
"Oahhmm.." Aira menguap sambil peregangan otot. Mata mengerjap - erjap, ia menengok ke samping. Dilihatnya Haiden yang masih tertidur pulas. Tangan kekar milik tuannya setia berada di atas tubuhnya. Lama kelamaan Aira menjadi terbiasa dengan aroma tuannya.
Ia terdiam sebelum sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk bangun. Ini tidak benar.. sudah beberapa hari ini aku selalu tidur di kamar tuan. Berawal dari memijat pasti berakhir di tempat tidur. Kalau lama - lama begini penyamaranku akan dengan mudah terbongkar.
Untunglah besok sudah weekend, mudah - mudahan tuan mengijinkan aku keluar menemui om Baskara. Dan juga tugasku untuk memijat akhirnya selesai. Aku tidak bisa melakukan tugas itu terus. Aku tidak mau menjadi terlalu nyaman di dekat tuan batin Aira.
Aira segera mempersiapkan semua perlengkapan baju olah raga dan mandi. Sebelum keluar dari kamar tidur Haiden, ia menghampirinya sebentar sambil membetulkan letak selimut di tubuh tuannya itu yang sempat tersingkap karena ia bangun tadi. "Hmmm.. kalau tidur begini tuan lebih tampan.." bisiknya.
Aira keluar dari kamar untuk membersihkan ruang kerja Haiden sebelum kembali lagi untuk membangunkannya.
"Abi.." sapa Eda
"Selamat pagi bu Eda.."
"Aku perlu bicara padamu.."
"Soal apa bu..?"
"Kemarilah.." ajak Eda masuk ke dalam ruang kerja Haiden. "Abi.. aku lihat beberapa hari ini kau tidak ada di dalam kamarmu.. kau tidur dimana..?"
"Aku ketiduran di kamar tuan.."
"Apa..!" teriak Eda kaget. "Tuan tidak marah..?"
"Tidak bu Eda.. itu juga karena tidak sengaja.."
"Maksudmu..?"
"Awalnya aku ingin minta ijin keluar bertemu om Baskara, tuan memperbolehkan asal harus memijatnya karena akhir - akhir ini tuan susah tidur.."
"Oh.." ucap Eda. "Tapi kenapa harus tidur di kamar tuan.
"Itu dia bu Eda.. ternyata tuan itu tidurnya lama.. aku sudah terlalu capek memijat jadi yang seperti bu Eda lihat.. aku ketiduran di kamar tuan.."
"Kapan - kapan aku akan bicara dengan tuan.. aku tidak ingin kamu jadi bahan omongan pelayan yang lain.."
"Bu Eda tenang saja.. ini sudah selesai.. karena aku harap Sabtu nanti tuan mengijinkan bisa ketemu om Baskara.."
"Baiklah kalau begitu.. lanjutkan pekerjaanmu.."
"Baik bu.."
Aira melanjutkan rutinitas pekerjaannya dan kemudian kembali ke kamar Haiden untuk membangunkannya.
Ternyata ketika itu Haiden sudah bangun.
"Tuan sudah bangun.."
"Hmm.." jawabnya dengan muka bantal. "Hari ini aku malas gym.."
"Oh.. akan saya kembalikan pakainnya tuan.."
"Dari mana kamu..?"
"Membersihkan ruang kerja tuan seperti biasa.."
"Aku akan mandi.. sudah kau siapkan..?"
"Sudah tuan.."
"Keluarlah.. aku ingin berendam cukup lama.."
"Baik tuan.." ucap Aira sambil keluar kamar.
Hah.. kenapa aku frustasi begini.. mungkin nanti malam terakhir dia tidur di kamar ini.. kalau nanti harus memijat setiap hari aku merasa kasihan karena harus kerja melayaniku sampai malam. Bisa - bisa dia nanti malah sakit.. aku harus memikirkan cara bagaimana dia bisa berada di kamarku tiap malam.. tadi pagi saja aku gelisah karena ia sudah tidak ada di sampingku.. ya tuhan apakah yang kurasakan ini adalah rasa mencintai seseorang batin Haiden. Pikirannya kacau sehingga membuatnya malas melakukan aktivitas.
Setelah cukup lama berendam Haiden segera bersiap untuk sarapan. Dengan langkah gontai ia menuju meja makan.
"Pagi bu.." sapanya sambil mencium kening Harika. "Pagi Azka.."
"Pagi kakakku sayang.." balas Azkara. "Sepertinya kamu kurang bersemangat pagi ini.. apa ada masalah.."
"Tidak ada apa - apa.."
"Oh aku tahu.. kamu sakit..?" tanya Azkara yang sepertinya tahu penyebab kakaknya tak bersemangat. Ia sudah bisa membaca gelagat kakaknya.
"Tidak.."
"El.. kau ingat ketika dulu ayah menyuruhmu belajar kau suka pura - pura sakit.. agar kau bebas dari tugasmu.."
"Oh ya.. ibu ingat dan kau membuat kami semua panik dan akhirnya memperhatikanmu.."
"Waktu itu aku jengkel sekali bu.. tidak ada yang perhatian denganku.. semuanya untuk El.. dari makanan, hadiah - hadiah, bahkan ibu sampai harus menemanimu semalaman.. padahal kau cuma pura - pura.."
Deg.. deg.. deg.. Haiden memandang ke arah Azkara. Dan Azkara mengerlingkan matanya seolah memberikan jalan keluar untuknya. Haiden tersenyum penuh arti.
"Aku sudah selesai makan.." ucap Haiden. "Abi.. ikut aku ke ruang kerja.."
"Baik tuan.." ucap Abi sambil mengikutinya dari belakang.
"Aneh kenapa ia tiba - tiba menjadi semangat lagi.." ucap Harika keheranan.
"Nanti pada waktunya ibu akan tahu.."
"Kalian anak muda selalu main rahasia.."
Sementara itu di dalam ruang kerja Haiden.
"Duduk.."
"Baik tuan.."
"Karena beberapa hari ini tidurku menjadi lebih baik berkat mu.. maka aku ijinkan besok kau bertemu dengan Baskara.. tapi ingat tidak menginap.."
"Benarkah..?"
Haiden mengangguk - angguk..
"Terima kasih atas ijin yang tuan berikan untuk saya.."
"Pergilah.."
"Baik tuan saya permisi.."
Aira segera meninggalkan ruang kerja Haiden. Ia menuju ke taman samping. Tampak ia menelepon seseorang.
"Halo om.."
"Ya Aira.."
"Besok aku bisa keluar.. tuan Haiden memberi ku ijin.. cuma aku tidak bisa menginap.."
"Tidak apa - apa Aira.. om sudah senang bisa bertemu kamu walau sebentar.."
"Besok pagi aku dari sini naik ojek langsung ke rumah.."
"Hmm.. tidak.. tidak.. kita tidak bertemu dirumah Aira.."
"Maksudnya..?"
"Tantemu tidak tahu perihal ini.. jadi kita akan bertemu diluar.."
"Dimana om..?"
"Besok akan om kirim lokasinya.."
"Baiklah kalau begitu aku tutup teleponnya om.."
Banyak pertanyaan timbul di pikiran Aira kenapa kalau pertemuan ini sepengetahuan tante Nungki. Apa mungkin karena masalah pembayaran hutang sehingga om Baskara tidak ingin ada yang tahu. Ah sudahlah aku lihat saja besok pikir Aira.
☘☘☘☘☘
"Maaf tuan.."
"Ya Sumi.."
"Apa saya bisa bertemu sebentar dengan non Aira..?"
"Kalau disini panggil dia Abi..!" Haiden memperingatkan
"Maaf tuan.."
"Hari ini dia libur.. aku memberinya ijin bertemu Baskara.."
"Bertemu tuan Baskara.."
"Yah benar.. kemarin Baskara meneleponnya.."
"Tttuan mengijinkannya..?" tanya Sumi gugup
"Tentu saja.. dia keluarganya kan.."
"Aduh kenapa tuan mengijinkannya.."
"Tttapi tuan.. non Aira eh maksud saya Abi bisa saja dalam bahaya.."
"Dalam bahaya bagaimana..? yang jelas kamu.."
"Maaf sebelumnya tuan.. saya pernah mendengar pembicaraan kalau tuan dan nyonya akan menjual non Aira agar mereka mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari nya.. dengan cara mengajak bertemu dan menjebaknya.."
"Apa..!!! kenapa tidak cerita kepadaku dari awal..!!!" teriak Haiden.
"Maaf tuan.. karena saya mendengarnya sebelum kerja disini dan itupun sudah agak lama.."
Braaakkk...!!!! Haiden menggebrak meja karena murka.
"Noah..! noah..! noah..!" teriaknya. Sumi sudah gemetaran
"Saya tuan.."
"Cepat kamu cari keberadaan Aira.. lewat GPS di handphone nya..! cepat..!"
"Baik tuan.." ucap Noah segera melacak keberadaan Aira. Haiden mondar mandir tidak tenang
"Maafkan saya tuan.."
"Aku maafkan kali ini.. tapi jika lain kali informasi sepenting ini tidak kau katakan padaku bukan hanya pekerjaanmu yang hilang tapi juga nyawamu..!" ucap Haiden. "Tahukah kamu betapa pentingnya Aira untukku..!"
Sumi terisak menangis. Ia merasa bersalah jika ada hal yang bisa mencelakai Aira.
"Keluar..!" perintah Haiden.
"Baik tuan.. saya permisi.."
Sumi keluar dari ruangan. Badannya bergetar hebat, wajahnya pucat pasi.
"Kenapa kerjamu lama sekali Noah..! kenapa kau tidak bisa diandalkan..!!"
"Maaf tuan.. handphone Abi model lama.. jaringannya juga kurang bagus.. saya agak kesulitan melacaknya.."
"Kau benar - benar bodoh..!! lacak handphone Baskara.."
"Baik tuan.."
Noah dengan cepat segera melacak keberadaan Baskara.
"Dapat tuan.."
"Dimana..?"
"Di Jalan Hayam Wuruk tuan.. pinggir kota.."
"Ada berapa Hotel dan cafe di sana.."
Noah kembali mengecek hotel dan cafe yang ada disana. "Ada lima hotel dan tiga cafe tuan.."
"Kerahkan semua bodyguard.. lacak ke lima hotel dan tiga cafe itu.. harusnya Baskara ada di salah satunya..!"
"Baik tuan.."
Semuanya bekerja dengan cepat dan ada salah satu berita menggembirakan mereka menemukan keberadaan Baskara di hotel D'Four.
"Kerja yang bagus.. panggil Azkara kemari.."
"Baik tuan.."
Noah segera menemui Azkara.
"Kenapa kau mencariku El..? aku baru berkebun dengan ibu.."
"Kau harus membantuku.."
"Aira..?"
Haiden mengangguk - angguk..
☘☘☘☘☘
"Halo Aira.. kamu sudah sampai.."
"Di hotel D'Four ya om.. ini aku sudah di lobby.."
"Oh ya aku melihatnya.." ucap Baskara sambil melambaikan tangan.
Aira menutup panggilannya dan menghampiri Baskara yang duduk sendirian. Kali ini Aira mengenakan baju yang dibelikan oleh Azkara. Dengan baju floral warna hijau dan rok plisket beludru warna coklat tua
"Ayo kita ke resto hotel ini.." ajak Baskara.
"Mau minum apa..?"
"Orange jus saja.."
Baskara memanggil pelayan dan memesan satu orange jus untuk Aira dan lychee punch untuk dirinya
"Bagaimana kabar kamu..?"
"Baik om.."
"Yah aku bisa melihat.. kau semakin cantik.."
"Terima kasih.."
Pelayan membawa minuman pesanan mereka. "Ayo diminum.."
"Baik om.." ucap Aira. Ia merasa bahagia ternyata Baskara perhatian dengannya. "Oya apa yang ingin om sampaikan..?"
"Jadi Aira om ingin ketemu kamu untuk meminta bantuanmu.."
Aira yang mendengar sedikit kecewa. Kenapa perlu bantuanku lagi. Kapan hutang om Baskara akan lunas batin Aira.
"Bantuan apa om..?"
"Jadi begini Aira.. kau tahu kan omzet perusahaan tidak begitu baik.. hutang om ada dimana - mana.. padahal setiap hari om masih harus menghidupi tantemu, Ivanka dan Dave.."
"Jadi maksud om.. aku harus memberi uang bulanan..?"
"Yah seperti itulah.." jawab Baskara sambil menundukkan kepala karena malu.
"Om sendiri kan tahu.. aku bekerja di rumah tuan Haiden tanpa di bayar sepeserpun dan juga sebagai jaminan.. bagaimana aku bisa dapat uang..?" ucap Aira dengan sedikit emosi.
"Bisa.. kau bisa dapat uang.." ucap Nungki yang tiba - tiba datang dari arah belakang. Ia datang bersama dengan seseorang yang berumur sekitar lima puluh tahunan dan dua orang bodyguard.
"Tante Nungki..?" ucap Aira terkejut.
"Kenapa..? kaget melihat aku disini..?" tanya Nungki. "Tidak perlu kaget.. ini memang rencana kami.."
"Jadi om menipu aku..!" ucap Aira dengan wajah menegang.
"Maafkan aku Aira.. aku terpaksa.."
Aira mengeratkan genggangman tangannya pada kursi untuk menahan emosi.
"Tidak perlu basa basi lagi.." ucap Nungki. "Jadi Aira perkenalkan ini Mr. Leo.. dia temanku. Di Indonesia dia sangat kesepian dan butuh seorang teman wanita yang enerjik, cantik dan tentu saja bisa melayani.. jadi aku perkenalkan padamu.. layani dia dengan baik.." perintah Nungki
"Jadi tante menjual !ku..!"
"Terserah kau mau bilang apa.. Mr. Leo ini mau membayar mahal dan uang itu cukup untuk hidup kami selama satu bulan.."
"Sungguh aku tidak mengira kalian begitu jahat kepadaku..!" teriak Aira. "Om.. tante.. apa salahku hingga kalian tega merusak masa depanku..?!"
"Aira.. maafkan om.."
"Diam kamu..!" teriak Nungki ke Baskara. "Tentu saja salah.. karena dari kecil kamu selalu menyusahkan kami..! mengerti..!"
"Maaf om.. tante kali ini aku tidak bisa menuruti permintaan kalian..! permisi..!" Aira bergegas meninggalkan tempat itu.
"Hei Nungki bagaimana ini..?" ucap Leo.
"Anda tenang saja Mr Leo.." ucap Nungki. "Tangkap dia..!" perintah Nungki ke dua bodyguard.
Mereka segera menangkap Aira. Tapi karena selama tinggal di rumah Haiden. Ia menerima beberapa tehnik untuk melepaskan diri dari penjahat. Maka tidak mudah bodyguard itu menangkapnya. Tapi tiba - tiba kepalanya pusing, tubuhnya melemah dan Aira tersungkur di lantai. Ya tuhan apa yang terjadi dengan tubuhku. Kenapa terasa panas, lemas dan pusing batin Aira.
"Percuma kau melawan Aira keponakanku tersayang.. aku sudah memberimu obat perangsang.." ucap Nungki. "Ayo bawa dia ke kamar.."
"Bagus.. aku akan bersenang - senang.." ucap Mr Leo. "Uangnya akan aku transfer di rekeningmu.."
"Terima kasih Mr Leo.. dan selamat bersenang - senang.."
Dua orang bodyguard segera membawa tubuh Aira yang lemah menuju kamar.
"Tunggu..!"
☘☘☘☘☘