"Yes.." teriak Azkara kegirangan. "Yuk Ai kita coba kesana.."
Azkara menarik tangan Haiden dan Aira menuju permainan gokart.
"Kamu mau naik ini..?" tanya Haiden
"Iya.. aku jago lo.." jawab Azkara
"Aira..?"
"Bisa sedikit tuan.."
"Bagaimana kalau kita tanding..?" usul Azkara.
"Boleh.. apa taruhannya..?" tanya Haiden.
"Yang pasti jangan uang.. karena aku tidak punya.." jawab Aira polos.
"Hahahahhahh.." Haiden dan Azkara tertawa bersama.
"Tenang Aira.. kita tidak pernah bertaruh uang tapi lebih ke sesuatu yang menantang.."
"Kalau itu aku setuju.." ucap Aira lega.
"Bagaimana kalau taruhannya kita putuskan pada pemenang. Yang menang bisa meminta yang kalah untuk melakukan apa saja.." usul Azkara
"Aku setuju.." jawab Haiden
"Aku juga.." jawab Aira.
"Kalau begitu tunggu apalagi.. ayo kita main.."
Mereka bertiga bermain gokart. Setelah menggunakan helm dan pengaman lainnya pertandingan pun di mulai.
Untuk putaran pertama Aira yang memimpin.
Ternyata dia jago juga main gokart batin Haiden. Tapi bukan Haiden namanya jika tidak bisa membalikkan posisi lawan..
Untuk putaran kedua Haiden yang memimpin kemudian disusul Aira dan terakhir Azkara.
Sepertinya Azkara hanya omong besar dengan kemampuannya batin Aira. Saat itu ia sedikit lengah yang membuat Azkara mampu menyalipnya. Wah aku tidak boleh kalah batin Aira. Dia mulai menekan pedal gas dalam - dalam. Tetapi karena kurang perhitungan Aira jadi tidak bisa mengendalikan mobilnya dan terperosok menabrak pembatas.
Sekarang pertempuran antara Haiden dan Azkara. Ternyata untuk mengalah di putaran pertama dan kedua adalah taktiknya untuk membaca permainan lawan. Dan sekarang ia berhasil menyalip Haiden dan menang.
"Yeayy..aku menang.." teriaknya kegirangan.
Haiden bermuka masam harusnya ia bisa memenangkan pertandingan ini. Ia ingin memiliki kartu untuk mengerjai Aira.
"Selamat ya Az.."
"Hmm.. kalian pasti tadi meremehkan aku kan.." ucap Azkara. "Sekarang kalian harus melakukan apa pun yang aku minta.."
"Oke.. aku orang yang menepati janji.." ucap Haiden.
"Apa permintaanmu Azka..?" tanya Aira
"Hmm.. nanti aku pikirkan.. yang pasti sesuatu yang menantang.. kalian tidak boleh menolaknya.." pintanya. "Sekarang ayo kita keluar dari sini.."
Aira berdoa mudah - mudahan Azkara bisa berpihak padanya kali ini.
"Kamu tidak apa - apa Aira..?"
"Eh.. saya baik - baik saja tuan.."
"Kenapa kau begitu formal padaku..?"
"Karena tuan atasannya Abi.. tidak sopan rasanya jika saya tidak hormat dengan tuan.."
"Kalau seperti ini kau sama saja seperti pelayanku.. anggap saja kau temannya Azka.."
"Baiklah jika itu yang tuan inginkan.."
"Terima kasih sudah menemani Azka bermain hari ini.."
"Sama - sama ttu.. eh maksud ku Haiden.."
"Panggil saja El seperti Azka dan Abi memanggilku.."
"Apakah tidak apa - apa karena kata Abi panggilan itu hanya untuk orang - orang tertentu saja.."
"It's okay.. kau orang terdekat Abi dan Abi orang kepercayaanku.."
"Baiklah.. El.."
Gila kenapa namaku terdengar indah ketika keluar dari mulutnya batin Haiden.
"Hey..! kalian berdua jangan bengong di sana.. hari ini kalian adalah bawahanku.."
"Oh come on El.. it' a game.."
Mereka bertiga keluar dari arena gokart. Baru berjalan beberapa langkah, Azkara berhenti..
"Kenapa..?"
"Aku sepertinya punya ide yang cukup menantang buat kalian.."
"Kau sudah menemukannya..?"
"Of course kakakku sayang.. tunggu sebentar.."
Azkara berlari ke arah penjual es krim. Dia membeli satu es krim contong dan segera membawanya ke Haiden dan Aira.
"Apa ini..?"
"Es krim El.."
"Buat siapa..?" tanya Haiden lagi
"Ya buat kamu.."
"Eh Azka.. El tidak makan es krim yang ada kacangnya.. dia alergi.." ucap Aira
"Dari mana kamu tahu aku alergi kacang..?" tanya Haiden.
"E.. e.. dari Abi.. dia selalu cerita tentang kamu.." jawab Aira. Heh kenapa sikapku ini tidak bisa menjaga, sering aku berbuat kesalahan dan kadang menimbulkan kecurigaan tuan batin Aira. "Biar aku pesankan lagi.. kata Abi, El suka vanila.." ucap Aira sambil pergi ke toko es krim.
"Kamu kenapa lupa aku alergi kacang, kau mencoba membunuhku..?"
"Calm down El.. aku hanya menguji Aira saja.. sampai dimana dia perhatian dan mengerti dirimu.." jelas Azkara. "Dan terbukti.. point seratus untuk Aira.. kau puas.."
"Hmm.."
"Permainan apalagi yang kau mainkan.."
"Tenang.. lihat saja nanti.. aku yakin kau akan berterima kasih padaku.." ucap Azkara sambil tersenyum. "Satu buah villa tidak akan cukup sebagai hadiah setelah kau tahu rencanaku.."
"Cukup.. dia kembali.."
Tampak Aira berlari kecil menghampiri mereka.
"Nih sudah.. kau bisa memakannya dengan aman El.."
"Tunggu.. tunggu.. jangan terburu - buru Aira.." ucap Azkara. Aira mengerutkan alisnya tanda kurang mengerti. "Jadi karena aku pemenang dalam pertandingan tadi.. aku akan memberikan sebuah tantangan untuk kalian yang kalah.." Azkara menarik napas sejenak. "Jadi kalian harus menghabis es krim ini secara bersama - sama.."
"Aapa..!" teriak Aira tidak percaya. Kali ini Azkara tidak berpihak padanya. Kalau aku harus menghabiskan es krim ini secara bersama - sama sampai habis itu artinya bibirku dan tuan bisa saja saling bersentuhan batin Aira. "Hmm.. Azka bagaimana kalau aku menolak..?"
"Oh tidak bisa.."
"Tapi bagaimana dengan Abi..?" ucap Aira pura - pura dengan memberikan kode lewat matanya.
"It's a game Aira.. kalau Abi tahu aku kira dia akan mengerti.. apalagi dia tahu kau melakukannya bersama tuannya.."
Aduh kenapa Azkara berkata seperti itu batin Aira sedikit kesal.
"Bagaimana El.. kau berani..?"
"Apa permintaanmu tidak bisa diganti..?"
"Tidak bisa.. ini sudah kesepakatan.. dan kalian harus melakukannya.. atau aku akan mengatakan kalau kalian adalah seorang pecundang.."
"Stop.. aku bukan pecundang.." jawab Haiden dan Aira bersamaan.
"Kalau begitu lakukan..!" perintah Azkara sambil menyerahkan es krim itu.
Haiden memegangnya dan mulai mendekatkan tubuhnya dengan Aira "Ayo kita selesaikan tantangan ini dengan cepat.." ucap Haiden. Aira menjawabnya dengan anggukan.
Mereka mulai memakan es krim itu bersama - sama. Bahkan terkadang bibir mereka berdua bersentuhan. "Bibirmu menyentuh bibirku El.." ucap Aira lirih
"Oh sorry.." ucap Haiden yang sepertinya mulai tidak bisa mengontrol dirinya. Bibir Aira yang belepotan terkena es krim ingin rasanya ia bersihkan menggunakan lidahnya.
Mereka mulai lagi. Karena ingin cepat selesai dari siksaan ini Haiden mengambil gigitan yang agak banyak yang berefek pada gigitan di bibir Aira. "Aauuww.. sakit El..!" teriak Aira.
Azkara yang melihatnya tertawa geli melihat kakaknya menjadi gugup dan belepotan es krim. Seorang Kafael Haiden Lukashenko gugup di depan gadis biasa. Ini harus ditulis dalam sejarah. Berbahagialah El doa Azkara.
"Sorry.." ucap Haiden lirih. Entah apa yang menggerakkannya, Haiden menarik pinggang Aira untuk lebih mendekat melahap semua es krim dan tentu saja melahap bibir Aira hingga bersih dari es krim yang belepotan. Aira membelalakkan mata kaget dengan apa yang telah dilakukan tuannya. Tapi anehnya perutnya seperti merasakan ada kupu - kupu beterbangan. Sensasi apa ini kenapa aku ingin lebih dan lebih batin Aira, ia mulai memejamkan mata merasakan setiap sensasi dari bibir tuannya itu. Ia bahkan mulai berani membuka bibirnya.
Azkara melihat sesuatu yang di luar kendali langsung mengambil tindakan "Ehem.. aku rasa es krim di tangan kalian sudah habis.."
Dengan spontan Haiden dan Aira melepaskan pegangannya dan berdiri menjauh.
"Oke karena kalian sudah menyelesaikan tantangan dariku aku anggap taruhan ini selesai.." lanjutnya. "El.. aku lapar, kita makan yuk.." ajak Azkara berusaha melepas kecanggungan yang ada.
"Hmm.." jawab Haiden sambil berjalan. Azkara melangkah menjajarinya sedangkan Aira mengikutinya dari belakang.
"Bagaimana El..? aku rasa hadiah villa terlalu murah untuk apa yang telah aku lakukan padamu.."
"Hmm.."
"Kau senang..?"
"Biasa saja.."
"Jangan bohong.. wajah dan telingamu memerah.. aku tahu kamu sangat menyukainya.."
"Thank's.."
"Sama - sama El.." jawab Azkara. "Aira kenapa kamu di belakang ayo sini.. jangan malu.. ini hanya permainan.."
Yah betul ini hanya permainan tapi kenapa aku begitu menikmatinya. Sampai sekarang jantungku masih berdegup kencang batin Aira.
Mereka bertiga menuju ke sebuah cafe untuk makan malam.
☘☘☘☘☘
"Maaf tuan saya ingin melaporkan sesuatu.."
"Apa yang ingin kau sampaikan..?"
"Saya melihat gadis yang tuan maksud.. setelah melakukan pengintaian dia sepertinya dekat dengan Haiden Lukashenko.."
"Haiden..! aku tidak peduli.. segala sesuatu yang aku sukai harus menjadi milikku.."
"Pertimbangkan lagi tuan.. bagaimana dengan bisnis tuan.."
"Aku tidak peduli.. besok aku harus sudah melihat gadis itu di hadapanku.. mengerti..!!!"
"Mengerti tuan.."
"Pergilah.."
"Baik tuan kami permisi.."
Pria itu tampak hanya menggunakan piyama sambil meneguk se gelas anggur di tangannya.
"Sialan kau Haiden..! kau ingin mengambil milikku..! tidak akan kubiarkan..! Aku Leo akan merebut sampai titik darah penghabisan..!!!
☘☘☘☘☘