My Desire

My Desire
Hantu Jadi Jadian



Pagi ini matahari tampak malu - malu menyinari bumi. Cuaca sedikit mendung menambah kesejukan udara pagi. Aira terbangun seperti biasa, kali ini ia agak sedikit bersantai karena tidak perlu repot untuk memakai wig ataupun baju pria. Semalam Eda sudah memberikan baju pelayan perempuan untuknya. Walaupun Harika dan Azkara melarangnya tapi karena profesional kerja Aira menolak. Ia tidak mau teman seprofesinya merasa iri karena ia di perlakukan istimewa.


Aneh kenapa parfum tuan awet menempel di tubuhku padahal sudah beberapa hari aku tidak membersihkan kamarnya batin Aira bingung. Ah mungkin ada yang salah dengan hidungku. Ia kemudian ke kamar mandi mencuci muka dan menggosok gigi. Punggungnya masih sakit dan lukanya tidak boleh terkena air jadi ia hanya membersihkan bagian - bagian tertentu.


Tok.. tok.. tok.. suara pintu di ketok


Ah pasti bu Eda pikir Aira "Masuk saja bu.. pintunya tidak di kunci.."


Ceklek.. terdengar pintu di buka.


"Sebentar bu.. aku masih di kamar mandi.." teriak Aira dari dalam kamar mandi. "Duduk saja dulu.. ibu mau membersihkan lukaku kan.."


Tidak ada jawaban dari Eda. Tapi Aira tahu Eda memang orang yang jarang bicara, ia hanya mau bicara seperlunya saja.


Setelah semuanya selesai. Aira menggunakan bathtube saja agar memudahkan Eda membersihkan dan mengganti perbannya.


Ceklek.. "Maaf bu aku agak..." ucapannya terhenti. "Ttuan..?" tanya Aira kaget. "Kenapa tuan bisa ada disini..? saya pikir bu Eda.."


"Ibu sedang tidak enak badan.. Eda dan Sumi sedang mengurusnya.."


"Nyonya Harika sakit..? apa sudah di panggilkan dokter..?


"Sudah.. kau tidak perlu khawatir.. mungkin ibu hanya kecapekan biasa.."


"Oh.." ucap Aira mengangguk - angguk.


Pembicaraan terdiam sejenak. Haiden diam memandangi Aira yang hanya menggunakan bathrube saja. Hal itu membuat Aira menjadi salah tingkah.


"Ttuan sebenarnya mau apa..?" tanya Aira.


"Mau mengganti perbanmu.. bukankah Eda sedang mengurus ibu.."


"Ttidak perlu tuan.. nanti saya ganti sendiri bisa.."


"Yakin..?"


Aira tersenyum malu "Hehehehh.. tidak tuan.."


"Atau mau tunggu sampai lukamu membusuk..?"


"Mana mungkin membusuk.. ini sudah hampir mengering tuan.."


"Makanya aku pastikan dulu.. kalau sudah mengering sih tidak masalah.."


"Ttapi apa tuan bisa..?"


"Kau meremehkanku..?"


"Tidak tuan.. saya tidak berani.."


Aduh bagaimana ini.. lukaku di punggung itu artinya aku harus membuka bajuku sedikit.. tuan pasti akan melihat.. tidak.. tidak.. itu tidak boleh terjadi pikir Aira.


"Kenapa diam..?"


"Hmm.. lebih baik saya tunggu bu Eda sekalian saja tuan.. masalahnya saya belum mandi dan keramas.. pasti akan menyebabkan polusi udara di sekitar tuan.." tolak Aira secara halus.


"Dari dulu badanmu memang bau dan aku tidak mengeluh jadi apa bedanya dengan sekarang..?"


"Ttapi tidak etis kalau tuan melihat tubuh saya.."


"Aku tuan rumah disini.. maksudku baik dan aku pria bermartabat.. kau kira tubuhmu bisa membuatku bergairah.." ucap Haiden. "Kecil, pendek.. percaya diri sekali kau.."


"Ttubuh saya memang kecil tuan.. ttapi kan saya bisa menghalau peluru untuk tuan.." jawab Aira tidak mau kalah. Ia sebenarnya tersinggung dengan ucapan tuannya itu. Memang ia akui tubuhnya tidak se sexy dan se tinggi Ivanka. "Baiklah.. tuan bisa mengganti perbannya.." ucap Aira mengalah. Ia tidak mau berdebat lebih lama lagi dengan tuannya.


"Oke.. jika kamu memaksa.." jawab Haiden.


What.. aku yang meminta.. perasaan dari tadi kamu yang memaksa tuan batin Aira jengkel.


"Ayo duduk sini.." perintah Haiden.


Aira duduk di sofa ia segera membuka bathrubenya sedikit sehingga tampak punggungnya yang putih.


Haiden tampak terpaku sejenak. Bohong jika ia tidak menikmati pemandangan ini.


"Sudah tuan.." ucap Aira membuyarkan lamunannya.


"Oh.. ehmm.. kurang sedikit lagi.."


"Apanya tuan..?"


"Bukanya.."


"Buka apa tuan.."


Hah.. gara - gara punggung saja aku sudah gugup.. tenang El.. kau rajanya menaklukkan para wanita.. tenang kau pasti bisa batin Haiden sambil menarik napas panjang. Dengan perlahan ia menurunkan lagi bathrube Aira sampai terlihat luka nya. Tangan Haiden tampak bergetar dan mulai mengganti perban nya dengan hati - hati.


Sementara itu Aira berusaha keras menahan degupan jantungnya. Ia menarik napas pelan - pelan. Sentuhan tangan Haiden membuat pikirannya traveling kemana - mana.


"Sakit..?"


"Sudah tidak begitu sakit tuan.."


"Lukamu sudah mulai mengering.. aku rasa tiga hari lagi sudah sembuh.."


"Oh.." jawab Aira.


Haiden berusaha menyelesaikannya dengan cepat. Ia tidak bisa lagi mengontrol hasrat dan gairahnya yang muncul hanya dengan melihat punggung dan leher Aira.


"Sudah selesai.. ingat jangan kena air.."


"Baik tuan.." jawab Aira. "Terima kasih.." ucapnya kemudian.


"Hanya itu saja.."


"Maksud tuan..?"


"Tidak apa - apa.. aku keluar dulu.."


"Baik tuan.." ucap Aira sambil membukakan pintu untuk tuannya. Baru beberapa langkah Haiden berhenti sambil menoleh ke arah Aira "Aira.." panggilnya


"Ya tuan.."


"Stempel.. karena aku sudah membantumu mengganti perban.." ucap Haiden sambil berlalu meninggalkan Aira yang masih terdiam.


Gila.. dia yang memaksa ganti perban kenapa minta stempel keakraban.


Aira kesal dan segera menutup pintu. Ah sungguh bosan jika tidak ada kegiatan apa - apa pikir Aira. Atau aku telepon saja Eka atau Nayla.


Akhirnya Aira melakukan panggilan pada kedua sahabatnya itu. Mereka bersendau gurau hingga tak terasa sudah siang. Aira bergegas makan siang dan minum obat dari dokter, karena Haiden selalu mengeceknya.


Huh.. masih bosan.. apa sebaiknya aku ke tempat nyonya Harika saja ya. Bagaimana dengan keadaannya batin Aira. Ia bergegas berganti baju dan memakai sedikit parfum. Mengingat selama beberapa hari ini mandinya tidak sempurna.


"Bu Eda.. bagaimana keadaan nyonya..?"


"Sudah membaik.."


"Boleh aku menjenguknya..?"


"Masuklah.. tadi beliau juga menanyakanmu.."


"Baiklah biar aku yang menjaganya.. bu Eda dan bik Sumi bisa istirahat.."


"Bagaimana dengan punggung mu..?"


"Tidak apa - apa bu.."


"Baiklah titip nyonya sebentar.." ucap Eda.


Eda berpamitan dengan Harika. Aira yang sementara menjaga Harika. Mereka mengobrol panjang lebar bahkan sempat bersendau gurau. Yang terakhir Aira membacakan buku hingga Harika tertidur. Setelah Harika tidur Aira berpamitan dengan Sumi dan kembali ke kamarnya.


Saat itu sudah sangat sore. Aira bergegas membasuh tubuhnya dengan air. Ia lakukan agar lukanya tidak terkena Air. Dengan sangat hati - hati ia berganti pakaian.


"Oahheemm.." Aira menguap. Tubuhku sangat lelah, obat yang diberikan dokter membuat ku mengantuk batinnya. Ia memutuskan untuk memejamkan mata sejenak. Ia tertidur..


Tok..tok.. gludak..gludak..!!!


Aira terbangun dari tidurnya. "Hah suara apa itu..?" gumamnya lirih. Ia melihat jam di atas nakasnya. Saat itu menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


Tok..tok..tok..!!! ada yang mengetuk pintu kamarnya.


Siapa sih malam - malam begini ketok - ketok pintu.. batin Aira.


"Ya sebentar.." jawabnya. Jangan - jangan tuan Haiden ini.


Aira turun dari tempat tidurnya dan segera membuka pintu. Dan ternyata tidak ada siapa - siapa.


Aneh siapa sih yang iseng malam - malam begini. Atau mungkin aku salah dengar.


Aira kembali menutup pintu dan duduk di sofa sambil meminum air.


Tok.. tok.. tok..!!!


Aira meletakkan gelasnya dan menoleh ke arah pintu. Ia segera mengambil handphone dan menyalakan senter. Dengan berlahan Aira berjalan ke pintu dan membukanya. Ternyata tidak ada apa - apa.


Jangan - jangan setan ini pikirnya. Tapi mana mungkin di jaman sekarang masih ada setan. Apalagi ini rumah tuan Haiden tidak ada seram - seramnya justru sangat mewah.


"Siapa..?!" teriaknya. "Jangan main - main ya..!!"


Dengan tangan gemetar Aira keluar sambil menyalakan senter. Ia arahkan cahaya senter itu ke sekelilingnya.


Aneh, sepi tidak ada siapa - siapa batin Aira. Jantungnya mulai berdetak cepat dan tak beraturan.


Kresek..kresek.. gludak.. gludak..!!!


"Ya tuhan..!!" teriak Aira kaget. Ia berusaha tenang dan berpikir secara rasional. Tidak ini bukan hantu batinnya. Ia kembali berjalan lagi sambil terus mengedarkan cahaya senter disekitarnya.


Tiba - tiba.. buugghh.. "Aauuwww.." teriak Aira. Ada yang memukulnya dari belakang tepat di mana ia mendapat luka. Ia meringis kesakitan.


Aira memberanikan diri untuk kembali berjalan, ia ingin tahu siapa yang melakukan ini padanya. Tidak mungkin hantu bisa memukul, ini pasti manusia.


Dengan kilasan cahaya dari senter ia melihat sosok bayangan di pohon dekat taman samping. Tiba - tiba bayangan putih itu muncul.


"Aaacchhh...!!!" teriak Aira ketakutan. Bayangan putih dengan rambut panjang dan tubuh penuh darah mengejarnya. Aira berlari sekencang - kencangnya tanpa menghiraukan lukanya yang terasa perih. Ia berlari tanpa melihat sekelilingnya dan bruukk..!!! ia menabrak sesuatu.


Aira masih memejamkan mata karena ketakutan, napasnya terengah - engah, tapi ia tahu ia menabrak orang.


"Hei siapa itu..!!!"


Teriakan itu suara tuan Haiden batin Aira lega. Ia memeluk tubuh itu dengan erat. Cukup lama ia memeluknya hingga suara itu menyadarkannya


"Kamu tidak apa - apa Aira..?"


"Saya tidak apa - apa.." ucapnya dengan suara bergetar menahan ketakutan.


"Tanganmu dingin.." ucap Haiden. "Ayo sini.." ajak Haiden. Mereka berdua pergi ke dapur. Haiden mengambilkan segelas air untuk Aira. Setelah Aira agak tenang Haiden kembali bertanya.


"Siapa tadi..?"


"Saya kurang tahu tuan.."


"Bagaimana kejadiannya..?"


"Awalnya saya bangun dari tidur karena mendengar ada suara ketok - ketok pintu. Setelah saya buka ternyata tidak ada siapa - siapa.. ini berlangsung sebanyak dua kali.. karena penasaran saya keluar mengecek sekitar.. tiba - tiba ada yang memukul punggung saya.. dan saya yakin itu manusia bukan setan.. saya lanjutkan lagi mengeceknya ternyata bayangan putih penuh darah keluar dan mengejar saya.."


"Betul itu pasti manusia.. sebentar.." ucap Haiden. Ia tampak sedang menelepon seseorang. Setelah selesai ia kembali menghampiri Aira. Tapi wajahnya tampak cemas akan sesuatu "Aira lukamu berdarah lagi.."


"Dari mana tuan tahu.."


"Baju tidurmu ada darahnya.."


Pantas saja perih batin Aira, apa mungkin karena kena pukul tadi. "Ah tidak apa - apa tuan.."


"Tidak.. aku harus memastikan sendiri luka itu tidak apa - apa dan tidak pengaruh terhadap jahitannya.."


Aira hanya diam.. ia kembali meneguk air di tangannya.


"Malam ini kau tidur di kamarku.."


"Uhuk.. uhuk.." Aira terbatuk. "Apa..! tidur di kamar tuan..?!!"


☘☘☘☘☘-