
"Noah apa yang kau lakukan disini..?"
"Mengikuti nona.."
"Atas perintah siapa..?"
"Tuan.."
"El..? cepat katakan ada apa sebenarnya..? rencana apalagi yang sedang di jalankan kakakku.."
"Tuan curiga dengan David.."
"Oh god.. sampai segitunya El posesif sama Aira.."
"Bukan hanya itu.. David mungkin telah menyusun rencana karena anda sekarang yang menjadi wakil tuan untuk memenangkan beberapa proyek.."
"Yah.. kalau urusan insting Haiden jagonya.. ia selalu tahu langkah musuh - musuhnya.."
"Ya nona.."
"Jadi karena itu kau mengikutiku..?"
"Ya nona.."
Azkara berjalan untuk kembali ke dalam mobilnya ia akan melanjutkan perjalanan. Akan tetapi Noah mencegahnya..
"Lebih baik nona sekarang pulang.."
"Hei.. kau kira aku takut.. lihat mereka sudah aku kalahkan.."
"Tapi tuan akan khawatir jika mendengar berita ini.."
"Kalau kau diam dia tidak akan tahu.." ucap Azkara tersenyum sambil mengerlingkan matanya. "Aku pergi dulu.."
Dengan cepat Noah menarik tangan Azkara.
"Maaf saya tidak akan membiarkan nona pergi.."
"Oh common Noah.. aku bukan anak kecil.." keluh Aira. "Lihat ini.." Azkara memperlihatkan sesuatu. "Ini alat kejut listrik.. ini semprotan merica.. dan lihat ini.." Azkara membuka rok yang dipakai "Ini senjata.. jadi apa yang harus aku takutkan.."
"Nona seorang wanita.. kalau dikeroyok dua orang mungkin nona berhasil mengalahkan mereka.. bagaimana kalau banyak..?"
Azkara menghela napas panjang "Oke.. oke.. aku mengerti.. tapi aku tetap melanjutkan perjalanan.. kau temani aku saja.."
"Baik nona.."
Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke Bogor. Sebelumnya Noah menelepon beberapa bodyguard untuk membawa pulang mobil yang dikendarainya. Ia juga menginformasikan pada Haiden tentang kondisi dan posisinya.
Selama perjalanan hanya ada keheningan karena Noah memang orang yang jarang bicara.
"Noah.. boleh aku bertanya padamu..?"
"Silahkan nona.."
"Sudah berapa lama kau ikut kakakku..?"
"Hampir sepuluh tahun nona.." jawab Noah sambil terus konsentrasi menyetir.
"Kau tidak ingin berkeluarga..?"
"Tidak.."
"Kenapa..?"
"Saya tidak ada waktu.. yang saya pikirkan adalah keselamatan tuan dan keluarganya.."
"Wow.. kau benar - benar memiliki loyalitas tinggi.."
"Terima kasih nona.."
"Apa tidak ada seorang gadis yang pernah menyukai dirimu..? karena aku lihat kau lumayan tampan.." ucap Azkara. Ia memegang lengan Noah dengan tiba - tiba "Hmm.. ototmu lumayan berisi.." Azkara kembali memegang dada Noah "Hmm.. keras juga.." ucap Azkara.
"Ehem.." Noah berdehem untuk menetralisir kecanggungannya.
"Ada tidak..?" tanya Azkara lagi..
"Tidak ada nona.."
"Itu karena kau orang yang terlalu membosankan sama seperti hidup El.. makanya lama dapat istri.. sekalinya dapat istri bucinnya minta ampun.."
"Ya nona.."
Tiba - tiba handphone Azkara berdering.. Azkara segera melihat nama yang tertera di sana.
"El.." gumamnya lirih. "Kau memberi tahunya..?" tanya Azkara pada Noah.
"Maaf sudah tugas saya nona.."
Azkara segera menerima panggilannya.
"Pulang..!"
"Oh common El.. aku sudah hampir sampai.."
"Aku, ibu dan Aira mengkhawatirkanmu Azka.."
"Kau tenangkan mereka El aku bukan anak kecil lagi.. ada Noah yang menjagaku.."
"Tapi....."
"Kau meragukan kemampuan Noah.."
"Tidak.."
"Bagus kalau begitu aku lanjut ke Bogor dan aku janji akan segera pulang.. oke.."
"Baiklah.. dasar keras kepala.."
"Sepertimu bukan.."
"Bicara yang sopan anak kecil.." ucap Haiden. "Oya aku berterima kasih padamu.."
"Untuk apa..?"
"Kado yang kau berikan untuk istriku.."
Hmm.. kakak ipar telah mencoba rupanya batin Azkara. "Aku tahu kau pasti menyukainya.."
"Hmm.."
"Kakak ipar kelihatan seksi bukan.."
"Sangat.."
"Hahahah.. aku bisa membayangkan bagaimana air liurmu menetes melihat Aira memakai lingerie.."
"Jangan menggodaku.."
"Tidak.. tidak.. aku senang kau sekarang bisa hidup bahagia El.."
"Hmm.. ada sebuah mobil baru.. setelah sampai rumah cobalah.."
"Mobil baru..?"
"Ya.."
"Mini cooper..?"
"Hmm.."
"Warna merah.."
"Sesuai warna kesukaanmu.."
"Yeeaahhh.. terima kasih kakakku sayang.."
"Sering - seringlah belanja bersama Aira.."
"Pasti El.."
"Cepat pulang.." Haiden memutuskan panggilannya.
"Cepat sedikit Noah.. aku sudah tidak sabar melihat mobil baruku.."
"Bodoh kalian..!!!"
"Maaf bos.. ternyata gadis bisa beladiri.."
"Terus..!!! nyali kalian jadi ciut begitu..! plakk.. plak.." pria yang di panggil bos tadi menampar anak buahnya.
"Ampun bos.."
"Besok.. kalian rencanakan dengan matang.. aku tidak mau tahu kali ini harus berhasil.."
"Baik bos.."
"Pergilah..!"
Dua pria yang mencoba menculik Azkara itu keluar.
"Dave aku minta maaf atas kegagalan mereka.."
"Ingat David tidak mau ada kegagalan.."
"Aku jamin.. kali ini anak buahku tidak akan gagal.."
"Bagus.."
"Tapi ada yang aku heran.. kenapa tuan David ingin sekali menculik nona Azkara..? bukankah yang dia suka Aira saudara sepupumu itu..?"
"Azkara sudah menyinggung David.. kau tahu sendiri siapa saja yang sudah menyinggung harga diri David akan jadi mayat.."
"Kenapa kau bekerja dengannya..? bukankah kau pandai menjalankan bisnis..?"
"Pergaulan.. aku terjebak dalam pergaulan yang salah.."
"Maksudmu..?"
"Kau tahu orang tua ku hanya memperhatikan Ivanka.. mereka hanya mengakui dia sebagai anak.. sedangkan aku sering di kesampingkan.." Dave kembali menghisap rokok yang ada di tangannya. "Dulu waktu ada Aira dia yang sering memperhatikanku.."
"Kau menyukai gadis itu..?"
"Ini bukan suka ataupun cinta.. tapi lebih ke kagum akan kemandiriannya.."
"Setelah kehilangannya kau jadi pecandu..?"
"Awalnya tidak aku di jebak Alex dan Varrel di sebuah klub ketika tak sadarkan diri.. hidup ini kejam bro.."
"Orang tuamu tahu..?"
"Tidak mana peduli mereka, yang mereka pedulikan adalah kehilangan Ivanka.. kebetulan aku kenal dengan David dari kakakku.. dari sinilah aku mulai membantu bisnisnya dan imbalannya mendapatkan obat yang aku butuhkan.."
"Yah hidup itu pilihan.. kau memilih jalanmu disini sedangkan aku memilih menjadi tukang pukul.. hahahahh.."
"Nasib mempermainkan kita.."
"Tapi hidup itu pilihan.."
🌸🌸🌸🌸🌸
Sabtu sore yang indah, dengan langit berwarna orange tua menandakan tugas matahari akan digantikan bulan.
Sore yang penuh kejutan karena di kediaman Lukashenko kedatangan tamu sekaligus musuh.
"Selamat sore tuan David.. silahkan masuk.." ucap Eda.
"Terima kasih.."
"Maaf saya Eda pelayan di rumah ini.. Siapa yang tuan cari..?"
"Aku hanya mampir sebentar.. tuan Haiden ada..?"
"Beliau ada di ruang baca.. mari tuan.."
"Terima kasih Eda.."
Eda mengantarkan David dan dua bodyguard ke ruang baca dimana Haiden berada.
"Silahkan masuk tuan.." Eda mempersilahkan.
David hanya masuk sendiri. Eda dan dua bodyguard David menunggu di depan ruang baca.
Haiden duduk di belakang meja sambil memakai headset.
"Tuan Haiden.."
"Oh tuan David.. sudah masuk rupanya.. mari silahkan duduk.." Haiden memerankan aktingnya dengan sangat baik.
"Mari saya bantu.."
"Oh...tidak perlu tuan David.. anda tamu disini.. bagaimana mungkin saya membuat anda repot.."
"Oh saya tidak masalah...membantu orang buta seperti anda akan membawa kebaikan untuk saya.."
"Saya akan memanggil pelayan saya untuk membuatkan minum.." ucap Haiden. "Teh buatannya sangat enak.."
Haiden menekan interkom yang ada di setiap ruangan. "Aira buatkan teh daun mint untuk dua orang.."
Tak lama kemudian dua cangkir teh hangat daun mint siap dihidangkan.
"Sore Aira.."
"Sse..sse..selamat sore tuan David.."
"Letakkan saja di sana.." tunjuk Haiden.
"Baik tuan.." Aira bergegas meletakkan dua cangkir itu di meja. David melihatnya tanpa kedip Haiden yang melihatnya sangat geram, tapi ia tahan demi penyamarannya.
"Terima kasih Aira.." ucap David. Ia langsung mencoba teh buatan Aira " Hmm.. enak.." pujinya. "Benar yang dikatakan tuanmu.."
"Terima kasih tuan.. saya pergi dulu.."
Setelah Aira keluar David kembali fokus pada Haiden.
"Suatu kehormatan anda datang kemari tuan David.."
"Saya hanya ingin tahu keadaan mata tuan Haiden.. maaf baru kali ini saya bisa menjenguk tuan.."
"Tidak apa - apa.. saya yakin akan bisa melihat lagi.."
"Hmm.. selain itu saya juga ingin menyelesaikan masalah hutang keluarga Baskara.."
"Maksud tuan David..?"
"Anda tahu kan kalau Baskara sangat menginginkan keponakannya kembali ke rumah.."
"Benarkah..? kenapa justru saya merasakan kebalikannya.."
"Tidak tuan.. saya tahu Baskara tulus terhadap Aira.. jadi saya akan membantu membayar hutangnya.."
"Maaf tuan David.. saya tidak bisa melepaskan Aira.."
"Maksud tuan haiden..?"
"Aira akan bekerja di tempat saya, ia tidak akan pergi kemana - mana karena ibu saya sangat membutuhkannya.."
"Hahahahhh.." David tertawa dengan kesal. "Saya akan mencari cara untuk membebaskan Aira dari kurungan anda.. saya permisi.."
David segera beranjak dari tempat duduknya dan segera keluar ruangan. Haiden masih mengeratkan pegangannya. Ia begitu marah dengan David yang sudah menabuhkan genderang perang.
Setelah David pulang Haiden segera keluar naik ke atas menuju kamarnya. Dengan tidak sabar ia membuka pintu sambil meneriakkan nama istrinya "Aira.. sayang.."
"Aku disini El.."
"Apa yang kau lak......" belum sempat Haiden menyelesaikan kalimatnya ia sudah tertegun dengan apa yang di lihatnya.
"Kau mencariku sayang.. kemarilah.." goda Aira yang hanya mengunakan bra dan celana berenda. Ada beberapa bulu yang menempel pada bra menambah kesan seksi. "Kenapa diam..? kau tidak menginginkanku..?" ucap Aira manja. Ia meliukkan badannya agar Haiden lebih tergoda. Dan runtuhlah benteng bertahanan milik Haiden.
"Kau yang memaksaku sayang.." ucap Haiden sambil melompat ke atas tempat tidur dan mulai mencumbu istrinya.
"El.. aku selalu menginginkanmu sayang.." bisik Aira lirih. "Aacchh..! puaskan aku.." pinta Aira yang membuat gairah Haiden semakin bertambah. Ia bahkan tidak ada lelahnya ketika bercinta dengan Aira.
🌸🌸🌸🌸🌸