
"Tuan memanggil saya..?"
"Duduklah Eda.."
"Baik tuan.."
"Kau tahu apa yang pernah ditemukan Abi di ruangan ini..?"
"Tahu tuan.."
"Kau tidak berniat melaporkan padaku..?"
"Bukan seperti itu tuan.."
"Aku tunggu penjelasanmu.."
"Saat Abi pertama kali menemukan barang itu, saya sudah curiga bahwa ada yang sudah berani membuat kunci duplikat dan masuk ke dalam ruangan tuan.. akan tetapi saya ingat bahwa ini adalah kunci khusus.. tidak semua orang bisa menduplikatnya.. itu artinya ada dua kemungkinan kunci yang saya pegang dicuri.. atau itu diduplikatkan oleh orang dalam yang mengerti kunci itu.."
"Kunci itu kamu dan Abi yang pegang.. kau curiga padanya.."
"Awalnya tuan.. karena dia direkomendasikan oleh Baskara.. tapi setelah saya tahu bahwa ia tidak tahu benda yang telah ditemukan itu apa.. maka saya coret dari daftar kecurigaan saya.."
"Menurutku ia juga tidak mungkin melakukan itu.. ia cukup setia padaku.." ucap Haiden. "Lanjutkan.."
"Akhirnya saya memutuskan untuk memasang kamera dan itu pun gagal.. mereka telah mengetahuinya.."
"Itu artinya orang dalam bukan..?"
"Iya betul tuan.. agar tidak menimbulkan kecurigaan saya tidak memasang kamera lagi dan menunggu mereka lengah.. oleh sebab itu saya belum berani melaporkan ke tuan karena bukti yang saya peroleh belum kuat.."
"Bagaimana dengan sekarang..?"
"Baru tiga hari kemarin saya memasang kembali kamera sebelum kita berangkat ke Maldives tuan.."
"Dimana kau meletakkan kamera itu..?"
"Dilukisan tuan.." jawab Eda sambil menunjuk lukisan Haiden ketika remaja dan itu awal dia menjadi di dapuk menjadi pemimpin utama bisnis keluarga Lukashenko.
"Kau yakin orang itu tidak menyadarinya.."
"Saya yakin tuan karena orang yang sudah berani masuk ruang pribadi tuan secara sembunyi - sembunyi berarti dia memiliki perasaan tidak suka terhadap tuan jadi dia pasti enggan melihat wajah tuan.."
"Hmm.. masuk akal juga.." ucap Haiden. "Suruh Noah mengambil kamera itu.. apakah benar prediksimu kali ini.."
"Baik tuan.."
Eda segera menyuruh Noah masuk dan memeriksa apakah kamera yang dipasang pada lukisan itu masih ada.
"Masih ada tuan.." lapor Noah dan menyerahkan kamera kecil itu.
"Segera periksa untukku.."
Noah memasang SD ke dalam sebuah laptop dan melihat apa saja yang sudah terekam di sana.
"Ini hasil rekaman dari kamera Eda tuan.."
Haiden melihat dengan seksama, tampak di layar masuklah Bella ke dalam ruangan. Dia mulai melihat sekeliling dan mulai memeriksa dokumen yang ada di atas meja kerja Haiden satu persatu. Cukup lama Bella mencari tapi sepertinya tidak menemukan apa - apa karena semua laci meja terkunci. Hanya Haiden saja yang tahu dimana ia meletakkan semua berkas rahasianya.
Tak lama kemudian masuklah seorang pria yang sangat Haiden kenal. Ya itu adalah Jamal pekerja di rumahnya yang khusus mengurus black kuda kesayangannya. Mereka tampak berciuman yang kemudian berlanjut ke bercinta.
Haiden tampak geram karena pekerja di rumahnya berani - beraninya melakukan hal itu di ruang pribadi miliknya.
"Berani - beraninya ia melakukan hal itu di ruanganku..!!!" teriak Haiden murka.
"Maaf tuan.. ini diluar dugaan saya.."
"Maksud kamu apa Eda..?"
"Maaf tuan saya minta ijin menyampaikan dugaan saya.." Haiden menjawab dengan anggukan. "Jadi mungkin Jamal di jebak karena orang yang bersangkutan sudah tahu gerak gerik dan pola pikir saya. Jadi dia menjadikan Jamal sebagai umpan. Karena setahu saya Jamal tidak merokok dan saat Abi membersihkan ruangan selalu ditemukan puntung rokok.."
"Rokok..?"
"Ya tuan.. dan ini rokok merk luar.. tidak mungkin Jamal bisa mendapatkannya.. rokok ini terlalu mahal.."
"Jadi kau curiga dengan seseorang di keluarga ini..? siapa..?"
"Tuan Kemal.. tapi ini hanya dugaan.. bukti yang saya punya tidak kuat.. maafkan saya tuan.." ucap Eda.
"Tidak apa - apa Eda.. ini bukan pekerjaan yang mudah.."
"Noah kau panggil Jamal dan kau Eda panggil Bella.. begitu aku suruh masuk kau baru masuk.."
"Baik tuan.." jawab Eda dan Noah bersamaan.
Mereka keluar untuk memanggil Jamal dan Bella. Tak berapa kemudian Noah membawa Jamal masuk ke dalam ruang kerja menemui Haiden.
"Kau tahu kenapa aku panggil ke sini Jamal..?"
Jamal dengan wajah pusat pasi hanya menunduk..
"Kau tidak punya mulut Jamal..?" tanya Haiden sambil berdiri dari duduknya dan melangkah menghampiri Jamal yang duduk bersimpuh di bawah. "Jawab...!!!" plak..! plak..! plak..! tiga kali pukulan mendarat di pipinya.
"Ampun tuan.. maafkan saya.."
"Aammpun tuan.. saya salah.. saat itu saya khilaf.. ini juga baru pertama kalinya saya melakukan hal itu.."
"Kau pikir aku percaya..?!"
"Saya berani bersumpah tuan.. saya.. saya memang sudah menyukai Bella sejak lama. Tiba tiba dia mengajak bertemu di suatu tempat dengan alasan juga menyukai saya sejak lama.. tidak tahunya ruang kerja tuan.. semua buktinya ada disini tuan.." ucap Jamal sambil menyerahkan handphone miliknya.
Noah menerima handphone itu dan menyerahkan ke Haiden. Ada bukti foto dan juga percakapan bahwa mereka memang baru saja dekat.
"Aku tahu kinerjamu di rumah ini.. sangat bagus dan disiplin.. ini merupakan kesalahanmu yang pertama.. tapi karena kau sudah berani menginjakkan kaki di ruang kerja.. itu kesalahan yang sangat fatal.." jelas Haiden. "Jadi Jamal saat ini juga kau keluar dari rumah ini..!" usir Haiden.
"Terima kasih tuan untuk tidak memperpanjang masalah ini.. saya betul - betul minta maaf karena tidak tahu diri.."
"Pergilah aku betul - betul kecewa padamu Jamal.."
"Baik tuan permisi.." pamit Jamal. Ia berjalan tertatih dengan muka yang babak belur.
"Noah.. panggil Eda dan Bella.."
"Baik tuan.."
Noah keluar dan segera menemui Eda dan Bella.
"Eda.. apa kau tahu kenapa tuan memanggilku..?" tanya Bella.
Eda terus berjalan tanpa menjawab satu patah kata pun.
Sial..! dasar perempuan tua tidak tahu diri.. awas jika kau sudah tidak menjadi orang kepercayaan tuan batin Bella.
Tok..tok..tok..
"Masuk.." perintah Haiden.
Noah, Eda dan Bella masuk ke dalam ruangan. Tampak Haiden duduk di belakang meja kerjanya.
"Kau tahu ini apa Bella..? aku butuh penjelasan..?" tanya Haiden sambil memperlihatkan rekaman kamera ke Bella.
Bella melihat dengan mata terbelalak tidak percaya bahwa Haiden tahu ia bermesraan dengan Jamal di ruang kerjanya. Ia mencengkeram ujung bajunya dan tertunduk.
"Jelaskan Bella..!!!" teriak Haiden. "Tampar dia Eda, sampai dia mau bicara..!!!"
"Baik tuan.." jawab Eda dan plak..! plak..! Eda menampar pipi Bella sebanyak dua kali.
Dengan sorot mata penuh amarah ia memandang tajam ke arah Eda. Aku pastikan kau membayar kesakitanku ini dua kali Eda batin Bella.
Eda sudah mengayunkan tangannya lagi untuk mulai menampar Bella. "Tunggu..!" teriaknya. "Baiklah tuan saya akan menjelaskannya.." ucap Bella. Ia memutar otaknya mencari alasan yang tepat karena ia melindungi seseorang. "Jadi saya disuruh oleh Alex anak dari chef Antonie. Jika saya bisa menemukan bukti penting tentang tuan dan menjualnya ke musuh maka saya dan Alex akan dapat uang banyak.. jadi malam itu saya masuk ke ruang tuan.."
"Aku beri kau satu kesempatan lagi untuk memberikan penjelasan yang sebenar - benarnya.. tampar dia Eda..!!!"
Plak..! plak..!
"Tuan saya mengatakan yang sebenarnya.. saya berani sumpah.. " ucap Bella sambil terisak - isak.
"Kau pikir aku bodoh.. Alex dipenjara untuk apa uang itu.."
"Dipenjara ia butuh uang yang banyak tuan agar ia bisa makan makanan yang layak.. Chef Antonie sudah tidak pernah mengurusnya.."
"Bagaimana dengan Jamal..?"
"Saat itu setelah saya melihat foto tuan dan mencium aroma tubuh tuan akhirnya saya memutuskan bermesraan dengan Jamal yang saya tahu dia begitu menyukai saya.." ucap Bella. "Terus terang saya sangat mencintai tuan.."
"Apa kau juga yang menaruh obat perangsang diminumanku..?"
"Bbenar tuan.." jawab Bella terbata - bata. "Saya ingin memiliki tuan seutuhnya.."
"Dari mana kau dapat kunci..?"
"Dari seorang pria kenalannya Alex tuan.."
Mendengar penjelasan dari Bella memang banyak yang janggal. Dari mana Bella bisa kenal dengan Alex batin Haiden curiga. "Noah serahkan Bella ke kantor polisi.. dengan alasan pencurian.."
"Apa..! penjara..!" teriak Bella. "Jangan tuan saya mohon.."
"Kau sudah melakukan kesalahan fatal dan berniat mencuri berkasku.. itu sama saja dengan seorang pengkhianat.. orang sepertimu tidak pantas di rumah ini..!" teriak Haiden. "Noah bawa dia ke kantor polisi.." perintah Haiden.
"Tuan.. tuan.. saya mohon.. jangan masukkan saya ke penjara.." Bella terus memohon sambil menangis. Ia bersimpuh dan berusaha memeluk kaki Haiden. Dengan gerakan reflek Haiden menghindar. "Tuan.. saya betul - betul minta maaf.. saya berjanji hal ini tidak akan terjadi lagi.. tolong beri saya satu kesempatan lagi.."
"Tidak..! jangan pernah memberi kepercayaan pada seorang pengkhianat..!!!" ucap Haiden.
Bella dengan berlinang air mata mengepalkan tangannya sebagai tanda emosi. Sial kenapa jadi runyam begini.. aku harus bisa keluar dari rumah ini.. aku tidak mau masuk penjara.. aku pastikan orang kepercayaannya akan melepaskan aku.
Noah dengan paksa membawa Bella keluar dengan tangan terborgol ke mobil polisi yang sudah dipersiapkan. Setelah itu masuk kembali dan menemui Haiden.
"Aku tidak ingin masalah Bella dan Jamal ada yang tahu termasuk Abi.. aku tidak mau dia menjadi beban karena awal laporannya membuat dua orang di pecat.." ucap Haiden sambil melirik Eda.
"Baik tuan.. " jawab Eda dan Noah bersamaan.
"Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bella.." ucap Haiden. " Noah kau selidiki ada hubungan apa antara Alex dan Bella.."
"Baik tuan.." jawab Noah
☘☘☘☘☘